Persiapan pementasan teater Njonja Ati Soetji karya rumah produksi Regina Art semakin matang. Lakon ini mengangkat kisah Auw Tjoei Lan, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang gigih membela anak-anak dan kaum perempuan dari jerat perdagangan orang pada masa Hindia Belanda. Pertunjukannya siap digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, pada 30 dan 31 Oktober 2026.

Latihan Terakhir di Studio Sebelum Naik Panggung Utama menjelang hari pementasan, seluruh tim memacu intensitas latihan. Pendiri Regina Art sekaligus Produser Eksekutif Joane Win, yang juga memerankan tokoh utama Auw Tjoei Lan atau Nyonya Lie, mengungkapkan bahwa para pemain sudah menyelesaikan fase latihan akhir di studio.

"“Ini latihan ketiga, latihan terakhir di AD Studio. Setelah itu kita akan latihan di Ciputra Artpreneur," ujar Joane saat ditemui di sela latihan, Minggu (25/10/2026).

Latihan kali ini sudah dilengkapi kostum utuh sebagai tanda tim siap menghidupkan kembali denyut sejarah masa kolonial. Naskah ditulis Endah D. Jenura dan digarap di bawah arahan sutradara Wawan Sofwan. Lewat pertunjukan ini mereka ingin mengenalkan kembali jejak kepahlawanan yang nyaris luput dari ingatan publik luas.

Menyelami Keseharian hingga Logat Sang Tokoh memerankan tokoh sejarah seperti Auw Tjoei Lan, yang dikenal pula sebagai Nyonya Kapitein Lie Tjian Tjoen bukan perkara mudah. Agar bisa menyelami karakternya secara autentik Joane dan tim produksi melakukan riset mendalam salah satunya dengan menemui langsung cucu Auw Tjoei Lan yang tinggal di Bandung.

"Tantangan saya memerankan Nyonya Lie tentunya berusaha memahami bagaimana keseharian beliau. Dari hasil riset, kami bertemu dengan salah satu keluarga beliau, cucunya yang tinggal di Bandung, bagaimana keseharian Nyonya Lie berbicara, lalu memasukkan aksen Belanda tapi tidak perlu berbahasa Belanda," tutur Joane.

"Menurut Joane, latar belakang pendidikan Auw Tjoei Lan memberi keunikan tersendiri pada gaya bicaranya."

"Beliau suka berbicara sehari-hari dengan bahasa Indonesia, tetapi karena beliau pernah dititipkan saat sekolah di pendeta Belanda dan juga pernah bersekolah di Belanda, bahasa Indonesia beliau ada aksen-aksen Belandanya. Mungkin itu yang saya harus berusaha untuk bisa sampai di sana," paparnya.

"Eksplorasi peran itu juga mencakup perubahan karakter dari masa ke masa."

"Lalu kemanjaan beliau dengan ayahnya, lalu perbedaannya saat beliau sudah menikah tentunya," tambah Joane.

Cinta Kasih yang Harus Berwujud Tindakan Nyata bagi Joane Njonja Ati Soetji bukan sekadar peristiwa seni di atas panggung tetapi juga penyampaian pesan moral kemanusiaan. Keberanian Auw Tjoei Lan mendirikan rumah perlindungan yang kini dikenal sebagai Yayasan Hati Suci menunjukkan bahwa welas asih sejati harus ditunjukkan lewat perbuatan.

"Nilai yang mau disampaikan, khususnya dengan karakter saya Nyonya Lie, tentunya Nyonya Lie mau menyampaikan bahwa cinta kasih itu harus berwujud tindakan nyata. Harus berani dalam tindakan nyata," ucapnya dengan nada sungguh-sungguh.

Harapan Agar Anak Muda Mengenal Sosoknya pementasan ini juga membawa harapan agar generasi muda mengenal figur perempuan tangguh berdarah Tionghoa-Indonesia yang membaktikan hidupnya untuk memperbaiki harkat kaum tertindas.

"Memperkenalkan bahwa ada seorang perempuan berdarah Indonesia-Tionghoa yang juga memberikan perjuangan dan segalanya untuk Indonesia, yang mungkin belum banyak generasi zaman sekarang mengenal beliau," ujarnya.

