JatimLambeTurah - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur kini dilaporkan telah padam sementara.
Meski begitu, dampak kebakaran sepanjang Januari hingga Oktober 2026 terbilang cukup luas, yakni mencapai 11.895,35 hektare.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat tingginya dampak karhutla di Jawa Timur.
Dalam laporan resmi pada 23 Oktober 2026, BNPB menyebut karhutla telah melanda 26 kabupaten/kota dengan total 184 kejadian.
Luas lahan terbakar saat itu mencapai sekitar 11.449 hektare.
Dari total luasan tersebut, sekitar 77,05 persen merupakan kawasan hutan konservasi.
BNPB juga mencatat 5 petugas dan relawan pemadam kebakaran gugur saat menjalankan tugas dalam penanganan karhutla di Jawa Timur.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah memperkuat dukungan penanganan melalui operasi udara dan darat.
"Salah satu langkah yang dilakukan yakni menambah satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan untuk memperkuat operasi pemadaman di wilayah Malang," kata Kristomei Sianturi dalam laman resmi BNPB.
Selain itu, BNPB juga mengerahkan satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Kalimantan Barat guna mendukung upaya penanganan karhutla di Jawa Timur.
"Hari ini tadi saya sudah sampaikan kepada Direktur Pengelolaan Operasi untuk menambah satu helikopter dari Kalsel ke Malang, terutama untuk water bombing, dan satu lagi pesawat OMC dari Kalbar untuk mendukung operasi modifikasi cuaca yang ada di Jawa Timur. Kita harapkan dengan tambahan alutsista ini, kita bisa dengan cepat dan kebakaran pun tidak membara atau meluas," ujar Kristomei dalam keterangan resmi BNPB, Jumat (23/10/2026).
Selain memperkuat penanganan, BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran baru.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, tercatat sebanyak 187 kejadian karhutla yang tersebar di 27 kabupaten/kota.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan kawasan pegunungan menjadi salah satu wilayah yang paling rawan mengalami kebakaran, terutama daerah dengan hamparan sabana luas dan vegetasi kering.
"Total luasan area yang terdampak karhutla di Jawa Timur pada tahun ini sudah mencapai 11.895,35 hektare dari 187 kejadian di 27 daerah," ungkap Gatot seperti dikutip dari situs Surabaya Bisnis, Senin (2/11/2026).
Sejumlah kawasan yang sempat terdampak kebakaran di antaranya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah, Gunung Arjuno-Welirang di kawasan Tahura Raden Soerjo, Gunung Argopuro, hingga Gunung Ijen.
Gatot menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di kawasan pegunungan.
"Faktor penyebab kebakaran di kawasan pegunungan ini beragam, mulai dari aktivitas manusia seperti kelalaian, api unggun, dan pembukaan lahan, hingga faktor alam akibat kekeringan dan gesekan ranting," tambahnya.
Meski sejumlah titik kebakaran telah padam, BPBD Jatim tidak menghentikan upaya pemantauan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api, terutama di kawasan yang memiliki potensi kebakaran tinggi.
"Kami terus melakukan pemantauan hotspot melalui satelit, mengerahkan satuan tugas darat, hingga menyiapkan helikopter untuk operasi water bombing darurat," jelasnya.