Desainer ternama Anne Avantie bersama Komunitas Kebaya Menari meluncurkan misi budaya dan religi bertajuk "Tresna Suci" di Grha Besuki, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026).

Inisiatif ini menyampaikan pesan kasih, iman, dan perdamaian dari Indonesia ke Republik Ceko melalui karya busana spesial yang dirancang sebagai persembahan untuk patung Kanak-kanak Yesus di Church of Our Lady Victorious, Praha. Jubah tersebut akan diserahkan pada 1 November 2026 mendatang.

Tidak hanya menjadi karya seni dan busana, persembahan ini juga melambangkan diplomasi budaya Indonesia yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan antarbangsa.

Melalui "Tresna Suci", Anne Avantie dan Komunitas Kebaya Menari berupaya membuktikan bahwa kekayaan budaya Nusantara bisa menjadi alat komunikasi global yang universal.

Pesan yang ingin disampaikan tidak hanya terbatas pada keindahan kain tradisional, tetapi juga menyentuh nilai-nilai spiritual yang dapat diterima oleh masyarakat dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda.

Peluncuran yang berlangsung di kawasan Menteng tersebut menjadi langkah awal menuju perjalanan misi ke Praha. Komunitas Kebaya Menari yang diinisiasi oleh Yanti Moeljono dan Marianti berharap persembahan ini dapat memperkenalkan Indonesia melalui pendekatan yang lebih personal, yakni lewat karya yang mengandung cerita, doa, dan pesan perdamaian.

Anne Avantie Rangkai Kain Perca Menjadi Persembahan Penuh Makna

Salah satu hal yang membuat "Tresna Suci" berbeda adalah material yang digunakan dalam proses pembuatannya. Alih-alih memilih kain baru dengan bahan mewah, Anne Avantie justru memanfaatkan potongan-potongan kain batik atau perca yang berasal dari berbagai perjalanan spiritual.

Pilihan tersebut bukan sekadar keputusan artistik. Bagi Anne, setiap potongan kain menyimpan cerita dan memiliki nilai tersendiri. Material yang kerap dianggap sebagai sisa produksi itu justru memiliki potensi untuk dirangkai menjadi karya yang sarat makna.

Melalui pendekatan tersebut, Anne ingin menyampaikan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana atau tidak lagi dianggap bernilai tetap dapat menghasilkan keindahan ketika diperlakukan dengan ketulusan. Filosofi itu juga menjadi gambaran tentang kehidupan manusia.

Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan perjalanan hidup yang unik. Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan dapat dijadikan kekuatan jika disatukan dengan kasih sayang.

Anne Avantie menjelaskan bahwa proses kreatif dalam menciptakan karya seni ini melibatkan dimensi spiritual yang tak terpisahkan dari hasil akhirnya.

"Saya ingin ketika kita membuat sesuatu itu ada nyawa. Ketika membuat sesuatu, saya merasa ada sisi spiritual. Saya mencoba merangkai serpihan-serpihan kehidupan. Saya tidak membuat dari bahan utuh, tetapi dari perca-perca kain yang berbeda-beda," Anne Avantie di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Anne memandang pekerjaannya bukan hanya sebagai aktivitas merancang pakaian. Setiap detail, mulai dari pemilihan bahan, proses menyatukan potongan kain, hingga tujuan akhir karya, mengandung pesan tertentu.

Dalam proyek "Tresna Suci", kain perca menjadi simbol bahwa sesuatu yang berasal dari berbagai sumber tetap bisa membentuk satu kesatuan tanpa harus menghilangkan ciri khas masing-masing bagian.