Dukungan dari Yayasan Hati Suci pementasan ini juga mendapat sambutan dari pihak yayasan yang didirikan Auw Tjoei Lan. Dalam acara jumpa media di kawasan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (22/10/2026) Wakil Ketua Yayasan Hati Suci Wenny mengapresiasi langkah Regina Art.

"Kami mengapresiasi Regina Art karena mengangkat tentang pendiri kami. Buat kami, ini bukan saja hanya sejarah, namun juga sebuah teladan," kata Wenny.

"Ia berharap kesenian bisa menjadi cara merawat nilai-nilai yang diperjuangkan sang pendiri."

"Melalui seni, kami harapkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Njonja Ati Soetji bisa terus terpelihara," lanjutnya.

Lawan Main yang Menantang Zona Nyaman di antara para lawan main Joane Maudy Koesnaedi mendapat sorotan karena memerankan Sayap Hitam antagonis pertama dalam kariernya. Selama ini Maudy lebih sering dikenal lewat peran protagonis yang lembut.

"Di pementasan ini aku dikasih peran yang berbeda dari peran-peran sebelumnya, dan begitu merasa wah seru banget dikasih kesempatan buat eksplor kemampuan di panggung," ujar Maudy.

Menurut Maudy karakter yang ia mainkan mengajak penonton melihat persoalan moral dari berbagai sisi karena setiap pilihan dan tindakan punya konsekuensi bagi orang lain. Kehadiran tokoh antagonis seperti ini membuat perjuangan Nyonya Lie di panggung terasa lebih nyata.

Siapa Sebenarnya Auw Tjoei Lan?

Auw Tjoei Lan atau Nyonya Kapitein Lie Tjian Tjoen adalah seorang wanita keturunan Tionghoa-Indonesia yang dikenal sebagai pelopor gerakan anti-perdagangan manusia pada masa Hindia Belanda. Ia lahir tahun 1875 di Semarang dan menghabiskan hidupnya untuk membela hak-hak anak-anak serta kaum perempuan yang menjadi korban perdagangan orang.

Perjuangan Nyonya Lie dimulai saat ia menemukan adik kandungnya, Liesbet, dalam kondisi terluka setelah disekap oleh para penjahat yang menjual manusia ke luar negeri. Kejadian ini memicu rasa amarah dan tekad kuat dalam dirinya untuk melawan segala bentuk eksploitasi terhadap anak-anak dan wanita.

Dengan bantuan sejumlah tokoh masyarakat lokal dan sesama keturunan Tionghoa-Indonesia, Auw Tjoei Lan mendirikan sebuah rumah perlindungan bagi korban perdagangan orang pada tahun 1903 di Semarang. Tempat tersebut diberi nama Yayasan Hati Suci sebagai simbol dari semangat cinta kasih yang ingin ia wujudkan lewat tindakan nyata.

Yayasan Hati Suci menjadi pusat pelayanan untuk para korban perdagangan manusia serta anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki tempat tinggal. Di sini Nyonya Lie memberikan pelajaran moral tentang pentingnya empati, keadilan dan kemanusiaan dalam menghadapi tantangan hidup.

Selain itu Auw Tjoei Lan juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan politik pada masa kolonial Hindia Belanda. Ia sering kali menemui pejabat setempat guna meminta perlindungan bagi kaum rentan seperti anak-anak dan perempuan yang menjadi korban eksploitasi.

Nyonya Kapitein Lie Tjian Tjoen meninggal dunia di Semarang tahun 1945 karena penyakit jantung saat usianya mencapai 70 tahun. Namun kisahnya tetap dikenang hingga hari ini sebagai simbol dari keberanian, cinta kasih serta semangat pengabdian kepada sesama manusia.

Pementasan Njonja Ati Soetji bertujuan untuk mengingatkan kembali pada kontribusi Nyonya Lie dalam sejarah Indonesia dan menunjukkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak hanya dilakukan oleh para pahlawan yang terkenal saja.

Dengan pertunjukan teater ini Regina Art berharap masyarakat luas dapat memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang pentingnya empati, solidaritas dan kesadaran akan hak-hak anak-anak serta wanita di masa lalu maupun saat ini.

Selain itu mereka juga ingin menyampaikan pesan moral bahwa keberanian dan semangat pengabdian kepada sesama adalah hal yang bisa dimiliki oleh siapa pun tanpa harus menjadi seorang tokoh besar atau dikenal secara nasional.

