Chef Arnold Poernomo mendapat sorotan setelah memberikan kritik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Justru bukan dukungan yang ia dapatkan, melainkan respons negatif dari sejumlah netizen yang menyinggung sikapnya ketika program tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kontroversi ini bermula dari sebuah unggahan di akun Threads milik Chef Arnold. Dalam tulisannya itu, ia mengkritik kondisi beberapa dapur MBG yang dinilai belum memenuhi standar operasional yang layak meskipun harus melayani beban kerja yang berat.

Dalam unggahannya, Chef Arnold menyatakan "“Banyak dapur MBG dibangun dengan standard yg sangat minim...dengan operational load yang sangat berat,".

"Menurut Arnold, kondisi fasilitas dan peralatan dapur menjadi persoalan yang perlu segera dibenahi. Ia memperingatkan bahwa peralatan yang digunakan selama operasional berpotensi mengalami penurunan kualitas apabila tidak dirawat atau diganti secara berkala." tambahnya.

"Kalau sekarang sudah 2thn bentar lagi banyak peralatan mereka yang akan jebol...jangan sampe output kualitas semakin memburuk...jangan sampe nambah dana lagi karena bahan baku tiap taun naik...tapi budget makanan sama," imbuhnya.

Chef Arnold juga menyoroti bahwa pembenahan standard operating procedure (SOP) dan struktur pengelolaan dapur seharusnya menjadi prioritas utama dalam program tersebut.

Ia turut membagikan tangkapan layar percakapan dengan seseorang yang diduga merupakan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut Arnold, beberapa masukan yang ia sampaikan tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.

Arnold kemudian menyatakan bahwa kritik ini akan menjadi masukan terakhir yang ia beri mengenai persoalan MBG. Ia juga menegaskan bahwa pemasangan kamera pengawas atau CCTV tidak mampu menyelesaikan masalah jika kebutuhan dasar dapur belum terpenuhi.

"Ini akan menjadi masukan terakir saya. Pak BGN dan team, basic equipments, SOP, restructuring yang baik dulu dibenerin dengan serius kalau mau skema yang sekarang tetapi dijalankan. Percuma mau CCTV dll kalo basicnya ga dipenuhin," tegasnya.

Pernyataannya semakin mencuri perhatian setelah dirinya menyinggung sikapnya pada masa awal program MBG diperkenalkan kepada publik.

Ia bahkan meminta maaf kepada orang-orang yang sebelumnya mengira dirinya terlalu mendukung program tersebut. Arnold juga membantah tuduhan bahwa ia adalah suruhan dari pihak yang dikaitkan dengan Joko Widodo untuk memberi dukungan terhadap MBG.

"Untuk temen2 saya minta maaf karena harusnya ga goblok itu. Untuk yang bilang saya suruhan Solo pls mikir lagi. Ini contoh kenapa saya gedeg. Karena ada yg budeg. Buang waktu dan energy," tuturnya.

Pernyataan itu memicu berbagai perdebatan di media sosial. Sebagian netizen merasa Arnold baru menyampaikan kritik setelah sebelumnya menunjukkan dukungan besar terhadap program tersebut.

Namun, kritannya lebih fokus pada aspek teknis pelaksanaan program, mulai dari kelengkapan alat dan perlengkapan dapur hingga standar operasional serta kualitas bahan baku yang digunakan.

Arnold juga mengungkap dugaan praktik pemasok bahan baku yang disebut memberikan produk dengan kualitas buruk atau mendekati masa kedaluwarsa. Menurutnya, hal ini berpotensi memengaruhi mutu makanan yang disajikan kepada para siswa.

Selain itu, ia menyoroti beban kerja pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai terlalu berat, terutama ketika harus bekerja dalam kondisi fasilitas terbatas dan dikejar waktu penyajian.

"Jadi gini...banyak juga yg nakal main sama supplier kasih barang baku yg jelek dan sudah mau rusak. Banyak juga yg terlalu overworked dengan minim equipments. Outputnya tidak sesuai," jelas Arnold.

