Aktris Dea Panendra pernah berhenti dari dunia aktif layar selama satu tahun setelah memilih tinggal di Portugal bersama suaminya, Rui Gomes.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi ia untuk mengenal gaya hidup dan kebiasaan masyarakat negara asal sang suami secara lebih mendalam.
Dea kembali ke Indonesia pada 2026 dan mulai fokus lagi dalam menekuni pekerjaan di bidang hiburan.
Kerinduannya terhadap aktivitas syuting menjadi salah satu alasan utama yang membuatnya menyambut tawaran bermain film Gasigogi.
'"Setelah setahun, akhirnya pulang dan dapat project film 'Gasigogi' ini. Kemaren juga pulang ke Indonesia karena rindu bermain, rindu kerja juga," kata Dea Panendra ketika ditemui di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10).
Perempuan berusia 35 tahun itu mengaku sangat menikmati pengalaman tinggal di Portugal.
Meski demikian, ia harus melakukan penyesuaian dengan sejumlah kebiasaan baru dari gaya hidup masyarakat Indonesia.
Salah satu hal paling mendalam bagi Dea adalah kebiasaan warga Portugal yang sering menggunakan jalan kaki untuk segala aktivitasnya.
Kebiasaan tersebut cukup membingungkannya karena biasanya di Indonesia lebih banyak orang bergantung pada kendaraan bermotor.
'"Di Portugal seru, sering jalan ya. Sekarang kan kalau di Indonesia jalan kaki paling 500 langkah. Di Portugal bisa 10.000 sampai 20.000 langkah sampai jempol kaki berdarah," ucapnya.
Aktivitas sederhana seperti berbelanja hingga berkumpul bersama teman cenderung dilakukan dengan cara berjalan kaki oleh penduduk setempat.
Hal ini membuat ia harus terbiasa menempuh perjalanan panjang secara manual dan tidak selalu mengandalkan transportasi modern.
Apalagi, jika dibandingkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering menggunakan mobil atau layanan daring untuk mobilitas sehari-hari.
Di Portugal, Dea tidak bisa selalu memakai kendaraan pribadi untuk mencapai tempat tujuan.
Ia juga harus membawa sendiri barang belanjaannya serta melangkah menuju rumahnya.
'"Kalau kita di sini ke mana-mana selalu pakai kendaraan online dan segala macam. Di sana belanja digotong sendiri, jalan kaki lumayan capek. Kalau masalah makanan cocok, karena mereka juga makan nasi," jelasnya.
Meski sempat merasa lelah akibat pengarahan gaya hidup baru tersebut, ia menyebut bahwa hal itu menjadi bagian menarik dari perjalanan tinggal di luar negeri.
Dea dapat mengalami secara langsung betapa kebiasaan masyarakat setempat berpengaruh terhadap rutinitas sehari-hari.
Ia pun menjelaskan bahwa masalah pangan bukan merupakan hambatan besar selama tinggal di Portugal.
Menurut Dea, beberapa jenis makanan yang dikonsumsi warga sana masih familiar bagi dirinya.
Bahkan ada bahan-bahan tertentu yang bisa jadi tidak biasa untuk orang lain tetapi juga diterima oleh penduduk lokal.
'"Sama makan ceker ayam juga, tutut (keong sawah) mereka juga makan," sambungnya.
Setelah menetap di Portugal selama satu tahun, Dea dan Rui Gomes akhirnya memilih kembali ke Indonesia.
Yang menarik adalah, menurut Dea, niat pulang ke Tanah Air lebih didorong oleh sang suami daripada dirinya sendiri.
Dea menyambut baik rencana tersebut karena ia merasa itu merupakan langkah tepat bagi keluarga mereka.
Sebagai seorang aktif layar, ia pun memiliki kesempatan untuk melanjutkan karier setelah sempat mengambil jeda dari dunia hiburan.
'"Suami aku malah justru lebih suka Indonesia karena iklimnya tropis dan manusianya menyenangkan. Kalau bahasa Suamiku Ya bisa lah kalau 'aku lapar' dia bisa," ujar Dea Panendra.
Kembalinya Dea ke Indonesia membuka peluang baginya menerima proyek film baru yang bisa diwujudkannya kembali sebagai aktris profesional.
Salah satu proyeknya adalah Gasigogi, sebuah film yang menjadi tugas utamanya usai menjalani masa istirahat selama setahun.