Filosofi Jarum dan Gunting, Pesan Anne Avantie tentang Persaudaraan Pesan utama yang disampaikan oleh "Tresna Suci" diungkapkan melalui ungkapan sederhana namun bermakna dalam: "Jadilah jarum yang MENYATUKAN, jangan menjadi GUNTING yang MEMISAHKAN.". Ungkapan ini menjadi inti filosofi dari karya yang dibuat oleh Anne Avantie. Jarum dan gunting adalah dua alat yang biasa digunakan dalam dunia menjahit, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Jarum dipakai untuk menyatukan potongan kain dengan menggunakan benang, sedangkan gunting berfungsi memotong dan memisahkan bahan. Keduanya diperlukan dalam proses menjahit, namun dalam filosofi "Tresna Suci", jarum dijadikan metafora untuk tindakan yang menghubungkan perbedaan. Sebaliknya, gunting merepresentasikan sikap yang dapat menimbulkan jarak, konflik, dan perpecahan jika digunakan tanpa pertimbangan bijak. Dengan menggunakan simbol ini, masyarakat diajak untuk mempertimbangkan peran mereka dalam kehidupan sosial. Apakah kehadiran seseorang bisa menjadi penghubung yang menyatukan perbedaan, atau justru memperlebar jurang pemisah antara kelompok satu dengan lainnya? Pesan ini sangat relevan di masa kini, ketika masyarakat modern menghadapi berbagai tantangan akibat perbedaan pendapat, identitas, dan keyakinan yang seringkali menjadi pemicu ketegangan.

Filosofi Jarum dan Gunting, Pesan Anne Avantie tentang Persaudaraan Pesan utama dari "Tresna Suci" dirangkum dalam kalimat sederhana namun bermakna mendalam: "Jadilah jarum yang MENYATUKAN, jangan menjadi GUNTING yang MEMISAHKAN.". Kalimat ini menjadi inti filosofi karya yang dibuat oleh Anne Avantie. Dalam dunia menjahit, jarum dan gunting adalah dua alat yang umum digunakan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Jarum digunakan untuk menyatukan potongan kain melalui benang, sedangkan gunting berfungsi memotong dan memisahkan material. Keduanya diperlukan dalam proses menjahit, namun dalam filosofi "Tresna Suci", jarum dijadikan metafora untuk tindakan yang menyatukan perbedaan. Sementara itu, gunting menggambarkan sikap yang berpotensi menciptakan jarak, pertentangan, dan perpecahan jika digunakan tanpa kebijaksanaan. Melalui simbol ini, masyarakat diajak merefleksikan peran mereka dalam kehidupan sosial: apakah kehadiran seseorang bisa menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan, atau justru memperbesar permasalahan yang memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain? Pesan ini sangat relevan di tengah berbagai tantangan masyarakat modern, ketika perbedaan pandangan, identitas, dan keyakinan seringkali menjadi sumber ketegangan.

Anne dan Komunitas Kebaya Menari berupaya menunjukkan bahwa perdamaian tidak harus dimulai dari langkah yang besar. Sikap saling menghargai, kesediaan mendengarkan, serta keinginan untuk menerima perbedaan menjadi komponen penting dalam menciptakan hubungan yang lebih harmonis.

Kain perca dengan motif dan asal yang beragam dalam karya ini secara nyata merepresentasikan gagasan tersebut. Setiap potongan tetap mempertahankan ciri khasnya sendiri, namun dapat membentuk keindahan ketika disatukan menjadi satu kesatuan.

Oleh karena itu,

Gereja tersebut dikenal sebagai tempat devosi kepada Kanak-kanak Yesus Praha dan menjadi salah satu tujuan ziarah umat Katolik dari berbagai negara.

Pemilihan lokasi tersebut memberikan dimensi tersendiri bagi misi yang digagas Komunitas Kebaya Menari. Indonesia akan memperkenalkan warisan budaya melalui sebuah persembahan yang memiliki fungsi dan makna religius, bukan semata-mata melalui pameran atau pertunjukan seni.

Bagi penyelenggara, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya Indonesia memiliki ruang untuk berdialog dengan tradisi dan keyakinan masyarakat internasional.

Kekayaan tekstil Nusantara, khususnya batik, memiliki nilai estetika sekaligus merekam perjalanan panjang tradisi masyarakat Indonesia. Ketika potongan-potongan kain tersebut dirangkai menjadi jubah persembahan, karya itu membawa cerita mengenai kreativitas, keberagaman, dan ketulusan.

Misi ini juga menjadi gambaran diplomasi lunak atau soft diplomacy, yakni pendekatan untuk membangun hubungan dan pemahaman antarmasyarakat melalui budaya, seni, serta nilai-nilai yang dimiliki bersama.

