Peristiwa bersejarah dalam dunia bulu tangkis global terjadi ketika An Se-young, ratu tunggal putri asal Korea Selatan, secara resmi mengalahkan rekor legendaris yang selama ini dipegang oleh Susy Susanti dari Indonesia setelah keluar sebagai juara French Open 2026 dengan cara yang penuh dramatis. Pada usia baru 24 tahun, pemain peringkat satu dunia ini berhasil menegaskan diri sebagai pebulu tangkis wanita paling dominan sepanjang masa, dengan koleksi total 48 gelar juara internasional.

Perjalanan menuju kemenangan di ajang French Open tidak berjalan mulus seperti karpet merah yang dipenuhi bunga. Baru saja menyelesaikan pertandingan final Denmark Open 2026 dalam kondisi fisik terkuras, An Se-young langsung harus menghadapi tantangan baru tanpa waktu istirahat yang cukup untuk pemulihan.

Ketegangan mulai memuncak saat pertandingan final berlangsung. Lawan yang dihadapi, Pusarla Venkata Sindhu dari India, tampil dengan performa luar biasa dan mengejutkan semua pihak. Dibimbing oleh pelatih asal Indonesia, Irwansyah, petenis veteran tersebut menerapkan strategi agresif yang sulit diprediksi, membuat kubu Korea Selatan terkejut.

An Se-young, yang sebelumnya pernah dibina oleh pelatih Indonesia lainnya, Rony Agustinus, tampak kesulitan menghadapi serangan-serangan cepat dan smes menyilang dari Sindhu. Akibatnya, gim pertama berhasil direbut lawan dengan skor 16-21, menciptakan kepanikan nyata di bangku pelatih Korea Selatan.

Ketinggalan satu gim dari pemain berpengalaman seperti Sindhu tentu menjadi beban psikologis besar, apalagi ketika An Se-young sedang dalam kondisi fisik yang sangat terkuras. Namun justru pada momen kritis ini, ia menunjukkan alasan mengapa dirinya dijuluki sebagai monster pertahanan paling menakutkan di dunia.

Memasuki gim kedua dan penentuan, An Se-young tidak lagi membiarkan lawan mengendalikan ritme permainan. Dengan kesabaran luar biasa dan ketenangan tingkat tinggi, ia mengubah strategi dengan membangun pertahanan yang sangat kokoh, sehingga serangan frontal Sindhu terus terhambat seperti membentur dinding tebal.

Perlahan namun pasti, keberuntungan mulai berpihak pada An Se-young. Ia berhasil membalikkan keadaan secara dramatis dengan kemenangan telak di dua gim berikutnya, masing-masing dengan skor 21-11 dan 21-12. Kemenangan ini menjadi bukti ketangguhan mental dan fisik yang luar biasa.

Setelah pertandingan usai, An Se-young secara terbuka mengungkapkan rahasia di balik keberhasilannya meredam serangan lawan. Ia menyatakan, "Saya fokus pada pertahanan saya,", dikutip oleh Bolasport dari sumber resmi BWF Badminton.

Selain itu, ia menambahkan, "Saya berusaha untuk tidak terburu-buru,".

Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian trofi musiman biasa bagi An Se-young. Secara resmi, ia berhasil menghancurkan rekor legendaris Susy Susanti yang selama puluhan tahun menjadi acuan prestasi dengan 47 gelar internasional, sebuah rekor yang sebelumnya dianggap mustahil dilampaui.

Pencapaian bersejarah ini juga menjadi jawaban atas berbagai kritik dan tudingan miring yang sempat menghampiri An Se-young pada masa-masa sulit. Tiga tahun lalu, ia sempat terkena cedera lutut parah yang mengancam karier emasnya di usia yang masih sangat muda, tetapi kini berhasil bangkit dan membuktikan kehebatannya secara global.

Ketika itu, sempat beredar kabar tidak benar yang menyebutkan bahwa karier atlet tersebut akan berakhir sebelum mencapai puncak kejayaan, akibat jadwal turnamen dunia yang sangat padat dan tidak manusiawi. Beruntung, tim pelatih serta tenaga medis secara konsisten mengambil langkah strategis untuk menjaga proses pemulihan fisik dan melindungi kesehatan mental sang atlet dari tekanan publik yang intens dan tanpa henti.

Kini, semua air mata, rasa sakit akibat operasi, serta usaha keras yang dilakukan di ruang rehabilitasi telah terbayar lunas dengan pencapaian rekor paling bergengsi di dunia bulu tangkis. Sang ratu permainan tepok bulu dunia akhirnya angkat bicara mengenai apa yang paling ia idamkan setelah berhasil menyelesaikan misi yang dianggap mustahil tersebut.

"Saya ingin merayakan bersama tim saya dengan makan malam dan beristirahat dengan baik," katanya.

"Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar An Se-young.

Perkataan yang terdengar santai namun sarat makna ini menjadi peringatan serius bagi seluruh lawannya di sektor tunggal putri. Sikap tegas yang ditunjukkan An Se-young, baik di dalam maupun di luar lapangan, menunjukkan bahwa ambisi besar untuk meraih kejayaan masih tetap utuh dan tak sedikit pun berkurang.

Meskipun kini persaingan di papan atas dunia bulu tangkis semakin ketat dengan munculnya ancaman dari para pesaing generasi baru, An Se-young telah berhasil menorehkan namanya dalam sejarah sebagai tokoh abadi. Pertandingan-pertandingan krusial yang tersisa dalam kalender BWF World Tour dipastikan menjadi ajang pembuktian lebih lanjut bagi sang legenda hidup untuk memperkuat dominasinya dan menjaga jarak keunggulannya dari generasi pengganti.

Di tengah tantangan persaingan yang semakin mengeras, An Se-young menatap masa depan dengan keyakinan penuh, menunjukkan bahwa kehebatannya bukan sekadar hasil dari satu momen, melainkan bukti komitmen tak kenal lelah terhadap pencapaian tertinggi dalam olahraga.