Misteri keberadaan Bahtera Nabi Nuh AS kembali menjadi perhatian dunia. Tim peneliti internasional yang tergabung dalam Noah's Ark Scans mengklaim menemukan material kayu hangus dan tidak hangus yang terkubur di bawah Formasi Durupınar, Turki.

Temuan tersebut diduga berpotensi menjadi petunjuk baru mengenai keberadaan kapal Nabi Nuh yang selama ini menjadi perbincangan para peneliti.

Material kayu itu dilaporkan ditemukan pada kedalaman hampir 30 kaki atau sekitar 9 meter di bawah permukaan tanah. Tim peneliti menduga sebagian material tersebut merupakan sisa-sisa Bahtera Nabi Nuh yang mengalami kebakaran pada masa lampau.

Penemuan ini semakin menarik perhatian karena Formasi Durupınar memiliki bentuk menyerupai kapal berukuran besar. Struktur geologi tersebut memiliki panjang sekitar 538 kaki atau setara 164 meter dan berada tidak jauh dari kawasan Gunung Ararat di Turki.

Dikutip dari New York Post dan Daily Mail, Minggu (1/11/2026), Formasi Durupınar telah menarik perhatian sejak pertama kali ditemukan pada 1959. Bentuknya yang menyerupai badan kapal membuat lokasi tersebut kerap dikaitkan dengan kisah Bahtera Nabi Nuh.

Peneliti Temukan Kayu Hangus di Formasi Durupınar.

Kepala proyek sekaligus pendiri Noah's Ark Scans, Andrew Jones, mengungkapkan penemuan material kayu tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam penelitian mereka.

Menurut Jones, material yang ditemukan terdiri atas kayu dalam kondisi hangus dan tidak hangus. Keduanya berada jauh di bawah permukaan tanah sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui asal-usulnya.

"Ada kemungkinan kita telah menemukan sisa-sisa hangus Bahtera Nuh," ujar Jones kepada Daily Mail.

Meski demikian, para peneliti belum dapat memastikan penyebab kayu tersebut mengalami pembakaran. Ada beberapa kemungkinan yang sedang dipertimbangkan, mulai dari pembakaran yang disengaja, sambaran petir, hingga aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.

Jones juga mengemukakan kemungkinan lain. Material yang terbakar itu bisa saja berasal dari sisa api unggun yang pernah dinyalakan para penggembala ketika berlindung di sekitar lokasi tersebut.

Karena itu, temuan kayu hangus masih membutuhkan pengujian ilmiah untuk memastikan usia, komposisi, dan keterkaitannya dengan struktur Durupınar.

Pemindaian Radar Ungkap Pola Seperti Ruangan dan Koridor.

Sebelum menemukan material kayu, tim Noah's Ark Scans telah melakukan pemindaian menggunakan teknologi radar penembus tanah atau ground-penetrating radar (GPR).

Teknologi tersebut digunakan untuk memetakan struktur yang berada di bawah permukaan tanah tanpa harus melakukan penggalian besar-besaran.

"Ini adalah penemuan paling signifikan dalam 45 tahun karier saya. Ini tidak terkait dengan geologi, karena kami telah menutupi semua fitur geologisnya," kata Bakhtar.

Tim peneliti juga melakukan analisis terhadap sampel tanah di sekitar lokasi penemuan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah dari bagian dalam struktur mengandung bahan organik tiga kali lebih banyak dibandingkan sampel dari bagian luar.

Selain itu, kandungan kalium pada tanah bagian dalam lebih tinggi 38 persen dibandingkan tanah bagian luar.

Perbedaan ini dianggap sebagai indikasi adanya aktivitas atau material berbeda di dalam struktur.

Namun, hasil analisis tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa struktur ini merupakan peninggalan kapal Nabi Nuh.

Kisah Bahtera Nabi Nuh dalam Al-Qur'an menjadi dasar perhatian umat Islam terhadap penelitian ini.

Dalam ajaran Islam, Nabi Nuh AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk membangun kapal besar sebagai sarana penyelamatan.

Kapal ini digunakan untuk menyelamatkan Nabi Nuh, pengikutnya yang beriman, dan sejumlah hewan saat banjir besar melanda.

Banjir tersebut merupakan azab bagi kaum yang ingkar terhadap perintah Allah.

Setelah banjir surut, kapal berlabuh di Gunung Judiy sesuai kisah dalam Al-Qur'an surah Hud ayat 44.

Allah SWT berfirman: "Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah (mencurahkan hujan)."

Artinya: "Kebinasaanlah bagi kaum yang zalim."

Ayat ini menjelaskan akhir dari peristiwa banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh.

Meski ada berbagai temuan yang dianggap mendukung keberadaan Bahtera Nabi Nuh di Turki, klaim ini masih memerlukan bukti ilmiah yang lebih kuat.

Material kayu, pola ruang bawah tanah, dan perbedaan kandungan tanah menjadi petunjuk yang perlu diuji lebih lanjut.

Proses penentuan usia material melalui analisis laboratorium dan penelitian independen menjadi tahapan penting untuk memastikan asal-usul struktur.

Formasi Durupınar masih menjadi objek penelitian yang menarik namun kontroversial.

Klaim bahwa lokasi ini merupakan tempat berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang terbukti.

Penelitian lanjutan diharapkan memberikan penjelasan lebih jelas tentang asal-usul struktur geologi tersebut.