Melalui pendekatan ini, Indonesia tidak hanya dipresentasikan melalui ciri khas geografis atau kekayaan alamnya. Masyarakat global juga diajak memahami nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, seperti semangat gotong royong, penghargaan terhadap perbedaan, serta jiwa persaudaraan yang kental.

Ketua Panitia, Maryati, menjelaskan bahwa pakaian yang ditampilkan dalam misi ini bertujuan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam dibanding sekadar keindahan estetisnya.

"Jika sebuah busana dapat berbicara, pesan apa yang akan disampaikan ke dunia. Hari ini kami tidak hanya ingin memperkenalkan busana sari Indonesia. Kami ingin menyampaikan tentang iman, kasih dan perdamaian. Sebuah pesan kasih dari Indonesia, yang dipersembahkan kepada anak-anak Yesus di Praha. Ada satu kalimat yang menjadi inti dari inisiatif ini. Bukan sekadar busana, tapi sebuah persembahan," ungkap Maryati.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa karya

Di balik persiapan "Tresna Suci", terdapat partisipasi berbagai pihak dengan peran yang berbeda-beda. Para penggiat kebaya, seniman, panitia, serta tokoh agama bekerja sama untuk memastikan karya tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga selaras dengan pesan rohani yang ingin disampaikan.

Marianti, sebagai Ketua Misi Religi, mengelola aspek spiritual dalam rangkaian kegiatan tersebut. Perannya sangat krusial untuk memastikan bahwa tujuan utama misi tetap berfokus pada pesan kasih, iman, dan perdamaian.

Kolaborasi ini juga menunjukkan bagaimana kegiatan budaya dapat menjadi jembatan pertemuan bagi individu dengan latar belakang dan keahlian yang beragam. Hal ini menciptakan ruang untuk saling memahami dan bekerja sama dalam satu tujuan bersama.

Dalam konteks misi ini, kebaya dan batik tidak hanya dipandang sebagai simbol identitas nasional. Keduanya juga menjadi medium untuk memperkuat diskusi mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas-batas negara.

Melalui kolaborasi lintas iman dan generasi ini, Tresna Suci menjadi contoh nyata bagaimana seni dan budaya dapat berperan dalam membangun harmoni sosial serta menyatukan berbagai perspektif dalam upaya menciptakan dunia yang lebih damai.

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa upaya merawat perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan juga dapat dilakukan oleh komunitas, pelaku seni, dan individu melalui bidang yang mereka kuasai. Melalui karya seni "Tresna Suci", Anne Avantie bersama Komunitas Kebaya Menari berupaya membuktikan bahwa seni mampu menjadi titik temu yang menghubungkan perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing pihak. Anne Avantie Mengungkap Peran Sang Ibu dalam Proses Pembuatan Karya Di balik filosofi dan perjalanan internasionalnya, proses pembuatan "Tresna Suci" juga menyimpan kisah pribadi bagi Anne Avantie. Ia mengakui bahwa karya tersebut tidak dibuat dalam kondisi yang sepenuhnya ideal. Material yang digunakan terdiri dari potongan-potongan kain berbeda, sementara proses pengerjaannya melibatkan situasi yang membuat Anne tidak selalu dapat memegang atau mengawasi langsung seluruh material.

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa upaya merawat perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan juga dapat dilakukan oleh komunitas, pelaku seni, dan individu melalui bidang yang mereka kuasai. Melalui karya seni "Tresna Suci", Anne Avantie bersama Komunitas Kebaya Menari berupaya membuktikan bahwa seni mampu menjadi titik temu yang menghubungkan perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing pihak. Anne Avantie Mengungkap Peran Sang Ibu dalam Proses Pembuatan Karya Di balik filosofi dan perjalanan internasionalnya, proses pembuatan "Tresna Suci" juga menyimpan kisah pribadi bagi Anne Avantie. Ia mengakui bahwa karya tersebut tidak dibuat dalam kondisi yang sepenuhnya ideal. Material yang digunakan terdiri dari potongan-potongan kain berbeda, sementara proses pengerjaannya melibatkan situasi yang membuat Anne tidak selalu dapat memegang atau mengawasi langsung seluruh material.

