Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas tinggi pada Rabu (4/11/2026). Sepanjang hari, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami enam kali erupsi berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disiarkan melalui MAGMA Indonesia, mulai dini hari hingga sore. Status gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini tetap berada pada Level III atau Siaga.

Laporan PVMBG mencatat enam erupsi pada Rabu, seluruhnya dalam waktu Indonesia bagian barat (WIB). Pukul 04.21 WIB, erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 138 detik. Pukul 05.05 WIB, amplitudo maksimum 19 milimeter dengan durasi sekitar 267 detik, meski petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru tidak dapat melihat letusannya secara visual.

Pukul 11.12 WIB, kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu, intensitas tebal, dan condong ke barat. Pukul 12.36 WIB, erupsi tidak teramati secara visual tetapi terekam seismograf dengan amplitudo 25 milimeter. Pukul 12.49 WIB, erupsi terekam dengan amplitudo 20 milimeter, disertai awan panas menurut laporan ANTARA, meski jarak luncurnya tidak teramati karena kabut menutup puncak.

Pukul 14.41 WIB, aktivitas erupsi terlihat secara visual dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, mengarah ke barat daya. Amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 136 detik. Petugas Pos Pengamatan PVMBG Agastya Rajendra mencatat bahwa aktivitas erupsi berlanjut hingga siang hari, setelah rangkaian erupsi yang dimulai sejak dini hari. "Aktivitas erupsi berlanjut pada siang hari. Pada pukul 11.12 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat,"

Dari keenam erupsi tersebut, hanya dua yang kolom abunya teramati jelas oleh petugas, yaitu pukul 11.12 dan 14.41 WIB. Tiga lainnya hanya terdeteksi alat. Seismograf penting karena merekam getaran saat erupsi terjadi, termasuk saat kabut atau awan menutup puncak. Laporan PVMBG juga menegaskan bahwa jumlah kejadian dalam laporan tidak mewakili total gempa erupsi dalam 24 jam, sehingga judul berita menggunakan kata 'tercatat'.

Pada dini hari Kamis, terjadi susulan erupsi dengan awan panas meluncur sejauh 3 kilometer. Peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Semeru tetap memerlukan pemantauan ketat oleh instansi terkait.

Pada hari Kamis (5/11/2026), aktivitas Gunung Semeru kembali terjadi setelah sebelumnya berhenti pada Rabu. Media melaporkan bahwa Semeru meletus tiga kali berturut-turut pada pagi hari, yaitu pada pukul 03.33 WIB, 05.37 WIB, dan 06.33 WIB. Erupsi terbesar terjadi pada pukul 06.33 WIB, dengan kolom abu kelabu yang teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut. Erupsi ini juga diikuti oleh awan panas guguran yang meluncur hingga sekitar 3 kilometer dari puncak.

Ada beberapa informasi yang perlu diperjelas terkait data yang beredar. Angka

yang sering disebutkan berkaitan dengan jarak luncur awan panas pada erupsi Kamis pagi, bukan tinggi letusan pada Rabu. Jarak luncur mengacu pada seberapa jauh material panas bergerak di lereng, sedangkan tinggi kolom abu menggambarkan seberapa tinggi abu menyembur ke udara. Kedua parameter ini berbeda dan sebaiknya tidak dikaitkan satu sama lain.

Status Siaga (Level III) merupakan tingkat kewaspadaan yang lebih rendah dibandingkan Level IV (Awas), yang merupakan tingkat tertinggi. Pada status ini, aktivitas gunung masih berpotensi menimbulkan bahaya di sekitar kawah dan alur sungai yang berhulu di puncak. Untuk itu, PVMBG menetapkan larangan aktivitas di wilayah tertentu guna meminimalkan risiko.

PVMBG memberikan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat dan wisatawan. Sektor tenggara dilarang untuk beraktivitas di sepanjang alur Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, masyarakat diminta menghindari aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena wilayah ini berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

Selain itu, radius 5 kilometer dari kawah atau puncak dilarang untuk beraktivitas karena risiko terkena lontaran batu pijar. PVMBG juga mengingatkan potensi ancaman seperti awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Awan panas guguran merujuk pada luncuran material panas dan gas dari kubah atau tebing lava yang runtuh. Guguran lava terjadi saat bagian lava pijar yang menumpuk di puncak terpecah. Lahar adalah aliran campuran material vulkanik dan air, terutama saat hujan deras di area puncak, yang bisa meluncur jauh melalui sungai.

Untuk menjaga keselamatan, masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi batas zona yang ditetapkan PVMBG dan menghindari puncak maupun sungai berhulu di Semeru. Persiapan masker, kacamata pelindung, serta perlindungan anak-anak dan lansia diperlukan jika terjadi hujan abu. Aktivitas di tepi sungai harus dihindari saat hujan, terutama di wilayah puncak, karena risiko lahar tiba-tiba.

Masyarakat juga disarankan menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, dan makanan ringan, serta memahami jalur evakuasi dari BPBD setempat. Pengikutan perkembangan melalui kanal resmi PVMBG sangat penting untuk menghindari informasi yang tidak akurat.

Semeru, dengan puncak Mahameru yang mencapai ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung ini dikenal sebagai salah satu yang paling aktif di Indonesia, sehingga erupsi berulang kali sering terjadi dan bukan hal yang asing bagi penduduk sekitar. Meski sudah terbiasa dengan aktivitasnya, kewaspadaan tetap harus dijaga untuk menghindari pengabaian terhadap peringatan resmi.

Sejarah erupsi Semeru telah berlangsung selama puluhan tahun. Peristiwa besar pada Desember 2021, yang diiringi awan panas guguran dan menewaskan puluhan orang, menjadi pengingat bahwa status gunung dan rekomendasi zona aman tidak boleh dianggap sepele. Setiap kali PVMBG memperbarui rekomendasinya, hal tersebut didasarkan pada pengamatan terkini terhadap kondisi puncak dan alur sungai.

Bagi warga yang tinggal atau bekerja di sekitar kawasan rawan, kebiasaan sederhana seperti memantau informasi resmi harian dan memahami jalur evakuasi dapat menjadi penentu kecepatan respons ketika kondisi berubah. Langkah-langkah ini menjadi krusial dalam meminimalkan risiko.

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas Semeru melalui sumber resmi seperti PVMBG, MAGMA Indonesia, dan BPBD setempat. Informasi yang diperbarui secara berkala membantu masyarakat dalam mengambil keputusan yang tepat untuk keselamatan diri dan lingkungan sekitar.