Jakarta kembali menjadi pusat perhatian para investor pada Januari hingga September 2026. Kota ini mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp249,3 triliun, menempatkan Jakarta di posisi pertama secara nasional. Jawa Barat mengikuti di posisi kedua. Angka ini tidak hanya mencerminkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyerap 440.744 tenaga kerja di berbagai sektor usaha selama periode tersebut.

Berdasarkan data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total realisasi investasi nasional pada Januari-September 2026 mencapai sekitar Rp1.539 triliun. Dari jumlah tersebut, Jakarta menyumbang 16,2 persen, menunjukkan peran pentingnya dalam perekonomian nasional.

Jawa Barat menjadi runner-up dengan realisasi investasi sebesar Rp229,1 triliun, diikuti oleh Sulawesi Tengah dengan Rp116 triliun, Jawa Timur sebesar Rp110,5 triliun, dan Maluku Utara dengan Rp96 triliun. Meski Jakarta memimpin dengan selisih sekitar Rp20 triliun, persaingan dengan Jawa Barat tergolong ketat.

Realisasi investasi Jakarta pada periode Januari-September 2026 meningkat 22,1 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat Rp204,2 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan signifikan sebesar Rp45 triliun dalam setahun.

Pada triwulan III 2026 (Juli-September), realisasi investasi Jakarta mencapai Rp75,7 triliun. Rinciannya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp53,6 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai 1,34 miliar dolar AS atau setara Rp22,1 triliun. PMDN mendominasi dengan porsi 71 persen, berbeda dari pola nasional yang hampir seimbang antara PMA dan PMDN.

Investasi di Jakarta pada triwulan III 2026 menyumbang 14,3 persen terhadap total investasi nasional pada periode yang sama. Angka ini tumbuh hampir 20 persen dibandingkan triwulan III 2025 yang tercatat Rp63,3 triliun, menunjukkan konsistensi pertumbuhan.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta, Heru Hermawanto, menekankan bahwa penyerapan tenaga kerja menjadi indikator keberhasilan investasi. "Bagi kami, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya nilai penanaman modal yang masuk, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Penyerapan lebih dari 440 ribu tenaga kerja ini menunjukkan bahwa investasi memiliki peran penting dalam membuka kesempatan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi. Inilah dampak investasi yang ingin terus kami dorong agar semakin luas dan berkelanjutan," ujar Heru pada Selasa (3/11/2026).

Rinciannya, investasi dalam negeri menyerap 322.380 tenaga kerja (73 persen dari total), sementara investasi asing menyerap 118.364 tenaga kerja. Total keseluruhan mencapai 440.744 orang, mencerminkan dampak ekonomi yang luas.

Investasi di Jakarta terkonsentrasi di dua wilayah utama, yaitu Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Jakarta Selatan mencatatkan Rp96,9 triliun (39 persen), sedangkan Jakarta Pusat sebesar Rp68,5 triliun (28 persen). Kedua wilayah ini menyumbang sekitar dua pertiga dari total investasi Jakarta, menunjukkan dominasi kawasan bisnis utama.

Sektor transportasi dan telekomunikasi menjadi penyumbang terbesar bagi realisasi investasi di Jakarta. Pola ini mencerminkan fokus pengembangan infrastruktur dan teknologi yang mendukung pertumbuhan ekonomi kota.

Di sisi sektor usaha, tiga besar yang mencatatkan realisasi terbesar adalah Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi dengan total Rp76,3 triliun (31 persen). Sektor Jasa Lainnya mengikuti dengan Rp69,3 triliun (28 persen), diikuti oleh Perdagangan dan Reparasi yang mencapai Rp34,3 triliun (14 persen).

Dominasi sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi menunjukkan bahwa konektivitas menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi ibu kota. Ketiga sektor ini bersama-sama menguasai sekitar 72 persen dari total realisasi.

Untuk investasi asing, Singapura menduduki posisi teratas dengan nilai Rp37,9 triliun. Republik Rakyat Tiongkok menyusul dengan Rp12,9 triliun, diikuti oleh Hong Kong dengan Rp7,6 triliun, Jepang sebesar Rp6,9 triliun, dan Korea Selatan mencatatkan Rp3,3 triliun.

Heru menilai bahwa kepercayaan investor internasional adalah modal penting yang harus terus dijaga. "Kepercayaan investor internasional merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi investasi utama, baik nasional maupun regional. Kami akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif melalui peningkatan kualitas pelayanan perizinan, kemudahan berusaha, serta fasilitasi atas kebutuhan dan kendala investor," jelasnya.

Resep Pemprov DKI Jakarta dalam mencapai hasil ini tidak lepas dari infrastruktur, iklim usaha, serta arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menyediakan pelayanan publik yang prima. "Capaian ini membuktikan bahwa Jakarta memiliki daya saing, infrastruktur, dan iklim usaha yang mendukung pertumbuhan investasi," ungkapnya.

Untuk mempermudah investor, DPMPTSP DKI Jakarta mengoptimalkan operasional Mal Pelayanan Publik (MPP), menjalankan program jemput bola, serta memberikan pendampingan terpadu agar proses perizinan dan pelaksanaan proyek berjalan lebih lancar. "Kemudahan perizinan dan kepastian pelayanan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dunia usaha," kata Heru.

Pemprov DKI juga aktif mempromosikan potensi investasi daerah melalui berbagai forum bisnis internasional untuk menggaet mitra strategis, khususnya di sektor produktif dan ramah lingkungan.

Target jangka panjang yang diusung Gubernur Pramono Anung adalah menjadikan Jakarta masuk jajaran 20 besar kota global pada 2045. Pramono menyampaikan kinerja ekonomi Jakarta masih kuat dalam acara temu investor di Balai Kota, Senin (2/11/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan II 2026 sebesar 5,52 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,29 persen.

Bagi Heru, arah pengembangan ke depan tidak berhenti di soal nilai. "Kami ingin investasi asing yang masuk ke Jakarta semakin berkualitas dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Selain meningkatkan realisasi investasi, investasi diharapkan mendorong pengembangan usaha, memperkuat aktivitas ekonomi, dan membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat," pungkasnya.

Bagi pencari kerja, angka 440 ribu tenaga kerja terserap terdengar menggembirakan, meski perlu diingat bahwa angka tersebut adalah serapan kumulatif dari proyek-proyek yang direalisasikan, bukan jumlah lowongan baru yang terbuka bersamaan. Dalam praktiknya, besar kecilnya manfaat bagi warga juga bergantung pada sektor dan jenis pekerjaan yang tercipta.