Tekanan batin yang memikul ekspektasi publik sebagai unggulan teratas sekaligus juara bertahan akhirnya dijawab tuntas lewat pertarungan mental yang dramatis oleh bintang tenis Indonesia, Janice Tjen. Langkah sang ratu tenis tanah air di panggung Chennai Open 2026 nyaris tersandung saat menghadapi duel sengit kontra wakil Taiwan, Joanna Garland, di babak 16 besar.
Bermain di bawah sorotan tajam dan atmosfer lapangan Chennai yang menuntut stamina prima pada Rabu kemarin, Janice harus menguras seluruh energi emosionalnya. Status mentereng sebagai unggulan nomor wahid rupanya tidak membuat langkahnya mulus tanpa friksi.
Garland datang bukan untuk menyerah begitu saja, melainkan memberi perlawanan spartan yang sempat membuat kubu pendukung Janice menahan napas panjang. Sepanjang set pertama, tensi lapangan begitu mencekam karena kedua petenis saling pamer pertahanan kokoh lewat servis-servis mematikan.
Menghadapi tekanan psikologis yang pekat, Janice tak tinggal diam ketika Garland terus-menerus memaksanya melakukan reli panjang yang melelahkan. Dirinya pasang badan demi menjaga marwah sang juara bertahan sekaligus menepis segala tudingan miring bahwa posisinya di puncak bakal mudah digoyang oleh lawan non-unggulan.
Pertarungan set pembuka benar-benar menyajikan drama adu urat syaraf yang intens. Kedua petenis saling mengunci ritme permainan dan saling mempertahankan service game masing-masing tanpa ada yang mau mengalah hingga skor menyentuh angka kembar 6-6.
Situasi tie-break yang menjadi penentu hidup-mati set pertama seketika membuat suhu pertandingan kian memanas. Di titik nadir inilah, mentalitas juara seorang Janice Tjen berbicara lantang di atas lapangan semen India tersebut.
Janice seolah menolak tunduk pada rasa panik dan membungkam isu liar yang sempat meragukan fokusnya di awal laga. Dengan ketenangan luar biasa yang bikin lawan mati kutu, petenis berusia 24 tahun itu langsung tancap gas dan hanya memberikan satu poin hiburan bagi Garland.
Keunggulan telak 7-1 di babak penentuan itu memastikan set pertama jatuh ke pelukan Janice dengan skor 7-6 (1). Kemenangan set pertama itu bukan sekadar angka di papan skor, melainkan pukulan telak yang meruntuhkan benteng kepercayaan diri sang rival.
Memasuki set kedua, skenario pertandingan langsung berubah total 180 derajat menjadi panggung monolog Janice Tjen. Mengantongi keunggulan moral, petenis kebanggaan Indonesia ini langsung menginjak pedal gas dalam-dalam tanpa memberi ruang bernapas sedikit pun bagi Garland.
Pukulan-pukulan Janice kian akurat dan bertenaga, membongkar pertahanan Garland yang mulai keropos akibat kelelahan fisik dan frustrasi mental. Janice melesat jauh meninggalkan lawannya dengan memimpin 4-1 setelah berkali-kali sukses mematahkan servis Garland secara meyakinkan.
Statistik WTA secara terbuka menunjukkan perbedaan signifikan dalam performa kedua pemain selama pertandingan. Garland, yang mulai kehilangan konsentrasi, mencatat lima kali kesalahan ganda (double faults), sedangkan Janice tampil sangat terkendali dengan hanya dua kali double faults.
Janice menunjukkan kelas permainannya melalui penguasaan raket yang menunjukkan perbedaan level antara keduanya. Ia mampu menguasai 57 persen total poin dalam pertandingan, sementara lawannya semakin kewalahan dan hanya mampu mengamankan 43 persen poin.
Janice segera menyelesaikan pertandingan ini dengan mematahkan servis lawan pada gim kelima. Laga yang berlangsung selama satu jam 58 menit berakhir dengan kemenangan telak 6-1 di set kedua.
Kemenangan dua set langsung dengan skor 7-6(1) dan 6-1 menjadi bukti nyata ketangguhan emosional Janice ketika menghadapi tekanan tinggi. Meski sempat dihujani empat servis ace oleh Garland, Janice tetap menjaga ketenangan dan membalas dengan pukulan balik yang efektif.
Namun, kemenangan ini tidak boleh terlalu lama dirayakan karena tantangan sebenarnya sudah menanti di kamar ganti. Ambisi Janice untuk mempertahankan gelar juara di turnamen WTA 250 ini akan menghadapi jalan yang sangat berat.
Di babak perempat final yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (6/11), Janice Tjen akan menghadapi unggulan keenam asal Rusia, Polina Kudermetova. Laga ini diprediksi akan menjadi pertandingan sengit dengan adu teknik dan ketahanan fisik yang tinggi.
Apakah Janice mampu mempertahankan performa sempurnanya dan melaju mulus hingga babak final? Yang jelas, Janice telah membuktikan bahwa mental juaranya tetap tangguh di bawah tekanan apa pun, menegaskan kualitasnya sebagai petenis internasional.