Teater Impian Manchester United yang dahulu menjadi simbol kejayaan kini berubah menjadi panggung horor yang menakutkan, setelah legenda Liverpool, Steven Gerrard, mengeluarkan serangan verbal paling tajam terhadap skuad Setan Merah. Saat ini, tim asuhan Michael Carrick terpuruk di posisi ke-16 dalam klasemen Liga Inggris, mencatat start musim terburuk sejak era 1986/1987. Kondisi ini memicu kemarahan besar dari para suporter Old Trafford yang tak lagi mampu menahan frustrasi mereka terhadap performa buruk tim kesayangan mereka.

Transfer musim panas lalu yang menghabiskan dana fantastis mencapai 155 juta euro atau setara Rp3,7 triliun terbukti sia-sia belaka. Dari 12 pertandingan yang telah dimainkan di semua kompetisi, pasukan Carrick hanya mampu meraih dua kemenangan memalukan—kemenangan yang diraih melawan tim promosi Ipswich Town dan klub debutan antah-berantah, Sabah. Hasil ini menunjukkan betapa lemahnya kualitas permainan yang ditampilkan oleh United dalam konteks kompetitif.

Kondisi Manchester United semakin memburuk setelah mengalami paceklik kemenangan selama delapan pertandingan beruntun di semua ajang. Dua kekalahan memalukan di pentas Liga Champions, ketika dikalahkan oleh Atletico Madrid dan klub promosi Italia, Como, semakin menegaskan betapa rapuhnya mentalitas bermain dari tim yang dulu dikenal sebagai raksasa sepak bola dunia. Kekalahan-kekalahan ini bukan sekadar kegagalan teknis, tetapi juga simbol krisis identitas dan kepercayaan diri.

Di tengah hujan kritik dari suporter yang menuntut pemecatan pelatih, Gerrard tidak memilih untuk menyalahkan Carrick secara eksklusif. Sebagai pandit di kanal The Overlap Daily, sang ikon sepak bola Anfield itu justru membuka tabir kebenaran dengan menyoroti kualitas permainan para pemain bintang United yang dinilainya tidak lagi memenuhi standar tinggi yang layak bagi klub sebesar Manchester United. Ia menekankan bahwa masalah bukan hanya pada pelatih, tetapi juga pada performa individu pemain.

Kritik pertama Gerrard mengarah ke lini belakang United, yang dihuni oleh bek-bek senior dengan banderol tinggi. Tanpa banyak basa-basi, mantan kapten Timnas Inggris itu menyerukan agar manajemen segera melepaskan nama-nama lawas yang dinilai telah kehilangan kualitas dan relevansi. Ia menegaskan bahwa pemain-pemain tersebut tidak lagi mampu menjaga standar pertahanan yang dibutuhkan oleh klub besar seperti United.

"Harry memiliki karier yang sangat bagus, dan Luke adalah pemain top pada masanya. Namun, mereka bukan lagi pemain Manchester United. Seharusnya mereka dilepas lebih cepat," tegas Gerrard, dikutip dari Mirror. Dua bek utama, Harry Maguire dan Luke Shaw, menjadi sasaran utama kritiknya. Namun, bukan hanya mereka berdua yang diserang—bek asal Argentina, Lisandro Martinez, juga tidak luput dari sorotan. Gerrard mempertanyakan integritas Martinez yang dinilai kehilangan fokus sejak euforia meraih gelar Piala Dunia, serta menyoroti gestur egoisnya yang dianggap merusak harmoni dalam ruang ganti, terutama saat jeda pertandingan melawan Leeds.

Kemarahan Gerrard semakin memuncak ketika membahas kebijakan transfer klub yang dinilainya penuh dengan kekeliruan strategis. Ia menertawakan keputusan manajemen yang menggelontorkan dana hingga 50 juta euro hanya untuk mendatangkan Andrey Santos dari Chelsea—pemain yang, menurutnya, belum layak memakai seragam Manchester United. Menurut Gerrard, langkah ini mencerminkan ketidakmampuan dalam menilai kualitas pemain secara objektif.

Kegagalan strategi transfer semakin diperparah dengan isu ketertarikan klub terhadap talenta muda Carlos Baleba dengan harga selangit mencapai 70 juta euro. Bagi Gerrard, menggaet pemain yang masih mentah di saat tim sedang membutuhkan pemain berpengalaman dan matang untuk bersaing di papan atas adalah bentuk bunuh diri taktis. Ia menilai bahwa keputusan semacam ini tidak hanya merusak keseimbangan tim, tetapi juga menghambat proses pemulihan yang seharusnya dilakukan secara bertahap.

"Lihatlah lini tengah, mereka mendatangkan pemain dari Chelsea , seharga 50 juta euro, Andrey Santos, bukan pemain Manchester United. Kemudian berlanjut ke perekrutan di level yang lebih tinggi," tutur Gerrard.

"Mengapa Anda merekrut pemain yang tidak cukup bagus untuk bermain di Manchester United? Ini adalah satu-satunya pemain yang bisa Anda tarik sekarang, tetapi dia bukan pemain Manchester United. Carlos Baleba, 70 juta poundsterling. Dia punya potensi. Dia belum siap membantu Manchester United bersaing di puncak liga sekarang," sambungnya.

Misteri Dicadangkannya Cunha dan Kursi Panas Carrick.

Gerrard juga menyentil sektor sayap yang dinilainya kehilangan magis era kejayaan Ryan Giggs dan David Beckham lantaran Amad Diallo masih tampil angin-anginan tanpa kontribusi nyata. Keheranan sang legenda kian membuncah saat melihat keputusan aneh Carrick yang terus-menerus memarkir rekrutan anyar asal Brasil, Matheus Cunha, di bangku cadangan.

"Cunha dicadangkan. Apakah dia tidak berlatih dengan benar? Apakah dia pemain bermasalah? Mereka baru saja merekrutnya, mengapa pemain internasional Brasil tidak menjadi starter?" kritik Gerrard.

Di tengah performa apik Bryan Mbeumo yang berjuang sendirian di lini depan, atmosfer internal tim kian memanas usai kekalahan memalukan dari Como dan Bournemouth. Michael Carrick yang sempat pasang badan membela skuadnya kini benar-benar terpojok di tubir jurang pemecatan.

Kendati sang juru taktik dilaporkan masih selamat dari evaluasi darurat awal pekan ini, manajemen Manchester United dikabarkan mulai bergerilya memburu nakhoda baru. Muncul berbagai isu liar yang mengaitkan nama-nama elite seperti Eddie Howe, Julian Nagelsmann, hingga Antonio Conte ke kursi panas Old Trafford, sementara pendekatan terhadap Unai Emery dan Fabian Hurzeler menemui jalan buntu.

Sikap tegasnya Gerrard membuka mata banyak pihak bahwa mencopot Carrick hanyalah solusi tambal sulam yang tidak akan menyembuhkan penyakit kronis Setan Merah. Tanpa adanya pembersihan massal terhadap para pemain medioker di bursa transfer mendatang, Old Trafford dipastikan akan terus tenggelam dalam drama keterpurukan tanpa akhir.

Kini, pertandingan penentu hidup-mati berikutnya akan menjadi vonis mutlak bagi masa depan Carrick di Theatre of Dreams. Jika tak ada keajaiban yang mampu mengembalikan marwah tim di atas lapangan, palu pemecatan dipastikan akan menghantam dan menandai babak kehancuran berikutnya bagi sang raksasa tidur.