Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memanggil manajemen Meta Platforms untuk meminta klarifikasi terkait jawaban kontroversial dari Meta AI mengenai dugaan pemblokiran konten kritik masyarakat. Persoalan ini mencuat setelah jawaban asisten kecerdasan buatan tersebut memicu kegaduhan dan menimbulkan dugaan bahwa pemblokiran akun terjadi atas permintaan pemerintah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Mediodecci Lustarini, menegaskan bahwa jawaban keliru yang dihasilkan chatbot dapat menjadi contoh halusinasi kecerdasan buatan. Karena itu, pernyataan Meta AI tak dapat langsung dianggap sebagai keterangan resmi perusahaan ataupun bukti adanya perintah pemerintah untuk membatasi akun pengguna.
Mediodecci turut mengingatkan masyarakat agar memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan AI sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Ia menekankan pentingnya menggunakan sumber tepercaya, terutama informasi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah atau tuduhan terhadap pihak tertentu.
AI dapat membantu masyarakat mencari dan memahami informasi, tetapi jawabannya tidak selalu benar. Karena itu, setiap informasi penting tetap harus diperiksa melalui sumber yang kredibel, terutama jika menyangkut kebijakan pemerintah atau tuduhan terhadap pihak tertentu,
Selain menanggapi isu pemblokiran, Komdigi meluruskan dugaan pembatasan konten masyarakat mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mediodecci menegaskan bahwa informasi yang disampaikan warga mengenai kebakaran hutan justru penting untuk membantu pemerintah menangani kejadian di lapangan.
Informasi mengenai karhutla yang disampaikan masyarakat itu sangat penting sebagai masukan bagi pemerintah dalam mendukung upaya penanganan di lapangan,
Prinsip moderasi itu bukan pada akunnya, namun pada konten apa yang disebarkan,
Transparansi algoritma juga diperlukan agar masyarakat memiliki pemahaman dan kendali yang lebih baik atas informasi yang ditampilkan kepada mereka, termasuk kemampuan menentukan preferensi informasi dan tidak sepenuhnya bergantung pada rekomendasi otomatis platform,
Kasusnya bukan Meta anti-demo, sebagian besar pemblokiran itu karena Meta nurutin permintaan hukum dari Komdigi. Kalau sampai ke-blokir kebablasan atau kena auto-moderasi, Meta biasanya restore dan minta maaf,
Setelah dicepuin AI, sekarang AI nya pun dibungkam. Sebenernya KOMDIGI ini kerja nya bisa cepet lohh, tapi ya begitu deh,