Jawa Timur tetap menjadi salah satu daerah penyangga pangan nasional, meskipun distribusi produksi padi di berbagai wilayah tidak merata. Beberapa kabupaten menghasilkan produksi yang besar, sementara daerah lainnya mencatatkan hasil yang jauh lebih rendah.

Berdasarkan data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Kerangka Sampel Area (KSA) pada September 2026, Kabupaten Bojonegoro menduduki peringkat pertama sebagai wilayah dengan produksi padi tertinggi di Jawa Timur.

Di bawah Bojonegoro, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Ngawi juga masuk dalam tiga besar daerah penghasil padi terbesar di provinsi ini.

Sementara itu, tiga wilayah dengan produksi padi terendah adalah Kota Batu, Kota Mojokerto, dan Kota Kediri.

"Data tersebut menunjukkan bahwa sentra produksi padi di Jawa Timur masih terkonsentrasi di wilayah kabupaten yang memiliki kawasan pertanian lebih luas," jelas Plt Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur.

Kabupaten Bojonegoro mencatatkan produksi padi sebesar 868,81 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan luas panen mencapai 159,19 ribu hektare.

Capaian ini menjadikan Bojonegoro sebagai daerah dengan produksi padi tertinggi di Jawa Timur pada 2026 berdasarkan data sementara.

Kabupaten Lamongan menyusul dengan produksi 852,19 ribu ton GKG dan luas panen sekitar 146,16 ribu hektare.

Kabupaten Ngawi juga masuk dalam tiga besar daerah penghasil padi tertinggi di Jawa Timur.

Kontribusi Bojonegoro dan Lamongan dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional menjadi bukti besar dari peran wilayah tersebut.

"BPS mencatat tiga daerah dengan produksi padi terendah di Jawa Timur adalah Kota Batu, Kota Mojokerto, dan Kota Kediri," tambahnya.

Wilayah perkotaan umumnya memiliki ruang pertanian yang terbatas karena penggunaan lahan lebih banyak untuk permukiman, perdagangan, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Meski produksi padi rendah, hal ini tidak selalu mencerminkan produktivitas petani yang rendah. Perlu dilihat luas panen dan hasil per hektare untuk mengevaluasi kondisi pertanian setiap daerah.

Secara keseluruhan, produksi padi Jawa Timur pada 2026 diperkirakan mencapai 10,61 juta ton GKG, meningkat 203,13 ribu ton atau 1,62 persen dibandingkan 2025.

Luas panen padi Jawa Timur pada 2026 diperkirakan mencapai 1,75 juta hektare, naik 0,71 persen dari tahun sebelumnya. Jika dikonversi ke beras, produksi mencapai 6,12 juta ton.

Data produksi padi ini bersifat sementara dan akan ditetapkan secara resmi pada Februari 2027.

Data ini menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan sektor pertanian Jawa Timur, terutama dalam menjaga pasokan pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan musim tanam.