Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih cukup intens. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi berulang sejak Kamis (5/11/2026) hingga Jumat (6/11/2026) dini hari.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui laman MAGMA Indonesia, aktivitas erupsi tercatat sejak Kamis dini hari pukul 03.33 WIB dan masih berlanjut hingga Jumat pagi.
Dalam rentang waktu tersebut, sejumlah letusan menghasilkan kolom abu dengan ketinggian bervariasi, mulai sekitar 200 meter hingga 700 meter di atas puncak.
Aktivitas erupsi bahkan masih tercatat pada Jumat (6/11/2026) pukul 05.35 WIB. Kolom abu teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan mengarah ke barat daya," kata Liswanto, salah satu petugas PVMBG dalam keterangannya.
Sebelumnya, pada pukul 04.42 WIB, Semeru juga mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak.
Kemudian pukul 02.42 WIB dan 02.51 WIB, letusan kembali teramati dengan kolom abu masing-masing sekitar 600 meter dan 500 meter.
Awan Panas Guguran Meluncur hingga 4,5 Kilometer.
Tak hanya erupsi, aktivitas Gunung Semeru pada Kamis juga disertai guguran awan panas yang meluncur ke arah tenggara atau kawasan Besuk Kobokan.
Berdasarkan laporan aktivitas dari keterangan petugas, guguran awan panas terjadi berulang pada Kamis pagi.
Salah satu luncuran tercatat mencapai sekitar 3 kilometer dari puncak pada pukul 06.33 WIB.
Kemudian pada pukul 08.43 WIB, awan panas guguran kembali meluncur sejauh sekitar 3,5 kilometer.
Aktivitas berikutnya pada pukul 09.24 WIB disertai guguran awan panas dengan jarak luncur mencapai sekitar 4,5 kilometer dari puncak menuju tenggara atau Besuk Kobokan.
Sementara itu, laporan aktivitas pada Kamis siang juga menyebut adanya awan panas guguran sekitar pukul 14.06 WIB dengan jarak luncur sekitar 3,5 kilometer.
Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar jalur luncuran awan panas diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kejadian susulan.
Erupsi Masih Berlanjut hingga Jumat Pagi.
Berdasarkan catatan MAGMA Indonesia, setelah erupsi Kamis siang pukul 14.56 WIB, aktivitas kembali tercatat pada pukul 18.44 WIB dan 20.15 WIB.
"Memasuki Jumat dini hari, erupsi kembali terjadi pada pukul 00.35 WIB. Aktivitas kemudian berlanjut pukul 02.42 WIB, 02.51 WIB, 04.42 WIB, hingga 05.35 WIB," kata salah satu petugas PVMBG, Agastya Rajendra.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru menyampaikan bahwa aktivitas gunung berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi Gunung Semeru. Larangan ini diberlakukan untuk meminimalkan risiko terhadap keamanan penduduk di sekitar kawasan tersebut.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta untuk menghindari aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini dilakukan karena potensi dampak perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, aktivitas warga dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru akibat risiko bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat diimbau waspada terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran, guguran lava, serta aliran lahar yang bisa terjadi di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Beberapa jalur yang menjadi perhatian khusus antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Masyarakat, wisatawan, serta penambang pasir di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta mematuhi rekomendasi dari petugas dan tidak mendekati zona berbahaya yang telah ditentukan.
Aktivitas vulkanik Semeru yang masih berlangsung hingga Jumat pagi menjadi fokus utama pihak berwenang. Warga yang tinggal di sekitar lereng gunung diharapkan terus memantau informasi resmi dari PVMBG dan BPBD serta menghindari aktivitas di kawasan yang dianggap rawan bencana.