Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menunjukkan dukungan terhadap tindakan kepolisian dalam memberantas peredaran narkotika di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Dukungan tersebut disampaikan setelah dilakukannya operasi gabungan yang melibatkan Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Korps Brimob pada Minggu (1/11/2026) pagi.
Pramono berharap operasi pemberantasan narkoba tidak hanya berhenti pada penindakan di Kampung Bahari.
Ia menekankan pentingnya melanjutkan upaya tersebut secara konsisten untuk memutus mata rantai peredaran narkotika di Jakarta.
"Kami berharap bahwa untuk perang narkoba ini tidak setengah-setengah, dilanjutkan dan kami menjadi bagian itu," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (2/11/2026).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menyatakan kesiapan untuk mendukung langkah kepolisian dalam memberantas peredaran narkotika.
Menurut Pramono, pemerintah daerah akan berpartisipasi dalam upaya penindakan terhadap aktivitas peredaran barang terlarang tersebut.
"Pemerintah DKI Jakarta memberikan support sepenuhnya kepada Polri yang sedang memberantas, mengambil tindakan tegas, perang terhadap narkoba," ucap Pramono.
Ia menegaskan kembali bahwa Pemprov DKI Jakarta siap berkolaborasi dengan Polri dalam menjalankan upaya pemberantasan narkoba.
Pramono berharap langkah tersebut dapat terus berlanjut sehingga penindakan tidak hanya berlangsung dalam satu operasi.
"Sehingga dengan demikian sekali lagi Pemerintah DKI Jakarta untuk hal yang berkaitan dengan perang terhadap narkoba, kami bagian dari apa yang menjadi keinginan Polri, ya," katanya.
Operasi pemberantasan narkoba di Kampung Bahari dilakukan dengan melibatkan sebanyak 1.800 personel gabungan.
Dalam operasi tersebut, aparat menggunakan Kereta Luar Biasa (KLB) rute Jakarta Kota-Tanjung Priok dan kendaraan bermotor untuk mengepung lokasi dari berbagai arah.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso menjelaskan bahwa penggerebekan dilakukan secara serentak dengan melibatkan sejumlah instansi.
Personel yang terlibat berasal dari BNN, Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, Korps Brimob, dan unsur terkait lainnya.
"Yang jelas kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, ya, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya," kata Bismo kepada wartawan.
"Vice President Corporate Communication KAI Commuter Karina Amanda memastikan penggunaan kereta khusus untuk mengangkut personel tidak mengganggu operasional reguler Commuter Line. Perjalanan KLB tersebut berlangsung dengan tetap memperhatikan jadwal perjalanan kereta penumpang."
"Perjalanan tersebut tidak berdampak pada perjalanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok," ujar Karina dalam keterangannya.
"Meski demikian, tiga perjalanan Commuter Line relasi Jakarta Kota-Tanjung Priok sempat mengalami keterlambatan akibat kerumunan warga di sekitar jalur rel saat penggerebekan berlangsung. Keterlambatan tersebut berkisar antara 4 hingga 19 menit."
"Terdapat 3 perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjungpriok mengalami keterlambatan 4-19 menit yang disebabkan oleh kerumunan warga di rel dalam proses penggerebekan yang dilakukan," ungkap Karina.
Polisi menyita mesin pencetak pil ekstasi dan uang tunai selama operasi tersebut.
Dalam operasi tersebut, polisi mengamankan sedikitnya 26 orang yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika.
Petugas juga menyita sejumlah barang bukti berupa sabu, ganja, dan ribuan butir pil ekstasi.
Selain narkotika, aparat menemukan mesin pencetak pil ekstasi, senjata tajam, serta peralatan yang digunakan untuk penyalahgunaan narkoba.
Temuan tersebut menunjukkan adanya perlengkapan produksi dan konsumsi narkotika di lokasi penggerebekan.
"Kemudian ada mesin, mesin pencetak ekstasi, ya. Kemudian ada sajam dan bong, ya, peralatan-peralatan yang digunakan untuk penyalahgunaan narkoba," ujar Bismo.
"Petugas juga mengamankan sejumlah uang tunai yang ditemukan di sekitar barang bukti narkotika. Bismo menyebut uang tersebut berkaitan dengan aktivitas peredaran ganja di kawasan Kampung Bahari."
"Uang tunai ada. Hasil jadi satu sama barang bukti ganjanya," katanya.
"Meski telah mengamankan puluhan orang, polisi memastikan operasi pemberantasan narkoba di kawasan tersebut belum berakhir. Aparat masih mendalami jaringan peredaran sekaligus memburu bandar yang diduga mengendalikan aktivitas transaksi narkotika."
"Masih (ada transaksi), ya. Oleh karena itu kita akan terus lakukan operasi ini, ya, di berbagai tempat dan juga pengejaran terhadap bandarnya," jelas Bismo.
Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto mengungkapkan bahwa sejumlah orang yang menjadi target operasi diduga melarikan diri ketika aparat melakukan pengepungan.
Kepolisian mengaku telah mengantongi data para buronan dan akan terus melakukan pengejaran.
"Untuk yang target memang mereka, eh, melarikan diri. Tapi kita sudah ada datanya. Dia tidak akan bisa bekerja, dia tidak akan lari ke mana, pasti akan kami kejar," kata Dadang kepada wartawan, Minggu (1/11/2026).
"Dadang juga menilai pemberantasan narkoba di Kampung Bahari membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu upaya yang disoroti adalah penataan kawasan, termasuk penertiban bangunan liar yang selama ini diduga menjadi tempat tinggal atau persembunyian para pelaku."
"Asistensi dari stakeholder nanti kami, saya akan bekerja sama supaya nanti kelihatan itu rapi. Nah yang lain-lainnya, rumah-rumah liar yang selama ini ditinggali oleh para pelaku ini harus dibersihkan," jelas Dadang.
"Menurut dia, penanganan persoalan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum oleh kepolisian. Kolaborasi lintas instansi diperlukan agar persoalan sosial dan lingkungan yang berkaitan dengan peredaran narkotika di kawasan tersebut dapat ditangani."
"Saya harapkan nanti para stakeholder ini bersungguh-sungguh menyelesaikan permasalahan ini, tidak hanya mengandalkan pihak kepolisian," sambungnya.
Dadang berharap penataan Kampung Bahari dapat mengikuti langkah pembenahan yang sebelumnya dilakukan di kawasan Kampung Ambon.
Melalui kerja sama berbagai pihak, kepolisian ingin memastikan kawasan tersebut tidak lagi menjadi tempat persembunyian bandar maupun lokasi peredaran narkotika.
"Kemarin kita sentuh di wilayah Kampung Ambon, nah diharapkan nanti juga di sini juga, dan tempat ini tidak menjadi tempat yang aman untuk bersarangnya para bandar narkoba, termasuk para pemakai ini," ungkap dia.