"Ia melanjutkan, kondisi pekerja yang kelelahan dan kewalahan dapat memengaruhi proses pengolahan serta distribusi makanan." tambahnya.

"Mereka manusia dan kecapean banget karena kewalahan dan disitu terjadi kejar kejaran dengan waktu... makanya banyak basi, tidak layak jadi sampah atau keracunan," sambungnya.

"Arnold turut menyentil sejumlah pihak yayasan yang menurutnya terkesan tidak peduli terhadap persoalan yang terjadi. Ia menilai pengawasan dan tanggung jawab pengelola perlu diperkuat agar masalah kualitas makanan tidak terus berulang." imbuhnya.

"Yayasan mah enak nyantai. Tar lagi paling kena kartu merah atau di intimidasi," pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritik Arnold terhadap tata kelola program MB yang ia anggap masih memiliki banyak celah. Meski demikian, dugaan mengenai kualitas bahan baku, pengelolaan dapur, serta penyebab kasus keracunan perlu ditelusuri lebih lanjut berdasarkan temuan dan hasil pemeriksaan oleh pihak berwenang.

Kritik terhadap MBG justru dibalas dengan sindiran netizen di berbagai platform media sosial.

Alih-alih fokus membahas substansi kritik yang disampaikan Arnold, sejumlah pengguna media sosial mengungkit rekam jejaknya selama ini yang dinilai mendukung pembangunan program tersebut.

Sutradara Muhadkly Acho turut memberikan respons melalui kolom komentar dengan menampilkan deretan emoji muntah dan tertawa sebagai bentuk pengejekannya.

Beberapa akun lain juga menyindir Arnold karena dianggap terlambat dalam menyampaikan pandangan terhadap MBG.

'"Ngomong mulu lu sep, dulu kan elu dukung mereka," tulis akun @si.fil***.'

"Komentar lain mempertanyakan mengapa Arnold tidak menyampaikan pertimbangan teknis sejak awal program berjalan."

'"Chef chef setelah pecah kongso wowo ama jokowi, baru ngomong ini. Kenapa ga dri awal ga kasih pertimbangan? Kan awal2 bisa? Ampe dulu hitungin harga menu makanan," ujar akun @leelee***.'

"Sindiran lebih keras juga datang dari akun @nymphandoras*** yang menyinggung dukungan Arnold pada masa awal program tersebut diperkenalkan."

'"Diem Arnold. Ga usah banyak teori. Lu salah satu yang endorse program prematur ini awal-awal ya," tulis akun tersebut.'

"Namun, salah satu komentar yang paling mencuri perhatian justru menyinggung persoalan sabun cuci tangan dan mengaitkannya dengan isu Solo."

'"Chef sabun cuci tangan di Resto anda ga make sabun cuci tangan dari Solo kan? Izin," tulis akun @usedtobeasweet****.'

Sindiran-sindiran yang muncul menjadi salah satu contoh bagaimana kritik Arnold berkembang menjadi perdebatan mengenai sikap dan kesetiaannya di ruang publik.

Perbedaan pandangan antara pihak yang menyoroti substansi kritiknya dengan pihanya mempertanyakan kekonsistenannya sejak awal program MBG terus berlangsung.

Hingga saat ini, kontroversi itu tetap mencuat dalam diskusi media sosial sebagai bentuk pro-kontra atas tindakan Arnold tersebut.

Meski demikian, persoalan standar dapur masih jadi hal penting untuk diperhatikan agar pelaksanaan program makan bergizi bagi siswa bisa lebih optimal.

Kelayakan bahan bakunya juga menjadi faktor utama dalam menjaga mutu dan keselamatan konsumen yang menggunakan layanan tersebut.

Beban kerja petugas di balik penyediaannya tidak boleh dipandang remeh karena berdampak langsung pada kualitas pangan yang disajikan kepada para murid.

Keamanan makanan tetap harus menjadi prioritas utama selain aspek gizinya, terutama mengingat peserta targetnya adalah anak-anak.

Dengan demikian, semua hal itu perlu diperhatikan agar program MBG bisa memberi dampak positif secara maksimal.