Euforia kemenangan Persebaya Surabaya mendadak berubah menjadi kepedihan mendalam setelah manajemen dijatuhi denda fantastis sebesar Rp60 juta. Sanksi ini diberikan oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI akibat ulah segelintir oknum suporter. Hukuman tersebut memicu konflik lama yang sempat redup, hingga membuat presiden klub terpaksa mengungkapkan perasaannya yang selama ini disimpan.
Ketukan palu sanksi bernomor resmi dari sidang Komdis PSSI tertanggal 19 Oktober 2026 menjadi pukulan berat bagi kubu Bajol Ijo. Denda besar itu dijatuhkan tanpa ampun setelah insiden pelanggaran penyalaan petasan di tribun saat Persebaya menjamu PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 18 Oktober 2026.
Asap pekat dan ledakan petasan yang sempat memicu antusiasme penonton di stadion ternyata harus dibayar mahal dengan terkurasnya dana klub kebanggaan warga Surabaya. Situasi ini sangat menyesakkan, mengingat manajemen serta pemain telah berjuang keras demi meraih kemenangan penuh.
Atmosfer internal manajemen langsung memanas karena insiden serupa terus muncul tanpa henti. Di balik cinta tulus suporter di tribun, tindakan destruktif oknum penggemar justru membahayakan klub dari belakang secara perlahan namun efektif.
Kerugian finansial yang mencapai Rp20 miliar menjadi beban tambahan bagi Persebaya Surabaya. Fakta ini terkuak setelah investigasi menyeluruh menunjukkan bahwa dalam sembilan tahun terakhir, klub telah mengalami kerugian besar akibat berbagai sanksi denda dan kehilangan pendapatan tiket serta biaya renovasi stadion.
Dana fantastis tersebut seharusnya bisa digunakan untuk membangun akademi modern atau mendatangkan pemain kelas dunia. Namun, semua itu lenyap karena sanksi Komdis PSSI, hilangnya peluang pendapatan dari pertandingan tanpa penonton, hingga biaya perbaikan fasilitas yang dirusak oleh aksi destruktif suporter.
Manajemen Persebaya menegaskan bahwa mereka tidak akan diam melihat masa depan klub terus tergerogoti oleh kebiasaan buruk yang dibungkus dalam nama fanatisme sempit. Mereka berupaya membangun hubungan harmonis antara klub dan suporter untuk menghentikan kerugian yang merusak reputasi Kota Pahlawan.
Presiden Persebaya Surabaya, Azrul Ananda, akhirnya memberi pernyataan dengan nada emosional agar para pendukung fanatik segera menghentikan tindakan ceroboh di stadion. Ia ingin menyampaikan pesan kepada seluruh Bonek bahwa ia tetap mencintai mereka meski terluka melihat finansial klub terus menurun karena sanksi berulang kali.
""Bonek adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya. Karena itu, yang ingin kami bangun bukan sekadar hubungan antara klub dan suporter, tetapi bagaimana kita bersama-sama memperbanyak kebaikan dan menghilangkan hal-hal yang merugikan Persebaya dan Surabaya,"" ungkap Azrul Ananda, presiden Persebaya Surabaya. Pernyataannya mencerminkan betapa besar rasa cinta yang dimilikinya terhadap suporter, meskipun hatinya sedih melihat kebiasaan destruktif tersebut memperlambat transformasi klub menjadi tim profesional seutuhnya di Asia.
Azrul menyindir denda flare yang setara dengan biaya panti asuhan sebagai bentuk protes atas penggunaan uang negara untuk hal-hal tidak penting. Ia berharap para Bonek bisa merenung dan menghentikan tindakan mereka agar masa depan Persebaya lebih cerah.
Azrul meminta seluruh elemen penggemar sepak bola untuk berpikir secara jernih dan menyadari bahwa setiap tindakan seperti pembakaran api atau ledakan di tribun memiliki konsekuensi hukum serius yang bisa membahayakan kelangsungan hidup klub. Sebagai contoh nyata, sanksi minimal akibat penyalaan flare saja sudah mencapai angka sekitar Rp50 juta dari dana tim.
Mantan petinggi media Jawa Pos ini kemudian memberikan perbandingan menohok yang menggarisbawahi aspek kemanusiaan dengan menyoroti betapa tidak bijaksenanya membuang uang hanya demi kesenangan sesaat di stadion.
"Padahal uang sebesar itu bisa dipergunakan untuk hal-hal positif lainnya. Sebab uang sebesar itu setara dengan biaya operasional empat bulan (per bulan Rp 13 juta) untuk panti asuhan yang dikelola komunitas Bonek," tegasnya.
Pesan mendalam tersebut secara langsung meredam berbagai isu miring yang menyebut manajemen terlalu pelit atau anti-terhadap antusiasme para pendukung. Azrul membuktikan bahwa kepedulian manajemen didasarkan pada nilai-nilai nyata, di mana usaha suporter seharusnya menjadi bentuk amal sosial dan bukan justru disetorkan sebagai denda kepada federasi karena melanggar aturan.
Manajemen selama ini telah konsisten mempertaruhkan reputasi mereka untuk menjaga nama baik Bonek, sebuah komunitas suporter yang semakin berkembang menjadi kelompok yang humanis serta peduli terhadap sesamanya. Namun, tindakan beberapa oknum yang masih menyelundupkan petasan dinilai mengkhianati perjuangan ribuan Bonek lain yang dengan penuh darah hati berusaha merubah citra klub di mata masyarakat.
Kini, manajemen sedang berupaya keras untuk menepis isu-isu tidak benar yang menyebut adanya ketegangan dalam hubungan antara manajemen Persebaya dan para tokoh tribun. Sanksi sebesar Rp60 juta ini diharapkan menjadi titik balik penting serta tamparan keras bagi seluruh penggemar Persebaya agar tidak ada lagi nyala petasan atau flare pada sisa pertandingan kandang musim ini.
Secara tegas dinyatakan bahwa keselamatan finansial klub dan masa depannya saat ini tergantung sepenuhnya kepada para pendukung yang berada di tribun Gelora Bung Tomo. Cinta sesungguhnya terhadap simbol buaya dan ikan hiu di dada harus ditunjukkan melalui nyanyian lantang sepanjang sembilan puluh menit tanpa perlu menyulut api yang bisa membahayakan masa depan klub yang dicintai.
Ujian kedewasaan akan segera datang dalam beberapa pertandingan krusial mendatang, di mana dukungan murni dari suporter sangat dibutuhkan untuk mengiringi Persebaya menuju puncak kejayaannya. Pertandingan-pertandingan berikut ini menjadi momen penting untuk memperlihatkan apakah ikrar baik yang disampaikan Azrul Ananda benar-benar sampai pada hati para Bonek ataukah sanksi denda kembali terjadi dan merusak mimpi besar Surabaya.