Pada awal November 2026, perubahan cuaca mulai terasa di sejumlah wilayah Jawa Timur. Meski sebagian daerah masih mengalami cuaca panas, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai meningkat dan perlu diwaspadai oleh masyarakat.
BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di 21 kabupaten/kota di Jawa Timur pada periode 2–9 November 2026. Peringatan ini dikeluarkan karena kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menyampaikan peringatan ini sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan atmosfer yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Wilayah-wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah 21 kabupaten/kota di Jawa Timur. Daftar tersebut mencakup Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Jember, Lumajang, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Banyuwangi, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Pacitan, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Kota Batu, dan Magetan.
Masyarakat di wilayah tersebut diminta lebih waspada terhadap perubahan cuaca, terutama saat hujan turun dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Wilayah dengan kondisi geografis berupa lereng, perbukitan, atau kawasan sekitar aliran sungai perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena berisiko mengalami tanah longsor atau banjir.
Meski potensi hujan mulai muncul pada awal November, BMKG memprediksi kemunduran awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Jawa Timur.
Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, dari total 74 Zona Musim (ZOM), hanya lima ZOM yang diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026.
Sementara itu, 68 ZOM lainnya diharapkan memasuki musim hujan pada Desember 2026. Satu ZOM di wilayah Situbondo bagian utara diprediksi menyusul pada Januari 2027.
Lima wilayah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada November meliputi sebagian Ponorogo, Madiun, Magetan, Bojonegoro, Ngawi, Kediri, Nganjuk, Banyuwangi, dan Bangkalan.
Dengan demikian, hujan yang turun pada awal November tidak secara langsung menandai seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan.
El Nino menjadi salah satu faktor yang memengaruhi mundurnya musim hujan. BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berdampak pada penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kombinasi kedua fenomena ini memengaruhi pola cuaca, sehingga menyebabkan pergeseran awal musim hujan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyampaikan bahwa awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal.
Perubahan ini memengaruhi distribusi curah hujan dan memerlukan penyesuaian dalam pengelolaan sumber daya air serta mitigasi bencana.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta untuk tetap memperhatikan informasi cuaca dari BMKG dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana.
BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan akan memberikan pembaruan jika diperlukan untuk menjaga keselamatan masyarakat.
Di Jawa Timur, dampak perubahan iklim terlihat dari prediksi 70 dari 74 Zona Otonom Madya (ZOM) atau sekitar 96,6 persen luas daratan mengalami kemunduran awal musim hujan.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk memperhatikan peringatan cuaca harian karena hujan lebat dapat terjadi secara lokal meskipun wilayah tersebut belum memasuki musim hujan secara klimatologis.
Munculnya potensi cuaca ekstrem pada awal November menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan bencana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/kota diharapkan memastikan kesiapan personel, peralatan evakuasi, logistik, serta sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana.
Pembersihan saluran air, pemeriksaan kondisi tanggul, serta pemantauan daerah aliran sungai menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko banjir.
Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan lereng diminta waspada terhadap tanda-tanda longsor, seperti munculnya retakan tanah, pohon atau tiang yang mulai miring, serta perubahan aliran air di sekitar permukiman.
Warga yang tinggal di sekitar sungai diimbau tidak mengabaikan kenaikan debit air, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu, untuk menghindari potensi banjir yang bisa terjadi secara tiba-tiba.