Perebutan jabatan presiden tertinggi federasi sepak bola Italia mendadak berubah menjadi drama politik olahraga paling intens tahun ini setelah Adriano Galliani, mantan CEO legendaris AC Milan, secara resmi mendaftarkan diri sebagai kandidat Presiden FIGC. Tokoh berusia 82 tahun ini siap bersaing dengan Giovanni Malago dalam pemilihan penting yang akan diadakan pada 14 Desember 2026.
Langkah Galliani mengajukan dokumen pencalonan pada Rabu (4/11/2026) terjadi tepat sehari setelah Malago mengumumkan keterlibatannya. Persaingan ini muncul di tengah luka mendalam yang dialami bangsa Italia akibat kegagalan tim nasional dalam memenuhi syarat putaran final Piala Dunia 2026.
Kegagalan tim nasional Gli Azzurri mencapai titik terendah ketika mereka tersingkir secara memalukan dari babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 oleh Bosnia-Herzegovina. Tragedi ini langsung memicu kemarahan suporter hingga memaksa Gabriele Gravina meletakkan jabatannya sebagai presiden federasi.
Bagi negara yang telah meraih empat gelar juara dunia, kegagalan ini memperpanjang kutukan yang terus berlanjut. Publik Italia terakhir kali merasakan atmosfer putaran final Piala Dunia pada edisi 2014 di Brasil.
Pertarungan antara dua kekuatan utama ini memicu perang dingin dalam struktur kekuasaan. Kekosongan kepemimpinan membuat FIGC terombang-ambing hingga akhirnya di bawah pengawasan Komite Olimpiade Italia (CONI) sejak Oktober 2026. Malago ditunjuk sebagai komisaris luar biasa dan langsung mengambil kendali darurat.
Namun, peta kekuatan berubah drastis setelah Galliani mengumumkan pencalonannya secara terbuka. Dua kutub kekuatan besar kini bersaing untuk mengatur masa depan tata kelola sepak bola Italia.
Malago memiliki keunggulan berkat dukungan konglomerasi pemilik 11 klub elite Serie A yang ingin menjaga status quo. Di sisi lain, kubu akar rumput sepak bola Italia menolak dominasi tersebut yang tidak diimbangi dengan prestasi nyata.
Asosiasi pemain dan pelatih Italia langsung menyatukan barisan untuk mendukung Galliani. Mereka menilai sosoknya lebih memahami dinamika di lapangan dan taktik dibanding pendekatan birokratis.
Isu liar sempat muncul di kalangan penggemar sepak bola yang meragukan kemampuan Galliani, terutama karena usianya yang sudah mencapai 82 tahun. Banyak yang khawatir apakah ia mampu menahan tekanan mental untuk mereformasi federasi yang sedang krisis.
Galliani siap membantah keraguan tersebut dengan menunjukkan bukti sejarah dan reputasi yang tak tergoyahkan. Pengalamannya mengarungi dunia sepak bola selama puluhan tahun menjadi modal berharga yang sulit ditandingi.
Kehadiran Galliani di panggung politik FIGC menunjukkan komitmen untuk mengubah struktur yang tidak efektif. Ia diharapkan mampu membawa perubahan yang berkelanjutan bagi sepak bola Italia.
Dengan latar belakang yang kuat, Galliani berharap dapat membangkitkan semangat baru bagi federasi yang sedang mencari arah. Pemilihan ini menjadi momen krusial untuk menentukan masa depan sepak bola Italia.
Nama Galliani tercatat dalam sejarah sepak bola Italia sebagai sosok penting yang mendampingi Silvio Berlusconi di AC Milan dari tahun 1986 hingga 2017. Di bawah kepemimpinannya, AC Milan berkembang menjadi tim dominan di Eropa, dengan meraih lima gelar Liga Champions yang membanggakan.
Setelah meninggalkan San Siro, kiprah Galliani tetap mengesankan ketika ia mampu mengubah klub kecil Monza menjadi tim yang dihormati di Serie A. Reputasinya sebagai negosiator terampil dan tokoh yang dihormati di Eropa menjadi alat utama untuk meyakinkan pemilik klub.
Para penggemar dan legenda sepak bola Italia menaruh harapan besar kepada Galliani. Mereka menginginkan pemimpin yang memahami cara membangun mental juara, bukan hanya figur yang mahir berbicara di depan kamera.
Galliani dianggap sebagai tokoh yang mampu menyatukan kepentingan pemilik klub besar dengan pembinaan bakat tim nasional yang saat ini sedang menghadapi tantangan besar.
Pengadilan pada bulan Desember akan menjadi titik kritis dalam proses pemilihan. Persaingan antara Galliani dan Malago bukan hanya tentang kursi kekuasaan, tetapi juga tentang harga diri bangsa yang sangat menghargai sepak bola.
Dua visi kepemimpinan yang berbeda akan diuji di hadapan para pemangku kepentingan olahraga Italia. Apakah dominasi pemilik klub Serie A yang mendukung Malago akan menang, atau justru keinginan akan era keemasan Galliani yang akan mengubah hasil pemilu?
Hasil pemungutan suara bersejarah ini akan menentukan masa depan sepak bola Italia. Siapa pun yang menang tidak akan punya waktu untuk merayakan, karena tugas berat memulihkan martabat Gli Azzurri dari krisis yang sedang dihadapi menanti di depan mata.
Para pemangku kepentingan menyadari bahwa keputusan ini akan memengaruhi generasi baru sepak bola Italia. Tantangan untuk membangun kembali reputasi olahraga nasional akan menjadi beban berat bagi pemenangnya.