JatimLambeTurah - Kenaikan harga barang dan kebutuhan sehari-hari di setiap daerah ternyata tidak sama. Kabar menarik datang dari Banyuwangi. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), daerah berjuluk The Sunrise of Java ini mencatat inflasi tahunan terendah di Jawa Timur pada Oktober 2026.
Inflasi Banyuwangi tercatat sebesar 2,52 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan 10 kabupaten/kota lain yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur.
Sebaliknya, Kota Madiun justru mencatat inflasi tertinggi, yakni mencapai 3,50 persen. Sementara inflasi Jawa Timur secara keseluruhan berada di angka 3,09 persen.
Data ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah warga Banyuwangi kini bisa berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan lebih ringan dibandingkan masyarakat di daerah lain?
Meski begitu, inflasi rendah bukan berarti harga barang di suatu daerah otomatis paling murah. Angka inflasi menunjukkan seberapa besar perubahan harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, bukan perbandingan langsung harga barang antardaerah.
"BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Banyuwangi pada Oktober 2026 berada di angka 112,91," kata Plt. Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur.
Sementara itu, inflasi tahunan Jawa Timur mencapai 3,09 persen dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama. Kelompok tersebut mengalami inflasi 4,70 persen dengan andil sebesar 1,30 persen.
Artinya, kenaikan harga kebutuhan pangan masih menjadi salah satu tekanan yang dirasakan masyarakat di Jawa Timur.
Untuk Banyuwangi, angka inflasi 2,52 persen menunjukkan kenaikan harga secara umum relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain yang dipantau BPS.
Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semua kebutuhan pokok di Banyuwangi lebih murah. Sebab, harga beras, cabai, minyak goreng, telur, hingga daging bisa memiliki perkembangan berbeda.
Madiun Tertinggi, Banyuwangi Terendah
Jika melihat data inflasi tahunan Oktober 2026, terdapat selisih cukup jauh antara daerah dengan inflasi tertinggi dan terendah di Jawa Timur.
Kota Madiun berada di posisi tertinggi dengan inflasi 3,50 persen. Sedangkan Banyuwangi berada di posisi terendah dengan 2,52 persen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga tidak terjadi dengan besaran yang sama di seluruh wilayah.
Faktor pasokan barang, distribusi, pola konsumsi masyarakat, hingga pergerakan harga komoditas dapat memengaruhi perkembangan inflasi di masing-masing daerah.
Angka inflasi yang relatif rendah tentu menjadi kabar menarik. Namun, untuk mengetahui apakah masyarakat benar-benar merasakan belanja yang lebih ringan, perlu dilihat pula perkembangan harga kebutuhan pokok di pasar.
Misalnya, bagaimana harga beras, cabai, telur, minyak goreng, daging ayam, dan bahan pangan lainnya selama beberapa bulan terakhir.
Selain itu, daya beli masyarakat juga tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga. Besaran pendapatan dan pengeluaran rumah tangga turut menentukan kemampuan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, angka inflasi Banyuwangi yang lebih rendah dapat menjadi gambaran bahwa kenaikan harga secara umum lebih terkendali. Tetapi, kondisi riil di pasar dan kemampuan belanja warga tetap perlu ditelusuri lebih jauh.
Data BPS ini setidaknya menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan harga kebutuhan masyarakat Banyuwangi dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.