Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan tidak akan tinggal diam setelah mengalami kekalahan politik dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections. Kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres AS dinilai dapat membatasi ruang geraknya dalam menentukan kebijakan domestik. Namun, situasi tersebut belum tentu membuat Trump mengurangi aktivitas politiknya di panggung internasional.
Sebaliknya, Trump justru berpotensi semakin aktif menggunakan kekuatan Amerika Serikat di luar negeri. Posisi sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi militer AS memberinya kewenangan luas untuk mengambil keputusan terkait penggunaan kekuatan militer.
Dilansir BBC, kekalahan elektoral tersebut bisa menjadi dorongan bagi Trump untuk menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki pengaruh besar. Terlebih, Trump dikenal sebagai sosok yang tidak ingin dianggap sebagai pihak yang kalah.
Ada kemungkinan Trump berusaha mengalihkan perhatian dari kekalahan politik melalui langkah-langkah strategis di luar negeri. Dia bisa saja mengambil keputusan besar yang dapat diklaim sebagai keberhasilan kepemimpinannya.
Trump bukan tipe pemimpin yang akan menghabiskan sisa masa jabatannya dengan tenang. Sepanjang menjadi presiden, dia dikenal menikmati kekuasaan dan berusaha memanfaatkannya secara maksimal.
Konflik dengan Iran berpotensi kembali memanas. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Timur Tengah, khususnya hubungan Amerika Serikat dengan Iran.
Dalam beberapa pekan menjelang pemilihan paruh waktu, pengerahan pasukan AS dan pernyataan Trump yang cenderung agresif memunculkan spekulasi bahwa Washington sedang mempersiapkan kemungkinan perang kembali dengan Teheran.
Menjelang pemungutan suara, Amerika Serikat bahkan dilaporkan melakukan serangan bom terbatas terhadap sebuah pulau di Iran yang berada di kawasan Teluk.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan eskalasi militer semakin meningkat setelah Senator Demokrat Chris Murphy menghadiri pengarahan rahasia mengenai sejumlah opsi militer AS terhadap Iran.
Sebelum menjalani perawatan akibat stroke, Murphy mengkritik rencana tersebut dan menyebutnya sebagai sesuatu yang gila karena berpotensi memicu eskalasi besar.
Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah kemungkinan Amerika Serikat menyerang infrastruktur sipil Iran. Langkah tersebut tidak hanya berpotensi melanggar hukum perang, tetapi juga dapat memicu serangan balasan terhadap fasilitas milik sekutu Washington di kawasan Teluk.
Uni Emirat Arab menjadi salah satu negara yang dinilai berpotensi menghadapi risiko tersebut.
Di sisi lain, Iran tampaknya mengikuti perkembangan politik Amerika Serikat dengan cermat. Teheran melihat dampak konflik, terutama gangguan pelayaran di Selat Hormuz, telah menjadi persoalan ekonomi dan politik bagi pemerintahan Trump.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyampaikan pesan melalui media sosial bahwa masyarakat Amerika menginginkan perang dihentikan. Dia memperingatkan pemerintah AS agar tidak mengabaikan kehendak rakyat demi kepentingan pihak tertentu.
Netanyahu Disebut Mendorong Perang Kembali. Selain Iran, Israel juga menjadi faktor penting dalam dinamika politik Timur Tengah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan masih memiliki ambisi untuk menjatuhkan pemerintahan Republik Islam Iran. Laporan dari media Israel dan Amerika Serikat menyebut bahwa Netanyahu terus mendorong Presiden Donald Trump untuk mengambil langkah militer terhadap Teheran.
Situasi politik domestik di Israel juga dapat memengaruhi keputusan tersebut. Netanyahu sedang berupaya membentuk pemerintahan baru setelah pemilu. Jika konflik kembali membesar dan Israel menghadapi serangan langsung, situasi ini berpotensi membuka peluang pembentukan pemerintahan persatuan nasional.
Kondisi ini dinilai dapat memberikan ruang politik yang lebih besar bagi Netanyahu untuk memperkuat posisinya. Meski demikian, kemungkinan perang kembali dengan Iran tetap mengandung risiko besar, terutama bagi stabilitas kawasan dan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara sekutunya.
Trump berpeluang memperluas kebijakan tersebut dengan harapan dapat mengurangi tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika, terutama akibat kenaikan harga energi. Namun, kebijakan ini berpotensi menambah tekanan terhadap Ukraina.
Selama ini, Trump berulang kali mendorong Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menerima konsesi wilayah kepada Rusia sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian. Kyiv selama ini menolak tuntutan tersebut karena dinilai merugikan kedaulatan negaranya.
BBC menilai Trump mungkin akan semakin meningkatkan tekanan terhadap Zelensky setelah mengalami kekalahan politik di dalam negeri. Dia berpotensi menjadikan konflik Rusia-Ukraina sebagai salah satu perang yang ingin segera diselesaikan, meskipun kesepakatan yang ditawarkan belum tentu menguntungkan Ukraina.
Sementara itu, Kremlin menyatakan berharap hasil pemilihan paruh waktu AS tidak memengaruhi upaya perdamaian yang selama ini didorong Trump. Kekalahan pemilu tak menghentikan ambisi Trump.
Kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres memang dapat mempersempit ruang gerak Trump dalam mengatur kebijakan domestik. Namun, kewenangannya sebagai presiden dalam urusan luar negeri dan militer masih sangat besar.
Trump juga diperkirakan tetap melanjutkan sejumlah proyek besar dan kebijakan yang ingin dijadikan warisan kepemimpinannya. BBC mengingatkan bahwa memprediksi langkah Trump bukan perkara mudah. Kebijakan dan keputusannya kerap berubah mengikuti situasi politik yang berkembang.
Namun, satu hal yang dinilai relatif konsisten adalah keinginannya untuk mempertahankan pengaruh dan menunjukkan kekuatan. Dengan demikian, kekalahan politik di dalam negeri belum tentu membuat Trump melemah di panggung internasional.
Ada kemungkinan dia justru semakin agresif mengambil keputusan strategis untuk membuktikan bahwa dirinya masih mampu memengaruhi arah dunia. Trump Bisa Longgarkan Sanksi Rusia.
Konflik Rusia dan Ukraina juga menjadi perhatian dalam perkiraan langkah politik Trump setelah kekalahan pemilu. Perang yang berlangsung berkepanjangan itu berpotensi kembali menjadi instrumen kebijakan luar negeri Washington.
Sebelum pemilihan, Trump diketahui telah memberikan keringanan sanksi terhadap Moskow untuk pembelian solar Rusia. Kebijakan ini berpotensi menambah tekanan terhadap Ukraina.
BBC menilai Trump mungkin akan semakin meningkatkan tekanan terhadap Zelensky setelah mengalami kekalahan politik di dalam negeri. Dia berpotensi menjadikan konflik Rusia-Ukraina sebagai salah satu perang yang ingin segera diselesaikan, meskipun kesepakatan yang ditawarkan belum tentu menguntungkan Ukraina.
Sementara itu, Kremlin menyatakan berharap hasil pemilihan paruh waktu AS tidak memengaruhi upaya perdamaian yang selama ini didorong Trump. Kekalahan pemilu tak menghentikan ambisi Trump.
Kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres memang dapat mempersempit ruang gerak Trump dalam mengatur kebijakan domestik. Namun, kewenangannya sebagai presiden dalam urusan luar negeri dan militer masih sangat besar.