Patah hati sering dianggap sebagai bagian dari perjalanan cinta yang harus dilewati. Namun, di balik perasaan sedih setelah kehilangan seseorang, ada respons tubuh yang tidak boleh disepelekan. Stres akibat perpisahan dapat memengaruhi kerja otak, memicu perubahan hormon, hingga berdampak pada kesehatan jantung. Spesialis penyakit dalam dr. Arie Wibowo, SpPD, menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami patah hati, tubuh dapat mengalami peningkatan produksi hormon kortisol. Hormon ini berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk metabolisme dan respons terhadap stres. Peningkatan hormon stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah sindrom patah hati atau broken heart syndrome, yaitu kondisi yang dapat mengganggu fungsi jantung. Dalam dunia medis, sindrom patah hati dikenal sebagai takotsubo cardiomyopathy. Kondisi ini ditandai dengan melemahnya kemampuan jantung untuk memompa darah akibat gangguan pada otot jantung. Bentuk salah satu ruang jantung dapat berubah menyerupai perangkap gurita yang disebut takotsubo, sehingga kondisi ini mendapat nama tersebut. Sindrom ini pertama kali dikenali di Jepang. Salah satu pemicunya adalah tekanan emosional yang berat, termasuk kesedihan mendalam akibat kehilangan orang terdekat atau berakhirnya hubungan asmara. Ketika seseorang mengalami stres berat, tubuh dapat melepaskan hormon seperti kortisol, adrenalin, dan norepinefrin dalam jumlah yang meningkat. Perubahan respons hormon tersebut dapat memengaruhi kerja jantung. Meski tidak semua orang yang mengalami patah hati akan mengalami gangguan jantung, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan emosional dapat menimbulkan dampak fisik yang nyata. Karena itu, keluhan yang muncul setelah mengalami stres berat tetap perlu diperhatikan. Cara Menjaga Kesehatan saat Mengalami Patah Hati Ketika sedang menghadapi perpisahan, menjaga kesehatan sering kali menjadi hal yang terabaikan. Sebagian orang kehilangan semangat beraktivitas, mengalami perubahan pola makan, atau memilih mengonsumsi alkohol dan menggunakan produk tembakau untuk melampiaskan perasaan. Padahal, kebiasaan tersebut dapat memperburuk kondisi tubuh, termasuk meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung. Selain menjaga pola makan dan tidur, cobalah tetap melakukan aktivitas fisik ringan, menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat, serta memberi waktu kepada diri sendiri untuk memulihkan kondisi emosional. Tidak perlu memaksakan diri untuk segera melupakan seseorang. Proses pemulihan setiap orang berbeda, dan mencari bantuan profesional merupakan pilihan yang tepat jika kesedihan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Hal terpenting, jangan mengabaikan gejala fisik yang muncul saat mengalami stres berat. Jika dada terasa nyeri, sesak napas, atau muncul keluhan yang mengarah pada gangguan jantung, segera cari pertolongan medis.
Patah Hati Bisa Ganggu Kesehatan Jantung dan Otak
Stres akibat patah hati dapat memengaruhi kesehatan jantung dan otak. Hormon kortisol meningkat, berisiko menyebabkan sindrom takotsubo.