Bagi jemaah Indonesia yang pernah melaksanakan ibadah haji atau umrah, persoalan akomodasi di Tanah Suci kerap menjadi sumber kekhawatiran utama. Pertimbangan seperti jarak tempuh dari Masjidil Haram, ketersediaan ruang kamar, serta harga yang sesuai dengan anggaran sering kali menjadi faktor penentu kenyamanan selama beribadah. Namun kini, muncul kabar menjanjikan yang dapat menjadi angin segar bagi para jemaah. Danantara Indonesia secara resmi telah memperoleh aset properti berupa hotel di Makkah, Arab Saudi, lengkap dengan lahan seluas 4,4 hektare (ha) yang disiapkan untuk pengembangan kawasan terpadu guna mendukung kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Properti pertama yang telah berhasil diakuisisi adalah Novotel Thakher Makkah, sebuah hotel berkapasitas 1.461 kamar dan suite. Hotel ini telah resmi diserahkan kepada Danantara Indonesia pada tanggal 11 Agustus 2026. Penting dicatat bahwa properti ini bukan merupakan proyek baru yang sedang dalam tahap pembangunan, melainkan fasilitas yang sudah beroperasi secara penuh dan telah melayani tamu sebelumnya. Dengan jumlah kamar yang signifikan, hotel ini memiliki kapasitas besar untuk menampung jemaah, terutama pada periode musim ibadah yang padat.
Akuisisi dilakukan melalui PT Danantara Investment Management (DIM), sebuah holding investasi milik Danantara Indonesia. Keberadaan hotel dengan kapasitas sebesar itu sangat strategis, karena dapat membantu mengurangi tekanan terhadap ketersediaan akomodasi di wilayah Makkah, khususnya bagi jemaah asal Indonesia yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Hal ini juga menunjukkan komitmen kuat Danantara dalam memperkuat infrastruktur pendukung ibadah haji dan umrah.
Selain properti hotel, Danantara Indonesia juga telah menyelesaikan akuisisi lahan seluas 4,4 hektare di kawasan Thakher Makkah pada tanggal 18 Oktober 2026. Berdasarkan informasi yang dirilis saat kesepakatan pertama kali diumumkan pada Desember 2025, lahan tersebut terdiri atas 14 bidang tanah yang terpisah. Lahan ini direncanakan menjadi bagian dari rencana induk pengembangan kawasan terpadu yang mencakup sektor perhotelan, ritel, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Rencana pengembangan kawasan ini menunjukkan potensi besar, dengan perkiraan kapasitas hingga sekitar 5.000 kamar hotel. Namun demikian, angka tersebut masih bersifat proyeksi dan tergantung pada hasil studi kelayakan serta persetujuan lebih lanjut dari otoritas terkait. Kawasan ini akan menjadi bagian dari ekosistem haji dan umrah yang dikenal sebagai Kompleks Bait Jemaah, yang dirancang untuk menyediakan akomodasi dan fasilitas pendukung secara terintegrasi bagi jemaah.
Perjalanan transaksi ini berlangsung dalam waktu yang cukup panjang. Dua akuisisi tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan strategis antara Danantara Indonesia dan Thakher Development Company, yang diumumkan pada 14 Desember 2025. CEO Thakher Development, Faisal Shaker, menyatakan bahwa proses dari penandatanganan hingga peralihan hak kepemilikan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10 bulan, sesuai rencana awal.
Secara kronologis, rangkaian kejadian tersebut dapat dirangkum sebagai berikut: pada 14 Desember 2025, kesepakatan strategis antara kedua pihak diumumkan; kemudian pada 11 Agustus 2026, Novotel Thakher Makkah resmi diakuisisi dan diserahkan; pada 18 Oktober 2026, akuisisi lahan seluas 4,4 ha selesai; dan pada 20 Oktober 2026, Danantara Indonesia mengeluarkan keterangan tertulis untuk menyampaikan penyelesaian kedua transaksi tersebut.
