Penyanyi Danilla Riyadi memperluas jangkauan karya melalui paduan aroma wewangian lewat Candramawa Episode 01. Paduan wewangian ini menambah daftar panjang karya yang dirilis Danilla bukan hanya dari karya yang bisa didengarkan lewal musik saja, tetapi juga melalui indra penciuman lewat produk wewangian.

Produk wewangian berjenis Extrait de Parfum ini dikemas dalam botol berukuran 50 ml yang lahir dari kolaborasi erat bersama Usual Parfums, sebuah rumah produksi wewangian independen ternama asal Solo, Jawa Tengah. Langkah strategis ini menandai perluasan eksplorasi seni Danilla dalam meretas batas antara seni musik dan produk gaya hidup (lifestyle).

Lewat tiap semprotan di botol parfum tersebut, dinamika perjalanan hidup, karakter pribadi yang khas, serta jalinan pengalaman emosional sang pelantun lagu diterjemahkan secara presisi menjadi racikan aroma yang terstruktur nan berkelas.

Danilla mengungkap salah satu alasan terbesarnya memilih untuk meluncurkan perfuma karena dirinya sangat menyukai aroma-aroma yang segar dan enak. "Kenapa parfum? Karena aku pribadi suka dengan aroma-aroma yang enak, dan kebetulan Mas Aldi sebagai yang bikin racikannya, dia meretas enggak cuma albumnya tapi secara aku sebagai manusia gitu sampai akhirnya jadi parfum. Jadi buat aku kayaknya seru banget kalau misalkan gua bikin parfum terus ya udah itu kayak bentuk sharing aja gitu," kata Danilla saat ditemui dalam acara peluncuran di Jakarta.

Proses Panjang dan Konsep Perancangan Aroma Untuk melahirkan sebuah aroma yang mampu mewakili identitas emosional seorang musisi, proses pembuatan parfum ini tidaklah instan. Perancangan wewangian Candramawa Episode 01 membutuhkan waktu pengolahan yang cukup panjang, yakni mencapai hampir satu tahun penuh.

Danilla menjelaskan bahwa inisiasi proyek kolaborasi ini bermula sejak Oktober 2025 melalui serangkaian diskusi awal antara Danilla dan Aldhy, sosok pendiri sekaligus formulator utama dari Usual Parfums. Diskusi mendalam tersebut bertujuan untuk menggali lebih jauh pandangan hidup, karakter, serta preferensi aroma pribadi sang musisi.

Satu hal menarik dalam proses kreatif ini adalah pendekatan sensorial yang diterapkan oleh peracik wewangian. Sebelum memasuki tahapan pembuatan sampel racikan (sample crafting), Aldhy mendapatkan fasilitas khusus untuk mendengarkan delapan trek lagu dalam album Candramawa milik Danilla yang saat itu belum resmi diluncurkan ke publik.

Sesi mendengarkan berdurasi sekitar 30 menit tersebut sengaja diadakan di sebuah ruangan dengan pendingin udara dan pencahayaan lampu redup agar suasana terasa lebih tenang, sehingga sang formulator dapat merespons secara emosional serta menggali makna dari setiap lirik. "Jadi parfum ini memang semacam rangkuman perjalanan hidup. Filosofinya juga Mas Aldhy ini orang yang sensitif. Parfumnya sesuai dengan mindset Mas Aldhy. Dia gak butuh validasi dan aku suka dengan konsep itu," katanya.

Setelah sesi pendengaran tersebut proses penyempurnaan formula melanjutkan tahapannya lewat rangkaian workshop tatat muka yang digelar berkala di Jakarta diselingi konsultasi rutin via konferensi video Zoom tiap minggunya. Kolaborasi mendalam antara dunia musik dengan olfaktori ini akhirnya berhasil menciptakan fondasi aroma yang sangat beragam: perpaduan nuansa herbal, spicy (pedas), woody (kayu-kayuan), dry dan sedikit aksen bitter (pahit elegan) serta diperhalus oleh sentuhan vanilla.

Karakter Dan Profil Aroma Candramawa Episode 01 Secara teknis racikan wewangian, Candramawa Episode 01 mengombinasikan elemen-elemen berkarakter kuat seperti incense atau dupa, amber, woods maupun kayu-kayuan. Kombinasi bahan-bahan Berkualitas ini dirancangkan dengan sangat matang agar profil aromanya tetap seimbang (balanced).

Formula aroma tersebut sengaja dibuat tidak terlalu gelap dan juga bukan yang manis berlebihan sehingga hasilnya adalah sebuah parfum fleksibel serta serbaguna dapat digunakan kapan saja baik untuk aktivitas harian ataupun acara spesial di malam hari.

Dengan konsep pengembangan wewangian seperti itu maka Candramawa Episode 01 menjadi salah satu inovasinya dari Danilla dalam menghadirkan ekspresi seni melalui medium baru yaitu olfaktori.

Ketika pertama kali disemprotkan ke kulit, lapisan aroma teratas (top notes) langsung menghadirkan kejutan berupa sentuhan pink pepper yang lembut namun tegas, dipadukan dengan nuansa hangat ambery yang memikat. Memasuki tahapan berikutnya saat parfum mulai mengendap (middle notes), karakter dry vanilla mulai muncul dan mendominasi. Jejak aroma incense serta woods kemudian menyusul secara perlahan sebelum akhirnya menyatu secara sempurna dengan sentuhan musk di atas permukaan kulit pada fase dry down (base notes). Dengan demikian, pengalaman mencium wewangian ini menjadi sebuah proses dinamis dari awal hingga akhir. Bagi Danilla, kehadiran wewangian ini bukan sekadar peluncuran merchandise atau produk kecantikan biasa. Lebih dari itu, parfum ini menjadi sarana interaksi yang jauh lebih intim antara dirinya dengan para penggemar setia. Ia menilai proses peracikan wewangian yang melelahkan ini berhasil membedah sisinya secara mendalam, tidak hanya sebagai seorang seniman di atas panggung, tetapi juga sebagai seorang individu biasa. Dengan demikian, ia melihat proyek ini sebagai bentuk ekspresi pribadi dan hubungan emosional. Ia juga menambahkan bahwa karakter dari produk wewangian ini memuat nilai-nilai personal yang sangat jujur dari para pembuatnya, tanpa harus berfokus pada ekspektasi atau pandangan orang luar semata. Melalui aroma Candramawa Episode 01, Danilla ingin menyampaikan pesan tentang kejujuran diri serta ketulusan dalam menghadirkan karya seni. Hal tersebut menjadi dasar filosofi di balik penciptaan parfum ini.