Cuaca panas kembali melanda Kota Surabaya, Jawa Timur, dengan suhu udara mencapai 35 derajat Celsius. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan terasa lebih melelahkan.
Kondisi panas ini menjadi tantangan bagi warga yang harus beraktivitas sejak pagi hingga siang hari. Termasuk pekerja lapangan, pengendara motor, pedagang kaki lima, dan pengguna transportasi umum.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu Kota Surabaya pada Kamis (5/11/2026) diperkirakan berkisar antara 29 hingga 35 derajat Celsius dengan cuaca cerah.
Suhu tinggi menyebabkan tubuh lebih mudah kehilangan cairan, terutama ketika beraktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, tubuh bisa mengalami dehidrasi.
Gejala dehidrasi meliputi rasa haus, lemas, pusing, hingga urine berwarna pekat. Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh di tengah cuaca panas yang menggigit?
Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh dan menghindari memaksakan aktivitas di luar ruangan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, jangan menunggu haus untuk minum air. Kebutuhan cairan harus terpenuhi meski belum merasa haus. Minum air putih secara berkala, terutama saat beraktivitas di luar ruangan atau berkeringat.
Kedua, hindari aktivitas fisik berat pada siang hari, terutama antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Jika harus keluar, cari tempat teduh untuk beristirahat.
Ketiga, gunakan pakaian berbahan ringan, longgar, dan berwarna terang agar tubuh lebih nyaman menghadapi panas.
Keempat, gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 untuk kulit yang tidak tertutup pakaian. Topi atau payung juga bisa membantu mengurangi paparan sinar matahari.
Kelima, hindari olahraga di luar ruangan saat cuaca panas. Pilih waktu pagi atau sore untuk berolahraga, atau lakukan di dalam ruangan.
Keenam, perbanyak istirahat. Jangan memaksakan tubuh terus bekerja jika mulai merasa lelah. Cari tempat sejuk dan minum air putih.
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap dampak cuaca panas, seperti dehidrasi hingga heatstroke.
Gejala yang perlu diperhatikan antara lain keringat berlebihan, pusing, mual, muntah, kram otot, jantung berdebar, dan urine berwarna kuning pekat.
Jika mengalami gejala tersebut, segera pindah ke tempat sejuk, lakukan pendinginan tubuh, dan cari bantuan medis. Jangan menunda penanganan jika ada tanda gangguan kesadaran.
Cuaca panas tidak bisa dihindari, tetapi risikonya bisa diminimalkan dengan menjaga asupan cairan, mengatur waktu aktivitas, dan mengenali tanda-tanda kelelahan akibat panas.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengambil langkah pencegahan sesuai rekomendasi BMKG dan Kementerian Kesehatan.
Pemantauan kondisi cuaca secara berkala juga penting untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan iklim.
Kesadaran masyarakat tentang kesehatan tubuh di tengah cuaca ekstrem perlu ditingkatkan untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih serius.
Pemerintah dan lembaga terkait terus memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi cuaca panas.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan menjadi kunci dalam mengurangi dampak negatif cuaca panas.
Penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental dalam situasi cuaca yang tidak menentu.
Setiap individu perlu memahami tanda-tanda tubuh yang mengalami kelelahan akibat panas.
Langkah-langkah sederhana seperti minum air cukup dan menghindari aktivitas berlebihan bisa menjadi perlindungan dasar.
Kesadaran akan kesehatan diri sendiri dan orang sekitar menjadi penting dalam menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengambil tindakan yang tepat saat menghadapi cuaca panas.