Elon Musk mengalokasikan dana minimal 474 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp8,5 triliun, untuk mendukung Partai Republik dalam pemilu paruh waktu AS 2026. Namun, hasilnya jauh dari harapan. Setelah pemungutan suara pada 3 November 2026, Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres, sementara banyak kandidat yang didukung miliarder Tesla dan SpaceX tersebut kalah, termasuk di Texas, tempat sebagian besar dana dialokasikan.
Pemilu paruh waktu (midterm) diadakan selama masa jabatan presiden AS. Dalam pemilu ini, seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diperebutkan, bersama sekitar sepertiga kursi Senat dan beberapa jabatan gubernur. Hasilnya sering menjadi indikator penilaian publik terhadap presiden yang sedang berkuasa. PAC (political action committee) adalah organisasi yang mengumpulkan dan menghabiskan dana untuk mendukung kandidat atau isu politik. Super PAC, versi yang lebih besar, dapat mengumpulkan dana dalam jumlah besar selama tidak berkoordinasi langsung dengan kampanye kandidat. Dana besar Musk banyak dialirkan ke sini.
Texas menjadi medan pertarungan terbesar. Berdasarkan analisis CNBC terhadap catatan pendanaan kampanye, sekitar 224 juta dolar AS (Rp4 triliun) dari total dana Musk mengalir ke Texas. Wilayah ini dikenal sebagai basis kuat Partai Republik, sehingga dana besar di sana dianggap upaya mempertahankan pengaruh partai yang mendukung Presiden Donald Trump. Namun, hasilnya justru berbalik. Dua tokoh yang didukung Musk di Texas kalah: Ken Paxton, calon anggota Senat Republik, kalah dari James Talarico dari Demokrat. Paxton disebut sebagai kandidat yang paling banyak didukung Musk dalam siklus ini. Greg Abbott, Gubernur Texas dari Republik, juga kalah dari Gina Hinojosa dari Demokrat. Musk menyumbang sekitar 5 juta dolar AS untuk Abbott.
Laporan media AS mencatat bahwa pada September Musk mentransfer dua kali ke Senate Leadership Fund, masing-masing 75 juta dan 83 juta dolar AS. Dana tersebut kemudian dialirkan ke PAC di Texas yang mendukung Paxton. Secara nasional, organisasi politik Musk, America PAC, menghabiskan hampir 87 juta dolar AS (Rp1,5 triliun) untuk mendukung 44 kandidat federal. Angka ini berasal dari analisis CNBC terhadap laporan Komisi Pemilihan Federal (FEC).
Hasil sementara hingga Rabu pagi waktu setempat menunjukkan: 29 kandidat yang didukung America PAC kalah. Hanya 3 kandidat yang menang. 12 pemilihan lainnya belum diumumkan secara resmi. Jika dihitung, lebih dari 80 juta dolar AS (Rp1,4 triliun), setara 93 persen dari seluruh pengeluaran America PAC, digunakan untuk kandidat yang akhirnya kalah. Perhitungan ini berdasarkan hasil sementara, sehingga bisa berubah ketika 12 pemilihan tersisa selesai dihitung.
America PAC tidak hanya menangani dana untuk Texas. Dana tersebut juga dialirkan ke berbagai wilayah lain. Namun, hasilnya tetap tidak memuaskan. Kekalahan kandidat yang didukung Musk menunjukkan bahwa strategi pendanaan tidak cukup untuk memengaruhi hasil pemilu. Meski demikian, Musk tetap menjadi salah satu donatur terbesar dalam sejarah pemilu AS. "Dalam hal pengeluaran politik, ke depan saya akan jauh lebih sedikit,"
Ini bukan pertama kalinya Musk terlibat dalam politik AS. Sebelumnya, dia juga memberikan dukungan finansial kepada kandidat Republik. Namun, hasil pemilu 2026 menunjukkan bahwa dana besar tidak selalu menjamin kemenangan. Kekalahan kandidat di Texas dan wilayah lain menjadi bukti bahwa faktor-faktor lain, seperti popularitas lokal dan strategi kampanye, juga berperan penting.
Kegagalan ini bukan yang pertama bagi Musk. Menurut informasi yang dikumpulkan, America PAC pernah mendukung delapan kandidat Kongres dalam pemilu 2024, namun seluruhnya kalah. Pada 2025, Musk dilaporkan menghabiskan lebih dari 20 juta dolar AS (sekitar Rp360 miliar) untuk mendukung kandidat konservatif dalam pemilihan Mahkamah Agung Wisconsin, tetapi kandidat tersebut juga tidak berhasil menang.
