LambeTurahBali - Karnaval gratis biasanya tidak kekurangan penonton. Namun di Sleman, RANS Carnival justru menjadi tontonan lain: perdebatan soal siapa sebenarnya yang datang.

Acara tersebut diselenggarakan dari tanggal 31 Oktober hingga 1 November 2026 di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Beberapa hari sebelumnya, Raffi Ahmad, pemilik perusahaan penyelenggara, menjadi sorotan setelah hadir dalam deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober.

Dalam pemberitaan, sejumlah peserta deklarasi disebut mengaku dibayar dan bukan mahasiswa. Raffi sendiri menyatakan ia hadir sebagai undangan dan tidak terlibat dalam perencanaan acara. Seruan boikot terhadap kegiatan terkait RANS pun menyebar di media sosial.

Dampaknya mulai terlihat di Sleman. Pengisi acara yang dilaporkan mundur antara lain Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, Orkes Melayu Wawes, dan Fourtune. Sejumlah pelaku UMKM juga dikabarkan menarik diri.

Penyelenggara memilih jalan tengah. Acara tetap berjalan dengan konsep yang lebih sederhana. "Sejak awal, RANS Carnival hadir dengan tujuan memberikan hiburan gratis kepada masyarakat," demikian pernyataan resmi RANS Carnival.

Lalu muncul tangkapan layar. Di tengah kabar sepi, di media sosial beredar tangkapan layar yang memunculkan pertanyaan baru.

Salah satunya pesan berantai berbahasa Jawa yang menyebut warga yang ingin menonton konser Raffi Ahmad di Jogja akan difasilitasi bus gratis dan uang transport Rp100 ribu. Ada pula percakapan rombongan ibu-ibu RT yang menyebut uang saku Rp100 ribu per orang, kecuali anak-anak.

Seorang netizen menulis bahwa ia mendapat informasi dari warga Boyolali. Ada pula yang mengaitkannya dengan Pilpres 2029, sebuah opini, bukan temuan.

Semua itu belum terverifikasi. Identitas pengirim ditutup, dan tidak ada bukti dari pihak mana pun bahwa pengunjung dibayar.

Dari sisi aparat, Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo membantah tudingan mobilisasi massa. Pesan berantai yang ia bantah menyebut adanya pembagian uang belanja Rp50 ribu.

"“Saya tegaskan, kami dari kepolisian hanya mengamankan lokasi kegiatan, bukan seperti yang dimaksud pengerahan massa untuk datang ke lokasi,"” jelas Dhimas, Sabtu (31/10).

Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro menyampaikan penegasan senada. Menurutnya, polisi tidak pernah melakukan pengerahan massa.

Perhatikan satu hal. Angka yang beredar berbeda-beda: Rp50 ribu di satu pesan, Rp100 ribu di pesan lain. Artinya, belum ada satu versi pun yang bisa dipegang sebagai rujukan.

Di sisi lain, akun Raffi Nagita mengunggah video keramaian dengan ucapan terima kasih untuk Sleman. Dalam unggahan lain, tertulis doa: “Semoga segala fitnah dijauhkan, semuanya kembali baik, dan RANS bangkit kembali lebih kuat.”

Sebuah unggahan video juga menyebut bahwa di balik keramaian, ada antusiasme warga yang tetap memberi dukungan.

Jadi dua cerita berjalan bersamaan: acara yang sepi dan ditinggalkan, serta acara yang disebut tetap ramai dengan dukungan warga. Keduanya belum disertai data jumlah pengunjung yang bisa diperiksa.

Pertanyaan yang tersisa sederhana: siapa yang datang, dan mengapa? Selama penyelenggara belum memaparkan datanya secara terbuka, tangkapan layar dan bantahan akan terus beradu di linimasa.