Upaya sistematis untuk melestarikan warisan budaya tak benda melalui tradisi lisan kini memasuki fase baru yang jauh lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Yayasan Hafidz Indonesia Centre (HIC) secara resmi berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meluncurkan Gala Indonesia Bercerita (GIB) 2026–2027.

Acara peresmian sekaligus Gala Pleno yang diselenggarakan di kawasan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu, 1 November 2026 ini, menandai dimulainya gerakan nasional pelestarian budaya berbasis cerita rakyat secara masif.

Program strategis ini merupakan evolusi nyata dari Gerakan Nasional Dongeng Berkarakter Berbudaya yang sebelumnya telah berjalan.

Berbeda dari pendekatan konvensional yang cenderung hanya berfokus pada pertunjukan panggung sesaat, GIB 2026–2027 dirancang secara cermat untuk membangun ekosistem kebudayaan yang menyeluruh.

Ekosistem tersebut menghubungkan elemen cerita rakyat dengan dunia pendidikan formal, dinamika keluarga, komunitas lokal, generasi muda, hingga adaptasi teknologi digital.

Rentang waktu pelaksanaan program yang ditetapkan dari September 2026 hingga 1 Februari 2027 memberikan ruang yang lapang bagi para peserta untuk mengembangkan kompetensi mereka secara bertahap dan mendalam.

Mengatasi Kesenjangan Wadah Berkerasi bagi Talenta Pencerita.

Gagasan di balik program ini lahir dari sebuah observasi mendalam mengenai potensi besar seni bertutur di Indonesia.

Neno Warisman, selaku penyanyi sekaligus penggagas utama program, menjelaskan bahwa banyak talenta pencerita di tanah air yang selama ini kehilangan wadah resmi untuk berkarya.

Potensi sumber daya manusia di bidang seni bertutur tersebar luas di berbagai daerah, namun belum terkelola dan terdokumentasi dengan baik, sehingga dampaknya terhadap kebudayaan nasional belum terasa secara maksimal.

"Jadi GIB ini jadi sebuah gerbong dan membukakan jalur mencapai Indonesia Emas 2045. Karena ternyata di tanah air ini banyak pendongeng dan pencerita, yang memang mereka tidak punya platform buat melakukannya," ungkap Neno Warisman dalam sambutannya.

Selain sekadar menyediakan wadah, Neno menekankan aspek produktivitas jangka panjang dari program ini.

Ia berharap GIB tidak berhenti sekadar sebagai acara seremonial tahunan, melainkan mampu menghasilkan output nyata berupa karya yang dapat dikategorikan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

Melalui struktur pembinaan yang jelas, para pencerita diharapkan mampu mengasah keterampilan mereka menjadi profesi yang bernilai ekonomi sekaligus memberikan kontribusi budaya yang berkelanjutan bagi bangsa.

Revitalisasi Narasi Nusantara untuk Penguatan Karakter dan IQ.

GIB memastikan kualitas implementasi di lapangan dengan menggabungkan pendekatan akademis modern dan nilai-nilai tradisional kepesantrenan. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga standar tinggi dalam pelaksanaan program yang dijalankan.

Sebanyak 42 remaja pencerita binaan HIC mendapatkan bimbingan intensif dari delapan pelatih profesional serta enam guru pesantren berpengalaman. Proses pendampingan ini dilakukan untuk memastikan pengembangan keterampilan dan pemahaman yang mendalam terhadap budaya lokal.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) turut berperan sebagai mitra akademik dalam kegiatan ini. FIB UI melakukan observasi ketat terhadap metode pelatihan guna memastikan proses transfer nilai budaya sesuai dengan standar ilmiah yang diperlukan.

Antusiasme masyarakat terlihat dari tahap awal Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, yang berhasil mengumpulkan 1.737 karya dari berbagai daerah. Angka ini menjadi dasar kuat untuk pengembangan konten budaya di masa depan.

Kompetisi tahun ini membuka lima kategori kreatif yang disesuaikan dengan perkembangan media modern, yaitu Kategori Video, Kategori Audio, Kategori Gambar, Kategori Lagu, dan Kategori Puisi. Diversifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi peserta.

Dengan berbagai medium yang tersedia, GIB yakin cerita rakyat tradisional tetap relevan di tengah perubahan zaman. Warisan leluhur dapat terus diakses oleh generasi muda melalui cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menjaga identitas bangsa Indonesia dalam arus globalisasi.