Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan kekecewaan terhadap keputusan pemerintah yang tetap mengizinkan penyelenggaraan konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, di wilayah Indonesia.

Menurutnya, keputusan tersebut bertentangan dengan sikap sebelumnya yang telah disampaikan oleh pemerintah terhadap masukan dan aspirasi yang diberikan oleh MUI secara resmi.

Sudarnoto menekankan bahwa pemerintah seharusnya lebih memperhatikan keberatan yang telah disampaikan lembaga tersebut sebelum memastikan pelaksanaan acara musik internasional tersebut.

Konser bertajuk Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia dijadwalkan digelar di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada tanggal 31 Oktober 2026, dan dilanjutkan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.

"Saya sangat menyesalkan keputusan pemerintah yang ternyata tidak 'tegak lurus' (istilah yang disebut pejabat Kementerian Pariwisata usai pertemuan dengan MUI) dengan sikap dan pernyataan resmi MUI serta aspirasi masyarakat," kata Sudarnoto kepada MUI Digital di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Sebelumnya, MUI telah menyampaikan masukan resmi kepada pemerintah mengenai rekam jejak Bocelli yang dinilai kontroversial dari sisi moral dan kemanusiaan.

Keberatan tersebut didasarkan pada laporan keterlibatan penyanyi tersebut dalam acara penggalangan dana yang dikaitkan dengan dukungan terhadap militer Israel.

Sudarnoto menyebut bahwa Bocelli pernah tampil dalam kegiatan penggalangan dana untuk Israel Defense Forces (IDF) pada tahun 2010, berdasarkan informasi yang diklaim berasal dari kelompok pro-Zionis di Amerika Serikat.

Menurutnya, keterlibatan tersebut menjadi dasar utama keberatan MUI terhadap rencana konser Bocelli di Indonesia.

Bagi MUI, persoalan ini bukan hanya soal karya seni atau musik, melainkan juga menyangkut sikap moral dan tanggung jawab terhadap penderitaan rakyat Palestina dalam konteks konflik yang berkepanjangan.

"Bocelli memang bukan zionis dan lirik-lirik lagunya bagus, melainkan tindakannya tampil bernyanyi di acara penggalangan dana FIDF membuktikan dukungannya kepada mesin pembunuh zionis," ujar Sudarnoto.

Penolakan MUI didasarkan pada prinsip penentangan terhadap penjajahan, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi komitmen konstitusional Indonesia.

Karena itu, Sudarnoto mempertanyakan kembali keputusan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lokasi penyelenggaraan konser seorang seniman yang dinilai pernah terlibat dalam aktivitas yang mendukung militer Israel.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian resmi MUI terhadap rekam jejak Bocelli, meskipun promotor konser menyatakan bahwa acara tersebut mengusung pesan kemanusiaan dan perdamaian.

Sudarnoto juga merespons rencana donasi 100 ribu pasang sepatu bagi anak-anak Palestina dan anak-anak di negara lain yang terdampak perang, yang disampaikan oleh promotor konser, Shoemaker Live, sebagai bentuk kontribusi kemanusiaan.

Namun, menurut Sudarnoto, bantuan tersebut tidak dapat mengatasi atau menjawab keberatan utama MUI yang berkaitan dengan keterlibatan Bocelli dalam kegiatan yang dikaitkan dengan militer Israel.

Menurutnya, bantuan kemanusiaan tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menutupi pertanyaan moral terhadap tindakan seseorang yang dianggap memiliki konsekuensi politik dan etis.

"Dan 100 ribu pasang sepatu sama sekali tidak sebanding dengan kebrutalan IDF membunuhi penduduk Gaza," tuturnya.

Sudarnoto menegaskan bahwa MUI masih berharap pemerintah melakukan peninjauan ulang atas keputusan yang memungkinkan pelaksanaan konser tersebut.

Peninjauan ulang, menurut dia, diperlukan demi menjaga kemaslahatan umum serta menunjukkan komitmen Indonesia terhadap rakyat Palestina dalam konteks perjuangan kemanusiaan dan anti-penjajahan.

Selain itu, Sudarnoto juga menyampaikan harapan kepada Andrea Bocelli serta tim manajemennya agar menunjukkan komitmen terbuka dalam menunjukkan iktikad baik. Ia berharap sang penyanyi bersedia menyampaikan penyesalan secara eksplisit atas keterlibatannya dalam acara penggalangan dana untuk IDF pada masa lalu.

Di sisi lain, promotor Shoemaker Live tetap memastikan bahwa konser Andrea Bocelli akan berlangsung sesuai jadwal yang telah ditentukan. Founder Shoemaker Live, Prajna Murdaya, menyatakan bahwa pihaknya telah mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat serta memperhitungkan berbagai aspek penting, termasuk sektor pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

"Kami mendengarkan setiap pandangan tersebut dengan hati terbuka. Maestro Bocelli senantiasa menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan ingin menyampaikan harapan akan perdamaian, terutama bagi mereka yang hingga hari ini belum dapat merasakannya," ujar Prajna dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (28/10/2026), sebagaimana dikutip Antara.

Prajna menegaskan bahwa pesan perdamaian dan persatuan akan menjadi inti dari rangkaian pertunjukan yang diselenggarakan di Borobudur maupun Jakarta. Salah satu lagu dalam pertunjukan direncanakan dipersembahkan khusus untuk tujuan kemanusiaan, terutama bagi anak-anak dan masyarakat yang tinggal di wilayah konflik.

Selain itu, promotor menyebutkan bahwa acara ini juga akan mendukung program donasi sepatu. Konser internasional tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi positif bagi Indonesia, termasuk meningkatkan tingkat hunian hotel, menaikkan permintaan transportasi, serta membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.

Keterlibatan musisi orkestra, penyanyi, paduan suara, serta penari daerah juga diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi seniman lokal untuk turut berpartisipasi dalam pertunjukan skala internasional tersebut.

Meskipun demikian, perbedaan pandangan antara MUI dan promotor masih menjadi sorotan menjelang pelaksanaan konser. MUI menekankan pentingnya solidaritas terhadap Palestina serta aspek moral dalam keputusan yang diambil, sementara promotor lebih menekankan pesan perdamaian, kegiatan kemanusiaan, serta manfaat sosial dan ekonomi yang dapat diperoleh dari penyelenggaraan acara tersebut.