Kualitas udara di beberapa wilayah Jakarta menunjukkan tren positif pada hari Sabtu (24/10/2026), bertepatan dengan hari pertama penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Berdasarkan pemantauan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU), konsentrasi berbagai polutan turun secara signifikan pada pagi hari.
Perbaikan ini terjadi setelah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan antara tanggal 21 hingga 23 Oktober 2026. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat penurunan konsentrasi beberapa jenis polutan melalui pemantauan SPKU di lima wilayah administratif Kota Jakarta. Tren tersebut tampak jelas dalam data konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 serta sulfur dioksida (SO2) selama pukul 04.00 sampai 07.00 WIB.
Di Jakarta Selatan, tingkat konsentrasi PM2,5 pada jam-jam pagi antara pukul 04.00 hingga 05.00 WIB tercatat berada dalam rentang 12–32 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, wilayah Jakarta Utara mencatatkan konsentrasi PM2,5 sekitar 9–17 mikrogram per meter kubik selama periode yang sama yaitu dari pukul 04.00 sampai 07.00 WIB.
Pemantauan di tiga wilayah lainnya seperti Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat juga menunjukkan penurunan polutan pada pagi hari. Di Jakarta Pusat sendiri, tingkat konsentrasi partikel PM2,5 serta PM10 tercatat berkisar antara 12 hingga 43 mikrogram per meter kubik.
DLH DKI menyebutkan bahwa potensi turunnya hujan dapat membantu membersihkan udara dari berbagai partikel polutan melalui proses deposisi basah (wet deposition). Meski demikian, dinas tersebut masih dalam tahap evaluasi mengenai pengaruh faktor meteorologi dan pelaksanaan OMC terhadap peningkatan kualitas udara.
Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan adanya kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Ibu Kota. Namun, analisis lanjut tetap diperlukan untuk memastikan seberapa besar kontribusi dari operasi modifikasi cuaca serta faktor-faktor lainnya terhadap perbaikan kondisi udara.
'"“Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor meteorologi, termasuk kemungkinan kontribusi OMC. Namun, diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara,"’ ujar Dudi Gardesi dalam kesempatannya tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca pada 21–23 Oktober 2026 dengan menggunakan pesawat PK-SNH. Selama tiga hari berturut-turut, tim melakukan empat kali sorti penyemaian natrium klorida (NaCl) ke awan potensial di wilayah Bogor, Depok, Bekasi dan sebagian wilayah Jakarta Selatan.
Penyemaian ini dilakukan untuk memicu pertumbuhan awan hujan di sekitar Ibu Kota. Pada Jumat (23/10/2026), turunnya hujan tercatat di beberapa daerah seperti Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor serta Tangerang Selatan.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menyatakan bahwa pihaknya masih aktif berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam memantau perkembangan cuaca. Koordinasi ini dilakukan agar pelaksanaan OMC dapat disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan lapangan.
'"Alhamdulillah, sesuai harapan, pada hari pertama Jakarta Running Festival kondisi udara Jakarta terasa lebih nyaman. Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara tepat sasaran,"’ ujar Marulitua Sijabat saat menjelaskan tentang prosedur koordinasi tersebut.
Selain upaya rekayasa cuaca, Pemprov DKI juga melakukan pembasahan di sejumlah ruas jalan yang menjadi rute JRF 2026. Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat serta Jakarta Selatan bekerja sama dengan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta dalam mengerahkan armada penyemprot kabut air (water mist).
Petugas menyemprotkan kabut air secara berkala untuk membantu mengendalikan debu jalanan dan menjaga kenyamanan peserta lomba. Upaya ini dirasakan oleh salah satu pelari asal Jakarta Selatan, yaitu Dwi, yang ikut berlomba pada pagi hari Sabtu.
Dwi merasa bahwa tindakan pembasahan tersebut memberikan dampak positif terhadap pengalaman para peserta JRF 2026 dengan membuat kondisi jalan lebih nyaman selama perlombaan.
""Pagi ini udaranya lumayan adem, jadi lebih enak buat lari. Tadi juga ada penyemprotan air di beberapa titik. Cukup membantu, apalagi kalau sudah mulai ramai dan matahari naik,"" tutur Dwi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan dengan menyediakan layanan transportasi publik yang memudahkan para peserta untuk sampai di lokasi perlombaan. Tarif transportasi umum diberlakukan gratis bagi peserta JRF 2026, dan MRT Jakarta diminta untuk beroperasi lebih awal mulai pukul 03.00 WIB.
Dukungan ini bertujuan membantu mobilitas peserta menuju kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI dalam mendukung kelancaran ajang lari yang akan diikuti oleh puluhan ribu orang.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya meninjau proses pengambilan perlengkapan lomba atau race pack JRF 2026 di Istora Senayan. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan bahwa ajang ini melibatkan lebih dari 37.000 peserta dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari internasional.
""Saya mengambil race pack Jakarta Running Festival (JRF) 2026 di Istora Senayan ini dan saya mendapatkan masukan bahwa pesertanya 37.000 dari 48 negara, lebih dari 1.000 pelari dari internasional,"" kata Pramono Anung.
Pramono juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan JRF 2026, khususnya dalam hal pengaturan alur peserta dan penataan stan pameran. Ia berharap Jakarta mampu meningkatkan kualitas penyelenggaraan acara olahraga agar semakin dikenal sebagai destinasi wisata olahraga di tingkat internasional.
Sementara itu, BPBD DKI Jakarta bekerja sama dengan BMKG terus memantau perkembangan cuaca untuk mendukung kelancaran hari kedua JRF 2026 yang akan diselenggarakan pada Minggu (25/10/2026). Pemantauan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kenyamanan peserta sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer selama kegiatan berlangsung.