Zaskia Adya Mecca tidak mampu menahan air mata saat menyaksikan langsung situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Ia merasa sangat terpukul ketika melihat warga setempat yang terus berjuang untuk memadamkan api secara mandiri meskipun menghadapi keterbatasan peralatan serta biaya.

Pengalaman tersebut dibagikannya melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam video itu, Zaskia menunjukkan salah satu titik kebakaran yang tidak jauh dari bandara tempatnya tiba.

"Oke, Guys, aku baru sampai di satu titik. Ini baru dari airport sebenarnya dekat banget, cuman dengar ceritanya, huh, nggak kuat banget," ujar Zaskia dalam video tersebut.

Istri sutradara Hanung Bramantyo ini menyatakan bahwa masyarakat lokal turut serta dengan sukarela untuk memadamkan api yang membahayakan lingkungan mereka. Upaya tersebut dilakukan setiap hari meskipun harus menghadapi keterbatasan peralatan.

Selain bergantung pada tenaga, para relawan mandiri juga harus menggunakan biaya sendiri untuk membeli bahan bakar mesin pompa air. Kondisi seperti itu membuat Zaskia semakin prihatin terhadap usaha warga di tengah situasi sulit akibat bencana karhutla.

Zaskia menyatakan bahwa kunjungan kali ini menjadi salah satu pengalaman paling emosional dalam hidupnya saat turun langsung ke lapangan sebagai seorang relawan.

"Maaf banget nangis mulu, selama ku turun ke lapangan kok ini rasanya paling emosional ya?! 4 bulan masih kaya begini dan belum tau kapan akan selesai," tulis Zaskia di kolom keterangan unggahannya.

Sebagai ibu dari anak yang menderita asma, Zaskia mengakui betapa sulitnya membayangkan kehidupan masyarakat yang harus bertahan di lingkungan dengan kondisi udara buruk. Ia merasa khawatir terhadap dampak paparan asap bahkan dalam situasi sehari-hari di tempat tinggal mereka sendiri.

"Bagi ibu 4 anak ashma, bikin semakin berat membayangkan hidup dalam situasi ini. Orang bakar sampah deket rumah aja aku was was," imbuhnya.

Kunjungan Zaskia menunjukkan perjuangan warga yang berusaha mengatasi karhutla meskipun memiliki sumber daya terbatas. Di tengah situasi yang belum usai, mereka tetap berupaya memadamkan api demi melindungi lingkungan serta tempat tinggal dari ancaman kebakaran.