Anne mengungkapkan bahwa saat berada di Jakarta, semua barang terkait proses pembuatan karya tersebut berada di Semarang.

Hal ini justru membuatnya memandang proses kreatif sebagai sebuah perjalanan yang melibatkan kepercayaan dan ikatan emosional, bukan hanya kemampuan teknis.

"Hari ini saya mengantarkan sebuah karya yang pasti tidak sempurna, apalagi dari bahan-bahan sisa. Ada sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan buat ini. Saya di Jakarta, barangnya di Semarang, tidak bisa megang. Ada tangan ibu saya itulah yang menjadi magis," kata Anne.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dimensi personal dalam perjalanan "Tresna Suci". Ibu menjadi sosok penting yang menyertai proses pembuatan karya tersebut.

Bagi Anne, kesempurnaan sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan atau cara proses berlangsung, melainkan juga nilai-nilai seperti ketulusan, hubungan keluarga, dan keyakinan terhadap makna yang ingin disampaikan.

Kisah ini juga memperkuat gagasan bahwa karya seni bisa menjadi sarana untuk menggabungkan berbagai pengalaman hidup. Potongan kain, partisipasi keluarga, dan tujuan spiritual bersatu membentuk bagian dari perjalanan yang lebih besar.

Renungan dan Pujian Menyertai Peluncuran Tresna Suci

Peluncuran "Tresna Suci" di Grha Besuki pada hari Selasa, 20 Oktober 2026, tidak hanya dilakukan melalui konferensi pers dan presentasi karya.

Rangkaian acara juga disusun sebagai tempat untuk merenungkan bagi para tamu undangan. Setelah penjelasan mengenai tujuan dan filosofi karya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi renungan dan pujian bersama pada sore hari.

Acara ini dipandu oleh Sitawati Ken Utami. Diskusi yang berlangsung menjadi kesempatan untuk membahas bagaimana kain Nusantara dapat memiliki peran lebih luas sebagai alat diplomasi budaya.

Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap masyarakat dapat memahami bahwa kain tradisional tidak hanya mengandung nilai sejarah dan estetika, tetapi juga berpotensi menjadi alat untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam.

Perjalanan ke Praha pada 1 November 2026 yang akan datang diharapkan dapat melanjutkan pesan yang telah diperkenalkan di Jakarta sebelumnya.

Penyelenggara berkeinginan agar persembahan tersebut diterima sebagai lambang ketulusan dan persaudaraan, sekaligus memperkenalkan kreativitas Indonesia kepada masyarakat internasional serta para peziarah yang mengunjungi Gereja Our Lady Victorious.

Tresna Suci: Pesan Kasih dari Indonesia untuk Dunia

Pada akhirnya, "Tresna Suci" mengusung gagasan bahwa diplomasi tidak selalu harus dilakukan melalui pertemuan resmi, perjanjian politik, atau kerja sama ekonomi yang biasa dilakukan.

Budaya dan seni memiliki potensi besar untuk mempererat hubungan antar masyarakat. Sebuah karya yang tercipta dari potongan kain sederhana bisa menyampaikan pesan yang lebih luas jika dikerjakan dengan tujuan yang jelas.

Melalui karya jubah persembahan, Anne Avantie bersama Komunitas Kebaya Menari berupaya menghubungkan warisan tekstil Indonesia dengan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan yang bersifat universal.

Setiap potongan kain dalam karya tersebut seakan menjadi pengingat bahwa perbedaan adalah bagian alami dari kehidupan. Tantangan bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan menemukan cara agar keberagaman dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Pesan "Jadilah jarum yang MENYATUKAN, jangan menjadi GUNTING yang MEMISAHKAN" menjadi pengingat bahwa perdamaian membutuhkan partisipasi dari setiap individu. Dari Jakarta hingga Praha, karya "Tresna Suci" membawa harapan bahwa kasih sayang dan persaudaraan dapat melampaui batas geografis maupun identitas budaya.

Sebuah persembahan dari Indonesia yang lahir dari kain perca, disusun dengan tulus, dan menghadirkan satu pesan utama: perbedaan tidak harus berujung pada perpecahan karena selalu ada benang yang mampu menyatukan.