Tren penggunaan skincare semakin menarik perhatian khususnya dari kalangan Generasi Z (Gen Z). Berbagai produk perawatan kulit yang viral di media sosial berlomba-lomba untuk menarik minat anak muda.

Di tengah maraknya tren ini, muncul pertanyaan: apakah skincare benar-benar menjadi kebutuhan untuk menjaga kesehatan kulit atau sekadar mengikuti tren alias fear of missing out (FOMO)?

Bagi sebagian anak muda, menggunakan skincare dimulai dari kebutuhan untuk mengatasi masalah kulit. Namun, paparan konten kecantikan di TikTok dan Instagram serta rekomendasi influencer juga dapat memengaruhi keputusan dalam memilih produk.

Pengalaman Putri Keniza dan Dewi Anggraeni, dua anak muda pengguna skincare, menunjukkan bagaimana kebutuhan perawatan kulit dan pengaruh tren media sosial bisa berjalan bersamaan.

Putri Keniza (22) mengaku mulai rutin menggunakan skincare sejak usia 13 tahun ketika duduk di bangku kelas I SMP.

Dalam rutinitas sehari-hari, Putri menggunakan beberapa produk dasar. "Mulai dari pembersih wajah, toner, pelembap, hingga tabir surya atau sunscreen,"

Ia menganggarkan sekitar Rp250 ribu per bulan untuk kebutuhan skincare. Meski memiliki anggaran khusus, Putri mengakui pernah membeli produk karena viral di media sosial.

Ulasan influencer juga terkadang memengaruhi keputusan dalam mencoba produk tertentu. Namun, bukan berarti ia selalu mengikuti tren.

Putri mengaku tidak merasa takut tertinggal ketika orang-orang di sekitarnya menggunakan produk yang sedang populer. Ia juga tidak tertarik membeli produk viral jika harganya terlalu mahal.

Bahkan, ia pernah merasa kurang percaya diri ketika melihat kondisi kulit orang lain di media sosial. Pengalaman mencoba berbagai produk pun tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu pengalaman mengecewakan adalah proses mencoba berbagai sunscreen hingga akhirnya menemukan produk yang cocok dengan kulitnya.

Putri menyebut produk Skin****4 dan Skin****c sebagai produk yang dipilih karena dirasa cocok dengan kondisi kulitnya. "Kalau produk favorit sudah cocok di kulit, tetap akan saya pakai meskipun sudah tidak viral. Menurut saya, tidak perlu banyak produk. Yang penting basic skincare yang cocok dan rutin digunakan,"

Skincare kini menjadi bagian dari gaya hidup bagi sebagian kalangan. Pengalaman Dewi Anggraeni (28) menunjukkan hal ini.

Dewi mengatakan ia mulai menggunakan skincare saat masa mahasiswa, dengan alasan utama untuk merawat diri.

Ia memilih rutinitas sederhana berupa facial wash, pelembap, dan sunscreen. Pengeluarannya untuk skincare berkisar Rp150 ribu per bulan tanpa anggaran khusus.

"Saya biasanya membeli sesuai kebutuhan dan kondisi keuangan," ungkapnya.

Meski mengakui pernah mencoba produk yang sedang viral, Dewi menyebut keputusan pembelian skincare tetap dipertimbangkan dari segi kecocokan produk terhadap kulitnya.

Ia juga sesekali terpengaruh rekomendasi di media sosial. Menurut Dewi, skincare sekarang bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan merawat diri, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup.

"Menurut saya, skincare saat ini juga menjadi bagian dari gaya hidup karena banyak orang mengikuti tren, mencoba produk populer, dan terpengaruh oleh rekomendasi di media sosial," tuturnya.

Dewi mengaku kerap merasa kurang percaya diri ketika melihat kondisi kulit orang lain di media sosial. Ia pernah membeli produk yang ternyata tidak memberikan hasil seperti harapan hingga mengalami masalah jerawat.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya harus terus mengikuti tren. Ia tetap memilih menggunakan produk yang dirasa memberikan manfaat bagi kulitnya.

Penggunaan skincare oleh Gen Z menunjukkan adanya keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan pengaruh eksternal dari media sosial.

Kedua pengguna skincare ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan untuk ikut tren, mereka tetap menjaga prinsip dalam memilih produk sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing.

Dari sisi finansial, Putri memiliki anggaran lebih besar dibanding Dewi, namun kedua orang tersebut sama-sama menghindari pembelian impulsif yang tidak terkait langsung dengan kebutuhan perawatan kulit.

Pengalaman buruk seperti masalah jerawat atau ketidakcocokan produk menjadi pelajaran berharga bagi keduanya dalam memilih skincare di masa depan.

