Kota Madiun mencatat inflasi tahunan tertinggi di Jawa Timur pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan inflasi year-on-year (y-on-y) Kota Madiun mencapai 3,50 persen, yang lebih tinggi dibandingkan inflasi Jawa Timur secara keseluruhan sebesar 3,09 persen.
Sementara itu, Banyuwangi menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah di Jawa Timur, yaitu sebesar 2,52 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa inflasi tahunan Jawa Timur pada Oktober 2026 relatif lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional. Meski demikian, perkembangan harga sejumlah komoditas tetap perlu diperhatikan.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,70 persen. Kelompok ini memberikan kontribusi sebesar 1,30 persen terhadap inflasi umum Jawa Timur.
"Selain pangan, kelompok transportasi juga memberikan tekanan terhadap perkembangan harga. Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2026 antara lain bensin dan angkutan udara," kata Herum dalam pemaparan Berita Resmi Statistik BPS Jatim, Senin (2/11/2026).
Dari sektor pangan, komoditas yang turut mendorong inflasi tahun kalender meliputi beras, daging sapi, dan minyak goreng. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya berasal dari kebutuhan sehari-hari, tetapi juga biaya mobilitas masyarakat.
Herum menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang belum mendukung produktivitas pertanian turut memengaruhi pasokan sejumlah komoditas hortikultura, khususnya cabai dan tomat.
"Keterbatasan pasokan air dan kondisi cuaca yang tak mendukung berpengaruh signifikan terhadap produktivitas hasil panen petani," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kestabilan pasokan dan harga bahan pangan di pasar.
Di tengah tekanan inflasi, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga secara tahunan.
BPS mencatat telur ayam ras, bawang merah, kelapa, dan cabai merah termasuk komoditas yang memberikan andil penahan inflasi tahunan.
Perbedaan pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa perkembangan inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketersediaan pasokan, kondisi produksi, distribusi, hingga permintaan masyarakat.
Dengan inflasi tahunan Kota Madiun mencapai 3,50 persen, pemantauan harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah.
Upaya menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan pangan diharapkan dapat membantu mengendalikan tekanan harga sehingga tidak semakin membebani pengeluaran masyarakat.