Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatatkan perkembangan positif dalam penanganan masalah ketenagakerjaan seiring menurunnya persentase warga yang belum memiliki pekerjaan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di ibu kota kini berada di angka 5,79 persen.

Mantan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia tersebut menargetkan angka pengangguran terus menurun hingga mencapai 3,5 persen. Ia berharap Jakarta dapat menjadi percontohan nasional dalam mengatasi persoalan pengangguran bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Pramono menginstruksikan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, Syaripudin, untuk memperbanyak program penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan. Ia menyampaikan target tersebut di hadapan ribuan peserta bursa kerja di Convention Hall SMESCO, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

""“Saya sungguh berharap dan saya bahagia Jakarta sekarang ini tingkat pengangguran terbukanya sudah turun di angka 5,79. Tetapi saya berharap Pak Kepala Dinas segera bisa turun di angka 3,5 persen, karena bagaimanapun Jakarta bisa menjadi role model bagi daerah-daerah lain,"" kata Pramono.

Menurut Pramono, penurunan angka pengangguran harus diiringi dengan pengelolaan peluang kerja yang baik dan terukur. Ia menilai bahwa kemajuan suatu kota perlu berjalan beriringan dengan kemudahan masyarakat dalam mengakses pekerjaan yang layak.

Pramono juga memaparkan bahwa Jakarta menempati peringkat pertama nasional dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dengan angka 85,05. Meski demikian, ia mengingatkan jajarannya agar tidak berpuas diri dengan pencapaian tersebut tanpa memastikan tersedianya kesempatan kerja bagi masyarakat.

""Jakarta sekarang ini dengan Indeks Pembangunan Manusia nomor satu di seluruh Indonesia, 85,05 persen. Nomor dua Jogja, nomor tiga Riau, Bali, dan seterusnya. Tetapi tidak ada artinya kalau kemudian kesempatan lowongan pekerjaan itu tidak ter-maintained, ter-manage dengan baik,"" jelas Pramono.

Untuk memperluas akses pekerjaan, Pemprov DKI Jakarta menggelar Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Expo 2026. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 100 perusahaan yang menyediakan sedikitnya 12.000 lowongan pekerjaan bagi pencari kerja dengan beragam kualifikasi.

Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah lamaran yang masuk melalui pendaftaran daring. Syaripudin melaporkan kepada Pramono bahwa panitia telah menerima lebih dari 28.000 berkas lamaran dari para pencari kerja.

Pramono mengaku senang melihat antusiasme masyarakat yang ingin membangun karier profesional. Ia pun berharap para pelamar segera mendapatkan pekerjaan melalui kesempatan yang tersedia dalam kegiatan tersebut.

""Mudah-mudahan, saya ikut berharap dan mendoakan, Saudara-saudara sekalian segera mendapatkan pekerjaan di Jakarta ini,"" kata dia.

Jumlah Pengangguran Nasional Capai 7,24 Juta Orang.

Upaya Pemprov DKI Jakarta menekan angka pengangguran menjadi relevan di tengah tantangan ketenagakerjaan nasional. Mengutip data Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang dirilis pada Rabu (21/10/2026), jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026.

Data tersebut bersumber dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diselenggarakan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatik) Kemnaker kemudian mengolah data tersebut untuk memetakan kondisi ketenagakerjaan Indonesia.

Berdasarkan data Penduduk Usia Kerja (PUK) Februari 2026, jumlah pengangguran di Indonesia tercatat sebanyak 7.243.605 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.556.224 orang merupakan laki-laki, sedangkan 2.687.381 orang lainnya perempuan.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, laki-laki menyumbang 62,9 persen dari total pengangguran nasional. Sementara itu, perempuan mencakup 37,1 persen dari keseluruhan jumlah penganggur.

Data yang sama menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 219,54 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 147,67 juta orang tercatat bekerja di berbagai sektor perekonomian.

Kemnaker juga merinci jumlah penduduk yang bekerja berdasarkan jenis kelamin. Tenaga kerja laki-laki mencapai 88,75 juta orang, sedangkan perempuan yang bekerja tercatat sebanyak 58,92 juta orang.

Selain kelompok pekerja dan penganggur, sebagian penduduk usia kerja menjalankan aktivitas di luar pasar tenaga kerja. Sebanyak 16,86 juta orang berfokus pada pendidikan, baik formal maupun nonformal.

Aktivitas mengurus rumah tangga dilakukan oleh 39,28 juta penduduk usia kerja. Sementara itu, sebanyak 8,49 juta orang tercatat menjalankan kegiatan lainnya di luar pendidikan dan urusan rumah tangga.

Data tersebut menunjukkan pentingnya membedakan pengangguran dengan penduduk usia kerja yang tidak bekerja karena sedang menempuh pendidikan, mengurus rumah tangga, atau menjalankan aktivitas lainnya. Tidak semua orang yang tidak bekerja masuk dalam kategori pengangguran karena status tersebut berkaitan dengan partisipasi mereka dalam pasar tenaga kerja.

Perbedaan jumlah pengangguran laki-laki dan perempuan juga belum sepenuhnya menggambarkan tingkat kesulitan masing-masing kelompok dalam memperoleh pekerjaan. Untuk mengukur kondisi ketenagakerjaan secara lebih akurat, diperlukan perbandingan jumlah penganggur dengan total angkatan kerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dihitung berdasarkan perbandingan jumlah penganggur dengan total angkatan kerja, yakni penduduk yang bekerja dan penganggur. Indikator ini digunakan untuk melihat proporsi angkatan kerja yang belum terserap dalam lapangan pekerjaan.

Dengan target penurunan TPT hingga 3,5 persen, Pramono berharap Jakarta dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Jika tercapai, upaya tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih baik.