Puluhan orang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Trans TV, wilayah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada hari Kamis (5/11). Massa yang hadir menyampaikan tuntutan agar Ruben Onsu tidak lagi diberi ruang tampil di layar kaca.
Mereka menuntut manajemen stasiun televisi tersebut mempertimbangkan keberadaan Ruben sebagai salah satu pengisi acara. Tuntutan serupa juga disampaikan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Menanggapi isu tersebut, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, memberikan pernyataan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat melalui demonstrasi.
"Kita kan enggak bisa cegah. Ya, ini kan negara demokrasi. Sepanjang dilakukan dengan aturan yang ada dalam menyampaikan pendapat, ya silakan saja," ujar Minola Sebayang, di kantornya, Kamis (5/11).
Di sisi lain, Minola menilai tuntutan demonstran tidak otomatis menjadi dasar bagi perusahaan televisi untuk mengambil keputusan terhadap pekerjanya. Ia menekankan bahwa stasiun televisi memiliki pertimbangan dan mekanisme sendiri dalam menentukan siapa yang terlibat dalam program siaran.
Keputusan tersebut semestinya berada di tangan manajemen perusahaan dengan mempertimbangkan aspek profesional. Minola menekankan bahwa independensi perusahaan dalam menentukan kebijakan harus dihargai.
Minola menyebut bahwa Trans TV sebagai lembaga penyiaran memiliki standar dan pertimbangan tersendiri dalam mengevaluasi pengisi acara. Ia menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada pihak manajemen Trans TV.
Menurut Minola, keputusan perusahaan tidak seharusnya hanya didasarkan pada tekanan dari sekelompok orang yang menyampaikan tuntutan melalui demonstrasi.
"Demo itu tidak selalu otomatis wajib sebagai suatu pengambilan keputudan," tambahnya.
Dengan demikian, pihak Ruben memilih tidak bereaksi berlebihan terhadap aksi tersebut. Minola juga tidak ingin tuntutan dari para demonstran langsung dianggap sebagai sesuatu yang akan memengaruhi keberlangsungan pekerjaan kliennya.
Minola menegaskan bahwa Ruben tidak menjadikan aksi massa sebagai sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia menyebut kliennya memiliki pandangan tersendiri mengenai pekerjaan, karier, dan rezeki yang diperoleh selama ini.
"Kalau Ruben begini, semua itu kan adalah milik Tuhan. Apapun yang ada sama kita itu titipan, kapan pun bisa diambil. Pekerjaan kita, kapan pun bisa diambil, kapan pun kita bisa kehilangan pekerjaan, dan kapan pun kita bisa mendapatkan pekerjaan," tutur Minola membeberkan isi hati kliennya.
Minola menjelaskan bahwa Ruben memahami bahwa perjalanan karier seseorang tidak selalu sesuai harapan. Ada kalanya seseorang mendapatkan kesempatan, tetapi juga mungkin kehilangan pekerjaan yang selama ini dijalani.
"Kalau misalnya kita ketakutan dengan hal-hal yang tidak pasti seperti itu, maka hidup kita akan penuh dengan ketakutan. Jadi sudah ada yang mengatur. Kalau memang rezeki itu adalah rezeki Ruben, maka dia tidak akan pernah kehilangan pekerjaan itu," ucap Minola.
Ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak seharusnya membuat seseorang hidup dalam ketakutan. Minola mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya tidak dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Minola menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap kehidupan orang lain. Terlebih, pekerjaan merupakan bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarganya.
"Tapi ingat, orang yang menzalimi orang lain dan membuat orang lain kehilangan kesempatan dan pekerjaan dengan alasan apa pun, dia juga pasti akan mendapatkan balasan," cetus Minola.
Ia menegaskan bahwa tindakan yang merugikan orang lain tidak seharusnya dilakukan, meskipun dilakukan dalam bentuk demonstrasi. Minola menekankan bahwa setiap orang berhak menyampaikan pendapat, tetapi tidak boleh mengorbankan kesempatan orang lain untuk mencari nafkah.
Minola menekankan bahwa keputusan perusahaan harus berdasarkan pertimbangan profesional, bukan hanya tekanan dari kelompok tertentu. Ia menilai bahwa tuntutan demonstran tidak cukup untuk mengubah kebijakan stasiun televisi.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa Ruben Onsu tetap akan menjalani pekerjaannya dengan profesional, tanpa terpengaruh oleh isu-isu yang muncul dari aksi demonstrasi tersebut.