Di tengah perhelatan konser LANY di Indonesia Arena, Jakarta, pada Jumat (30/10/2026), sebuah gerakan sederhana namun mencolok menarik perhatian publik: tiga jari yang diacungkan oleh Ziva Magnolya. Tanpa disertai kata-kata, gestur tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan luas di media sosial dan kalangan masyarakat.
Ziva Magnolya tampil sebagai bintang tamu kejutan pada hari kedua konser tersebut, berduet dengan Paul Klein. Setelah penampilannya, ia mengacungkan tiga jari secara singkat namun jelas, yang kemudian direkam dan tersebar luas melalui berbagai platform digital.
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Ziva Magnolya mengenai maksud di balik gestur itu, publik mulai mempertanyakan makna yang tersembunyi. Pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan tentang niat pribadinya, melainkan konteks historis dan simbolik dari salam tiga jari tersebut.
Simbol ini berasal dari film The Hunger Games, di mana gerakan tiga jari melambangkan perlawanan rakyat terhadap rezim otoriter yang menindas. Dalam narasi film, gestur itu menjadi simbol solidaritas dan ketahanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.
Dari layar lebar, simbol tersebut kemudian meluas ke dunia nyata. Pada tahun 2014, mahasiswa pro-demokrasi di Thailand mengadopsi gerakan serupa saat menonton film itu di bioskop, tak lama setelah terjadi kudeta militer. Gerakan serupa kemudian muncul dalam demonstrasi di Hong Kong dan menjadi simbol protes pasca-kudeta di Myanmar pada 1 Februari 2021.
Di Indonesia, salam tiga jari kembali mendapat perhatian besar pada Rabu (28/10/2026), tepat pada Hari Sumpah Pemuda. Ribuan mahasiswa yang dipimpin oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI, dengan mengacungkan tiga jari dan membentangkan spanduk menuntut pemberantasan korupsi, reformasi sistem hukum, serta pendidikan yang lebih terjangkau.
Namun, penting dicatat bahwa makna gestur ini tidak selalu seragam. Pada tahun 2023, salam tiga jari yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo dikaitkan dengan nomor urutnya dalam pemilu, meskipun secara kebetulan bentuknya menyerupai adegan dari film The Hunger Games. Hal ini menunjukkan bahwa konteks sosial dan politik sangat menentukan interpretasi suatu simbol.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Ziva Magnolya, Paul Klein, LANY, atau pihak penyelenggara konser mengenai maksud di balik gestur tersebut. Demikian pula, tidak ada bukti atau pernyataan yang menghubungkan gerakan itu dengan aksi mahasiswa pada 28 Oktober 2026, sehingga makna pastinya tetap menjadi teka-teki bagi publik.