Alasan di balik keputusan strategis ini sangat masuk akal jika dilihat dari data jumlah jemaah. Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji dan umrah terbesar di dunia. Setiap tahun, ratusan ribu warga Indonesia berangkat untuk menunaikan ibadah haji, sementara jutaan lainnya melakukan umrah. Kondisi ini menciptakan permintaan yang tinggi akan akomodasi berkualitas di sekitar Tanah Suci, sehingga keberadaan aset properti seperti ini menjadi sangat relevan dan mendesak.
Kehadiran Danantara Indonesia sebagai pemilik aset di Makkah bukan hanya menandai kemajuan dalam investasi infrastruktur, tetapi juga merupakan bentuk komitmen nyata terhadap peningkatan kualitas pengalaman ibadah bagi jemaah Indonesia. Dengan dukungan fasilitas yang terintegrasi dan terkelola secara profesional, diharapkan perjalanan ibadah dapat berjalan lebih lancar, aman, dan bermakna.
Keberadaan hotel milik sendiri memberikan Danantara posisi strategis langsung di sektor perhotelan, bukan sekadar sebagai pelaku pasar yang mengikuti tren. Posisi ini memungkinkan perusahaan untuk merancang layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan jemaah Indonesia, mulai dari akomodasi hingga fasilitas pendukung, meskipun rincian detailnya belum diumumkan secara resmi.
Perluasan pengembangan dilakukan secara bertahap bersama Al-Khomasiah, mitra pengembang lokal yang mendukung penyelesaian transaksi serta kehadiran Danantara di Arab Saudi. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap tahap pengembangan dilandasi pada kajian mendalam dan persiapan administratif yang matang.
Sebelum memulai tahap pembangunan berikutnya, Danantara akan menyiapkan studi kelayakan, mendapatkan persetujuan terkait, serta melengkapi dokumen perizinan sesuai dengan prosedur pengembangan yang ditetapkan. Strategi ini memungkinkan perusahaan menggabungkan aset perhotelan yang sudah beroperasi dengan potensi ekspansi jangka panjang secara terkoordinasi.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa penyelesaian akuisisi ini merupakan langkah nyata dalam membangun platform investasi perhotelan jangka panjang di Arab Saudi. "Fokus kami adalah mengelola aset-aset ini dengan disiplin investasi yang ketat, sekaligus mengembangkan ekosistem terpadu yang meningkatkan kualitas akomodasi dan layanan bagi jemaah dari Indonesia maupun berbagai negara lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Rosan menekankan bahwa investasi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Arab Saudi. Ia menyatakan bahwa Danantara akan terus menjajaki peluang kerja sama di Madinah serta sektor strategis lainnya di luar properti.
Menariknya, investasi ini tidak hanya berfokus pada aspek akomodasi, tetapi juga membuka peluang untuk memperkenalkan budaya, pelayanan, dan kuliner Indonesia secara internasional. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, melihat potensi besar dalam mengintegrasikan identitas budaya lokal ke dalam layanan perhotelan.
Pandu menjelaskan bahwa kombinasi antara hotel yang sudah beroperasi dan lahan seluas 4,4 hektar memberi ruang bagi perusahaan untuk memperluas investasi seiring dengan pertumbuhan ekosistem haji dan umrah. Ia menegaskan bahwa pengembangan selanjutnya akan dilakukan secara hati-hati. "Kami akan menjalankan tahapan selanjutnya secara terukur, dengan berpedoman pada kelayakan komersial, ketentuan regulasi, dan tata kelola yang penuh kehati-hatian, untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan," kata Pandu.
Respons dari mitra Saudi sangat positif, dengan menyebut transaksi ini sebagai momen bersejarah. "Dari pihak Arab Saudi, Faisal Shaker menyebut transaksi ini sebagai momen bersejarah bagi kawasan Thakher Makkah. Menurutnya, kehadiran investor negara dari luar Arab Saudi yang memiliki properti di kawasan itu mencerminkan kepercayaan internasional terhadap Thakher Makkah."
Fokus kami kini adalah memastikan keselarasan antara ambisi investasi Danantara dan strategi pengembangan kami, serta mendukung Danantara dalam mewujudkan tahap berikutnya agar semakin banyak jemaah Indonesia dapat menginap di lokasi yang dekat dengan Masjidil Haram,