JatimLambeTurah - Waktu azan Subuh di Surabaya yang disebut berkumandang sekitar pukul 03.45 WIB mendadak menjadi perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet mengaku kaget karena waktu salat Subuh terasa masih sangat dini. Bahkan, ada yang mengusulkan agar Jawa Timur masuk zona Waktu Indonesia Tengah (WITA).
Perbincangan tersebut terlihat dalam unggahan akun TikTok @ininetwork. Dalam unggahannya, akun tersebut mengangkat fenomena azan Subuh lebih awal di Surabaya sekaligus menampilkan penjelasan pakar geospasial Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengenai peluang Surabaya masuk WITA.
Kolom komentar unggahan itu pun ramai dengan beragam respons. Sebagian warganet mengaku merasa waktu Subuh sekitar pukul 03.45 WIB terlalu pagi.
Akun @queenmy, misalnya, menulis, "sholat subuh jam 5 udh berasa sholat dhuha".
Komentar lain datang dari @Gendhis Fitria yang mengaku fenomena tersebut seperti berulang setiap tahun.
"Tiap tahun begini deh perasaan, ntar juga balik lagi ke setelan awal," tulisnya.
Sementara itu, akun @Muhasim Aditya juga mengungkapkan rasa herannya.
"masak setengah 4 udah subuh di sby," tulisnya.
Ada pula warganet bernama @Galih yang secara terang-terangan mengusulkan agar Jawa Timur masuk zona WITA.
"menurut saya Jatim harusnya masuk zona waktu WITA sih. karena jam 5 udah terang," tulisnya.
Komentar serupa juga muncul dari pengguna lain yang membandingkan kondisi pagi di Surabaya dengan daerah asalnya.
Seorang warganet mengaku sebagai anak rantau di Surabaya dan merasa heran karena di daerah asalnya di Kalimantan Selatan, sekitar pukul 06.00 matahari masih terasa malu-malu muncul. Sementara di Surabaya, menurut pengalamannya, matahari sudah terasa terik sekitar pukul 08.00.
Komentar-komentar tersebut memperlihatkan bagaimana perbedaan waktu terbit matahari dan kebiasaan masyarakat bisa memunculkan persepsi berbeda mengenai waktu Subuh.
Menanggapi perbincangan mengenai kemungkinan Surabaya masuk WITA, Pakar Geospasial Departemen Teknik Geomatika ITS, Prof Lalu Muhamad Jaelani, memberikan penjelasan dari sisi geografis.
Diunggah akun @ininetwork, Prof Lalu Muhamad Jaelani menjelaskan posisi geografis Surabaya memang berada di antara dua meridian acuan zona waktu, yakni WIB dan WITA.
WIB menggunakan acuan 105 derajat Bujur Timur, sedangkan WITA menggunakan acuan 120 derajat Bujur Timur.
Menurut Jaelani, posisi Surabaya membuat waktu matahari setempat bergeser sekitar 31 menit lebih awal dari waktu baku WIB.
"Pengaruh posisi geografis Surabaya terhadap gerak semu harian matahari memang ada, tetapi variasinya tidak seekstrem yang dipersepsikan masyarakat umum. Simpangan akibat kedudukan bujur bersifat konstan sepanjang tahun, yakni pergeseran waktu surya sekitar 31 menit lebih awal dari waktu baku WIB," jelasnya.
Jaelani juga memaparkan deviasi Surabaya terhadap meridian acuan WIB sekitar 31 menit, sedangkan terhadap meridian WITA sekitar 29 menit. Dengan demikian, selisih margin antara kedua acuan tersebut hanya sekitar dua menit.
"Selisih margin antara dua acuan hanya terpaut dua menit," terangnya.
Ia menambahkan, penetapan Surabaya dalam zona WIB tidak hanya mempertimbangkan aspek geografis, tetapi juga keselarasan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa, transportasi, kegiatan ekonomi, serta koordinasi dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan.
Artinya, waktu azan Subuh yang terasa lebih awal tidak otomatis menjadi alasan bahwa Surabaya harus berpindah ke zona WITA.