Fenomena bocah ajaib asal Gunungkidul, Veda Ega Pratama, mencuri perhatian publik otomotif internasional setelah membongkar rahasia di balik keberhasilannya meraih dua podium sensasional pada musim perdananya di Kejuaraan Dunia Moto3 2026. Di tengah persaingan ketat dengan pembalap elite Eropa, remaja berusia 17 tahun ini menunjukkan pendekatan balap yang sangat cerdas dan dewasa, memperoleh perhatian luas.
Menjalani musim debut di kejuaraan dunia merupakan tantangan berat bagi seorang pembalap muda dari Asia. Tekanan mental untuk tampil kompetitif di sirkuit asing yang belum pernah dijajal seringkali menjadi hambatan berat bagi para pemula, yang bisa meruntuhkan motivasi mereka.
Namun, Veda memilih jalur yang berbeda untuk mempercepat adaptasinya. Alih-alih mengandalkan insting semata, pembalap andalan Honda Team Asia ini memilih menanggalkan egonya dan mempelajari data telemetri dari pembalap sebelumnya demi mengejar ketertinggalan di atas aspal.
Kunci peningkatan performa Veda yang mengejutkan para pengamat balap bermula dari ruang komputer mekanik tim. Sejak putaran pertama kompetisi, pembalap bernomor motor kebanggaan tanah air ini secara konsisten menjadikan catatan waktu pembalap Jepang, Taiyo Furusato, sebagai panduan utamanya.
Furusato meninggalkan warisan data berharga sebelum dipromosikan ke kelas Moto2 pada musim 2026, termasuk kemenangan bersejarahnya di Moto3 Malaysia 2025. Mengenai metode belajarnya yang tak biasa, Veda akhirnya angkat bicara dalam sesi wawancara virtual pada Kamis (05/11/2026).
"Pastinya dari awal musim semua sirkuit di-compare-nya sama data Taiyo. Jadi setiap sesi pertama data saya yang FP1 di-compare sama lap time Taiyo terbaik," kata Veda dalam wawancara virtual, Kamis (05/11/2026).
"Veda secara blak-blakan mengakui bahwa menganalisis gaya balap dan titik pengereman seniornya tersebut sangat membantunya memangkas waktu adaptasi di lintasan."
"Karena ya Taiyo juga bikin data yang bagus dari tahun lalu. Jadi hampir setiap sirkuit di-compare datanya sama Taiyo," ujar pembalap berusia 17 tahun itu.
Kerja keras menganalisis data di dalam garasi tim akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan di atas lintasan. Veda berhasil membuktikan kesiapannya bersaing di kasta balap motor paling ketat bagi pembalap muda, meski sebelumnya ada keraguan tentang kemampuannya.
Puncak pembuktian kualitasnya terjadi pada seri Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang pada Minggu (1/11) lalu. Tampil tanpa rasa takut, Veda terlibat dalam duel sengit melawan pembalap papan atas dunia untuk memperebutkan posisi kedua.
Atmosfer lintasan memanas saat terjadi manuver salip-menyalip hingga putaran terakhir. Veda tak ragu mengunci posisi kedua tepat di belakang Maximo Quiles, mencatatkan hasil terbaiknya setelah sebelumnya meraih podium ketiga di GP Brasil.
Tambahan 20 poin dari podium kedua di Sepang mendorong posisi Veda ke peringkat ketujuh klasemen sementara Moto3 dengan total 131 poin. Raihan ini menjadikannya sebagai salah satu pendatang baru paling menjanjikan musim ini.
Veda mengakui bahwa persiapan fisik dan mentalnya tetap menjadi fokus utama. Ia tetap realistis dalam menghadapi sisa musim, dengan menekankan pentingnya konsistensi dan pengembangan strategi balap.
Ia berharap bisa mempertahankan performa terbaiknya hingga akhir musim, sambil tetap belajar dari pengalaman dan data yang terus dikumpulkan oleh tim. Veda menegaskan bahwa ambisi untuk meraih hasil maksimal tetap menjadi prioritas utama.
Lonjakan signifikan dalam peringkat klasemen ini memicu spekulasi di kalangan penggemar lokal yang meminta Veda untuk memaksakan diri masuk tiga besar dunia. Ekspektasi publik yang tinggi dikhawatirkan dapat mengganggu fokus dan ketenangan emosional pembalap muda tersebut.
Menyadari situasi ini, pelatih dan manajemen tim segera bertindak untuk menjaga kesehatan psikologis Veda dari beban ekspektasi yang berlebihan. Sang pembalap menunjukkan sikap dewasa dengan menolak terpengaruh oleh pujian dan memilih menetapkan target yang lebih realistis.
Alih-alih memburu podium di setiap balapan tersisa, Veda lebih memprioritaskan konsistensi dan keselamatan untuk memastikan pengumpulan poin hingga seri terakhir.
"Jadi saya mencoba untuk dapetin poin di setiap balapannya aja, jangan sampai jatuh atau nol poin. Jadi ya mencoba yang terbaik aja, jadi kalau bisa lima besar itu alhamdulillah banget," ujar Veda.
Kini, Veda akan menghadapi tantangan berikutnya dalam Grand Prix Qatar di Sirkuit Internasional Lusail pada 6–8 November, sebelum menutup petualangannya di seri Portugal dan Valencia. Perjalanan pembalap asal Gunungkidul ini membuktikan bahwa kerendahan hati dan kemauan belajar menjadi senjata paling efektif untuk menguasai panggung balap dunia, sekaligus menunjukkan tanda kuat bahwa Indonesia kini memiliki calon juara dunia Moto3 yang autentik.