Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak hasil sejumlah jajak pendapat independen yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinannya menjelang pemilu sela 2026. Ia menyebut angka-angka survei nasional tersebut tidak mencerminkan dukungan masyarakat yang sebenarnya.
Penolakan itu disampaikan saat Trump diwawancarai jurnalis senior The Washington Examiner, Byron York, pada Sabtu (24/10/2026). Dalam wawancara tersebut, York memaparkan data RealClearPolitics yang menunjukkan 60,4 persen warga AS tidak puas terhadap kinerja Trump, sedangkan 38,8 persen menyatakan puas.
Trump langsung membantah angka tersebut. Presiden berusia 80 tahun itu menegaskan bahwa tingkat kepuasan terhadap kinerjanya tidak berada di kisaran 38 persen.
"“Tingkat kepuasan terhadap kinerja, mereka bilang 37, 38 persen? Saya tidak berada di angka 38 persen,"” ujar Trump, seperti dikutip The Independent.
"Sebaliknya, Trump mengklaim tingkat dukungannya berada di atas 50 persen. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa tidak ada tokoh yang mampu mengalahkannya dalam persaingan politik."
"Saya tidak percaya ada siapa pun yang bisa mengalahkan saya. Saya pikir, kalau saya membutuhkannya, meskipun saya tidak membutuhkannya, saya pikir angkanya 60 persen," katanya.
Trump turut menyinggung dukungan kuat dari basis pemilih Partai Republik, khususnya kelompok pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA). Menurut dia, antusiasme para pendukung dalam berbagai rapat umum menjadi salah satu gambaran dukungan terhadap kepemimpinannya.
Survei Nyatakan Tidak Puas dengan Trump
Namun, sejumlah survei nasional menunjukkan hasil berbeda. Survei Reuters/Ipsos yang berlangsung pada 16–19 Oktober mencatat tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump sebesar 34 persen, sementara 65 persen responden menyatakan tidak puas.
Temuan serupa muncul dalam survei Pew Research Center yang dilakukan pada 28 September hingga 4 Oktober. Survei tersebut mencatat 30 persen warga AS menyetujui kinerja Trump, sedangkan 68 persen lainnya menyatakan tidak puas.
Jajak pendapat terbaru yang digelar The New York Times bersama Siena College juga mencatat tingkat persetujuan Trump sebesar 34 persen. The New York Times menyebut angka tersebut sebagai tingkat persetujuan terendah bagi seorang presiden AS menjelang pemilu sela sejak Harry Truman mencatat 33 persen pada 1946.
Untuk mendukung klaimnya, Trump mengutip analisis Harry Enten, kepala analis data CNN, mengenai tingkat dukungannya di kalangan pemilih Partai Republik. Data yang dipaparkan Enten menunjukkan bahwa Trump masih memperoleh dukungan sangat tinggi dari kelompok pemilih yang mendukung gerakan MAGA.
Enten menyebut Trump meraih dukungan 99 persen dari kelompok tersebut dalam pemilihan presiden 2024. Tingkat kepuasan di kelompok yang sama juga tercatat mencapai 98 persen pada September 2026.
Trump kemudian menggunakan data itu untuk menegaskan keyakinannya bahwa tingkat dukungan terhadap dirinya masih tinggi. Ia memperkirakan angka persetujuan secara keseluruhan berada di kisaran 60 persen.
"Saya pikir sekarang angkanya akan berada di kisaran 60-an persen. Di Partai Republik, dukungan terhadap saya sangat tinggi. Tunjukkan angka 99 persen itu. Kamu sudah melihatnya?" ujar Trump.
Meski demikian, analisis Enten juga menyoroti tantangan yang dihadapi Trump dalam menangani inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Berdasarkan data yang dipaparkan, net approval rating Trump dalam penanganan inflasi turun dari surplus delapan poin pada 2024 menjadi minus 45 poin menjelang pemilu sela.
Enten juga menggambarkan kondisi jajak pendapat Trump sebagai situasi yang sulit bagi pemerintahannya. Dalam laporan lainnya, survei Reuters/Ipsos mencatat tingkat persetujuan terhadap Trump sebesar 31 persen, angka yang disebut sebagai rekor terendah sepanjang dua periode kepresidenannya.
Di tengah beragam hasil survei tersebut, Trump tetap memberikan apresiasi kepada Enten dan CNN. Ia menilai beberapa jajak pendapat yang ditampilkan oleh stasiun televisi itu menunjukkan tingginya dukungan terhadap dirinya di kalangan pemilih Partai Republik.
"Mereka memang melakukan beberapa jajak pendapat yang bagus tentang saya, harus saya akui. Kalau CNN terus melakukan jajak pendapat seperti itu, saya akan semakin menyukai mereka," kata Trump.
Hasil survei tersebut menjadi perhatian menjelang pemilu sela yang akan menentukan komposisi Kongres AS. Partai Republik menghadapi tantangan mempertahankan mayoritas di Senat serta Dewan Perwakilan Rakyat dalam situasi di mana tingkat kepuasan terhadap presiden tercatat rendah dalam sejumlah jajak pendapat.
Meski demikian, hasil survei nasional tidak secara langsung menentukan hasil pemilu sela. Persaingan di setiap daerah pemilihan, tingkat partisipasi pemilih, dan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat juga dapat memengaruhi hasil pemungutan suara.
Perbedaan antara klaim Trump dengan hasil beberapa survei membuat tingkat kepuasan publik menjadi salah satu isu penting menjelang pemilu sela 2026. Perkembangan selanjutnya akan menunjukkan bagaimana pandangan pemilih terhadap kepemimpinan Trump tercermin dalam persaingan politik di tingkat federal.