Pementasan Njonja Ati Soetji merupakan upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai humanis seperti cinta kasih, keadilan, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Melalui pertunjukan teater ini Regina Art berharap masyarakat dapat terinspirasi untuk menjalani hidup dengan penuh rasa empati serta tanggung jawab sosial.

Dengan adanya dukungan dari Yayasan Hati Suci yang didirikan oleh Nyonya Lie sendiri pementasan ini menjadi semakin bermakna sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi besar yang telah diberikannya bagi bangsa Indonesia.

Pertunjukan Njonja Ati Soetji akan digelar di Ciputra Artpreneur Jakarta Selatan pada 30 dan 31 Oktober 2026. Pemilihan tempat tersebut bertujuan untuk memperluas akses penonton sehingga lebih banyak masyarakat luas dapat menyaksikan pertunjukan teater bersejarah ini.

Dengan adanya dukungan dari para tokoh masyarakat serta yayasan terkait pementasan ini dipastikan akan menjadi sebuah acara budaya yang sangat penting dalam mengenang kembali seorang wanita hebat seperti Auw Tjoei Lan.

Pementasan Njonja Ati Soetji juga diharapkan bisa menarik perhatian generasi muda agar mereka semakin peduli dengan nilai-nilai humanis dan keadilan. Dengan demikian, warisan Nyonya Lie tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi masa depan.

Bagi yang belum familiar, Auw Tjoei Lan dikenal juga sebagai Njonja Ati Soetji. Menurut catatan di Wikipedia dan KAPAL Perempuan, ia lahir di Majalengka pada 1889 dari keluarga terpandang, lalu pindah ke Batavia setelah menikah dengan seorang perwira Tionghoa bernama Lie Tjian Tjoen. Di Batavia, ia terlibat dalam gerakan Ati Soetji (kerap pula ditulis Hati Suci) yang menolong perempuan dan anak korban perdagangan manusia, terutama perempuan muda Tionghoa. .

Catatan sejarah menyebut ia juga mendirikan panti asuhan yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Hati Suci, yang masih beroperasi hingga kini dan mengelola sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Pada 1937, ia disebut mewakili Hindia Belanda di pertemuan Liga Bangsa-Bangsa di Bandung dan menyuarakan pendidikan bagi perempuan miskin. Sejumlah detail dalam sumber-sumber ini memang belum seragam, sehingga sebagian rincian masih perlu diperkaya riset lanjutan. .

Riset yang dijalani tim bukan hanya lewat kunjungan ke keluarga. Penulis naskah Endah D. Jenura menyebut proses penyusunan cerita memakan waktu hingga dua tahun. Tim mengumpulkan berbagai referensi sejarah, termasuk artikel surat kabar De Locomotief yang terbit pada 23 Juni 1925, serta kesaksian Oma Stela, cucu sang tokoh. .

Tantangannya, dokumentasi tertulis dan rekaman visual Auw Tjoei Lan sangat terbatas. Karena itu, sejumlah karakter, dialog, dan adegan dikembangkan untuk kebutuhan panggung. Bagian-bagian tersebut merupakan interpretasi artistik dan tidak seluruhnya dapat dianggap fakta sejarah yang terverifikasi. Dengan kata lain, pertunjukan ini cocok dinikmati sebagai pintu masuk untuk mengenal tokohnya, bukan satu-satunya rujukan sejarah. .

Selain Joane Win sebagai Nyonya Lie, pertunjukan ini dimainkan sejumlah aktor dan aktris. Maudy Koesnaedi memerankan Sayap Hitam, karakter antagonis yang digambarkan sebagai mucikari atau perantara dalam perdagangan pekerja seks komersial. Tika Bravani memerankan Noona Kneefel, dan Willem Bevers memerankan Van Walsem, pejabat tinggi kolonial Belanda yang dalam cerita membantu Njonja Ati Soetji. .

Pemain lainnya adalah Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal. .

Jadwal pementasan pertunjukan Njonja Ati Soetji digelar pada 30 dan 31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Lewat panggung teater, kisah perjuangan Auw Tjoei Lan diharapkan menjangkau masyarakat yang lebih luas dan mengingatkan kembali bahwa keberanian membantu sesama tidak pernah lekang oleh waktu. .