Meski pada Mei 2025 Musk menyatakan akan mengurangi pengeluaran politik, "Dalam hal pengeluaran politik, ke depan saya akan jauh lebih sedikit," katanya kala itu, meski ia menambahkan bahwa ia tetap akan menyumbang jika melihat alasan yang kuat. Namun, dalam pemilu paruh waktu 2026, Musk tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar.
Keterlibatan Musk di politik pernah memicu kekhawatiran dari investor. Investor lama Tesla, Ron Baron, disebut pernah memperingatkan pada Maret 2025 bahwa aktivitas politik Musk berisiko membuat sebagian pelanggan menjauh. Alasannya, Tesla memiliki konsumen dari berbagai latar belakang pandangan politik. Di sisi lain, hubungan Musk dengan Trump dinilai sebagian pihak bisa menguntungkan bisnisnya, terutama terkait regulasi, kebijakan teknologi, dan belanja pertahanan Pentagon.
Kemenangan partai Demokrat membawa konsekuensi politik bagi Musk. Dengan menguasai Kongres, Demokrat berpotensi memperketat pengawasan terhadap berbagai aspek, termasuk kontrak pemerintah yang diperoleh perusahaan Musk, kebijakan Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), dan hubungan bisnis perusahaannya dengan pemerintah AS.
Musk ditunjuk memimpin DOGE pada November 2024 setelah Trump menang dalam pemilu presiden, lalu mengundurkan diri pada Mei 2025. DOGE dibentuk oleh pemerintahan Trump untuk menghemat anggaran dan memangkas pengeluaran pemerintah.
Namun, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Kongres yang baru dilantik pada Januari, sehingga pengawasan langsung belum berlaku. Kedua, lembaga eksekutif tetap berada di bawah kendali Trump. Artinya, meski Demokrat memiliki kekuatan lebih besar di Kongres, pemerintahan Trump tetap berwenang menjalankan kebijakan eksekutif.
Dampak dari kemenangan Demokrat juga terlihat di pasar saham. Pada perdagangan sebelum pembukaan pasar pada Rabu (4/11/2026), saham Tesla (TSLA) turun sekitar 5 persen, sedangkan saham SpaceX turun lebih dari 5 persen. Beberapa laporan menyebut penurunan SpaceX sempat mencapai sekitar 6,9 persen.
Tekanan tersebut mereda ketika perdagangan reguler berjalan. Menurut laporan yang dikutip, Tesla tercatat turun sekitar 2,5 persen dan SpaceX turun sekitar 1 persen. Menariknya, pelemahan dua saham ini terjadi saat pasar saham AS secara keseluruhan menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik sekitar 2 persen atau 1.045 poin setelah pembukaan, S&P 500 naik 1,25 persen, dan Nasdaq Composite naik sekitar 1,3 persen.
Apa yang dikhawatirkan investor? Menurut Bloomberg, pelaku pasar menimbang kemungkinan regulasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih ketat. Faktor lain adalah ketidakpastian terkait potensi penggabungan bisnis Tesla dan SpaceX. Dewan kedua perusahaan dilaporkan sedang mempelajari kemungkinan merger, dan hal itu telah dikonfirmasi oleh Musk.
Analis XTB, Kathleen Brooks, menilai bahwa Kongres tidak mampu menghentikan penggabungan perusahaan tersebut, tetapi dapat memperlambat prosesnya melalui pengawasan tambahan. Ia juga menyebutkan adanya "premi risiko politik" yang kini melekat pada kedua saham.
Catatan terkait angka menunjukkan bahwa total dana yang dimiliki Musk bervariasi dalam laporan berbeda. Beberapa sumber melaporkan jumlah minimal 474 juta dolar AS, sementara laporan lain yang menggunakan data hingga pertengahan Oktober menyebutkan sekitar 445 juta dolar AS. Angka akhir kemungkinan akan lebih tinggi karena laporan keuangan pasca-pemilu ke FEC baru akan jatuh tempo pada 3 Desember. Konversi rupiah dalam berita ini bersifat perkiraan dan dapat berubah mengikuti kurs.
Mengenai hasil pemilu, sebagian pemilihan masih dalam proses atau belum diumumkan secara resmi saat berita ini ditulis, termasuk 12 kandidat yang didukung oleh America PAC. Redaksi akan memperbarui informasi seiring dengan pengumuman resmi yang diterima.