Kedua pengguna ini menunjukkan bahwa meskipun tren media sosial sangat kuat, kesadaran akan pentingnya kesehatan kulit tetap menjadi prioritas utama.

Bagi Dewi, perawatan kulit tidak harus dilakukan dengan banyak produk sekaligus. .

"Tidak perlu banyak produk. Menurut saya, basic skincare yang digunakan secara rutin saja bisa cukup," katanya. .

Pengalaman Putri dan Dewi menunjukkan bahwa alasan menggunakan skincare tidak selalu sama. .

Kebutuhan merawat kulit dapat menjadi titik awal, sementara tren dan rekomendasi media sosial ikut memengaruhi pilihan produk. .

Namun, keputusan untuk terus mengikuti tren tetap bergantung pada pertimbangan masing-masing individu. .

Dokter Kulit Ingatkan Risiko Mengikuti Tren Tanpa Memahami Kebutuhan Kulit .

Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr Berliana Kurniawati MKed Klin SpDVE, dari Esther Aesthetic Clinic Surabaya, menilai meningkatnya perhatian anak muda terhadap kesehatan kulit sebagai hal positif. .

Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya membedakan kebutuhan perawatan kulit dengan dorongan mengikuti tren. .

"Tren skincare ini cukup positif karena anak muda semakin peduli dan aware terhadap kesehatan kulit. Namun, tantangannya adalah membedakan antara merawat kulit karena kebutuhan atau membeli produk karena FOMO," jelasnya. .

Menurutnya, penggunaan banyak produk tidak otomatis membuat kulit menjadi lebih sehat. .

Hal terpenting adalah memilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dan menggunakannya secara konsisten. .

"Kulit tidak butuh produk sebanyak mungkin, tetapi produk yang tepat sesuai kebutuhannya. Skincare yang sederhana, konsisten, dan sesuai jenis kulit justru bisa memberikan hasil yang baik," terangnya. .

Ia menjelaskan, penggunaan terlalu banyak produk sekaligus dapat meningkatkan risiko iritasi, kulit kering, kemerahan, hingga munculnya jerawat. .

Penggunaan yang tidak tepat juga berpotensi mengganggu lapisan pelindung kulit atau skin barrier. .

Selain itu, penggunaan sejumlah bahan aktif tanpa memahami konsentrasi, cara pemakaian, dan kecocokannya dapat memicu iritasi serta membuat kulit lebih sensitif. .

Karena itu, pihaknya mengingatkan agar anak muda tidak menjadikan popularitas suatu produk sebagai satu-satunya pertimbangan sebelum membeli skincare. .

"Setiap orang memiliki jenis, kondisi, dan sensitivitas kulit yang berbeda. Produk yang cocok untuk influencer belum tentu cocok untuk kita. Jadi, jadikan media sosial sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai patokan utama memilih skincare," ujarnya. .

Basic Skincare Bisa Menjadi Langkah Awal .

Bagi anak muda yang baru mulai merawat kulit, dr. Berliana menyarankan agar rutinitas skincare dilakukan secara sederhana sesuai kebutuhan. .

Pada pagi hari, perawatan dapat mencakup pembersih wajah bila diperlukan, pelembap sesuai kondisi kulit, serta sunscreen minimal SPF 30. .

Sementara pada malam hari, pembersih wajah dan pelembap dapat menjadi bagian dari rutinitas dasar. .

Produk tambahan dapat dipertimbangkan apabila terdapat kebutuhan tertentu, misalnya untuk membantu menangani jerawat atau masalah pigmentasi, dengan memperhatikan keamanan dan petunjuk penggunaan. .

Ia juga menyarankan anak muda dengan anggaran terbatas untuk memprioritaskan produk dasar yang memang diperlukan, alih-alih membeli satu rangkaian produk lengkap hanya karena sedang populer. .

"Lebih baik memiliki sedikit produk yang tepat dan digunakan secara konsisten daripada banyak produk yang tidak diperlukan," tegasnya. .

Sebelum mencoba produk yang direkomendasikan influencer, masyarakat juga diimbau memeriksa komposisi, keamanan, dan izin edar BPOM. .

Pengalaman pengguna lain dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi bukan jaminan bahwa produk tersebut akan memberikan hasil yang sama pada setiap orang. .

Apabila jerawat meradang, meninggalkan bekas, atau masalah kulit terus berulang, konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu menentukan perawatan yang sesuai. .

Pada akhirnya, mengikuti tren skincare bukanlah hal yang selalu keliru. .

Namun, keputusan membeli produk sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, kondisi kulit, keamanan, dan kemampuan finansial, bukan semata-mata karena takut ketinggalan tren. .

Sebab, kulit yang sehat tidak harus dirawat dengan produk terbanyak atau yang paling viral, melainkan dengan perawatan yang tepat dan konsisten.