Masyarakat di wilayah Jawa Timur diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem pada Jumat (6/11/2026). Peringatan ini dikeluarkan setelah BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda mengumumkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jatim selama periode 2 hingga 9 November 2026.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Timur telah memasuki fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Selama periode tersebut, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi bersamaan dengan petir dan angin kencang. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan peringatan dini dari BMKG Juanda, terdapat 21 kabupaten/kota yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem.
Daerah yang terkena dampak meliputi Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Jember, Lumajang, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Banyuwangi, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Pacitan, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Kota Batu, dan Magetan.
Taufiq menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Salah satunya adalah gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Jawa Timur serta pola pertemuan angin atau konvergensi.
Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih tinggi serta atmosfer lokal yang labil turut berkontribusi pada pertumbuhan awan konvektif.
"Kondisi tersebut dapat memicu hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang," jelas Taufiq dalam keterangannya.
BMKG juga memperingatkan kemungkinan dampak cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, lereng, tebing, serta wilayah rawan banjir diminta untuk lebih waspada. Warga juga diingatkan untuk memperhatikan perubahan cuaca saat beraktivitas di luar ruangan.
Prakiraan cuaca harian dapat berubah sesuai perkembangan atmosfer. Masyarakat diimbau terus memantau pembaruan informasi melalui kanal resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan atau aktivitas lainnya.