Di balik pesta pora raihan medali emas yang membanggakan di panggung megah Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, tersimpan drama pilu dan luka batin teramat dalam yang menyelimuti kubu Merah Putih. Lintasan lari Nagoya City Mizuho Park Stadium menjadi saksi ketegaran seorang atlet para-atletik Indonesia yang berjuang menghadapi kehilangan sosok penting dalam perjalanan kariernya.

Sorotan tertuju pada Karisma Evi Tiarani, atlet para-atletik andalan Indonesia yang berhasil menyabet medali emas nomor lari 100 meter T63 putri. Atlet berusia 25 tahun tersebut menaklukkan dua wakil tuan rumah, Tomomi Tozawa dan Kaeda Maegawa, sekaligus melengkapi koleksi medali perunggu yang sebelumnya ia raih di nomor lompat jauh.

Namun, keberhasilan Karisma di Jepang bukan sekadar tentang kemenangan dan tambahan medali bagi kontingen Indonesia. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah kehilangan yang membuatnya harus menguatkan diri sebelum bertanding dalam ajang olahraga disabilitas tingkat Asia itu.

Karisma secara khusus mempersembahkan dua medali yang diraihnya untuk mendiang Slamet Widodo, pelatih kepala para-atletik Indonesia yang memiliki peran penting dalam perjalanan kariernya. Kepergian sang pelatih beberapa hari sebelum kontingen Indonesia berangkat ke Jepang menjadi pukulan emosional bagi para atlet yang selama ini mendapat pendampingannya.

Kehilangan tersebut membuat persiapan menuju pertandingan terasa berbeda bagi Karisma dan rekan-rekannya. Sosok pelatih yang selama ini mendampingi latihan dan membantu atlet mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tidak lagi berada di sisi mereka ketika perjuangan di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dimulai.

Meski demikian, Karisma tetap menjalani pertandingan dengan membawa semangat untuk memberikan hasil terbaik. Ia menjadikan dua medali yang diraihnya sebagai bentuk penghormatan kepada Slamet Widodo, sosok yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet nasional.

Usai menyelesaikan final 100 meter T63 putri pada Rabu (21/10/2026), Karisma mengungkapkan perasaannya mengenai pencapaian tersebut. Ia menjelaskan bahwa medali emas dan perunggu yang dibawanya pulang dari Jepang memiliki arti khusus karena dipersembahkan untuk sang pelatih yang telah meninggal dunia.

"Dua medali ini khususnya untuk almarhum Pak Slamet Widodo. Beliau adalah pelatih di para-atletik juga, pelatih saya," ungkap Karisma dengan suara bergetar saat ditemui awak media di area mixed zone Nagoya City Mizuho Park Athletic Stadium, Rabu (21/10/2026).

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang atlet tidak selalu hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi. Bagi Karisma, dua medali yang diraih di Aichi-Nagoya 2026 juga menjadi cara untuk mengenang seseorang yang telah mendampinginya selama menjalani proses latihan dan persiapan menuju pertandingan.

Karisma menyadari bahwa mendiang Slamet Widodo tidak bisa menyaksikan langsung perjuangannya di Jepang. Padahal, sosok pelatih tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan para-atletik Indonesia dan turut menjadi bagian dari proses persiapan para atlet menghadapi kompetisi internasional.

"Memang takdirnya beliau (Slamet Widodo) tidak bisa mengikuti event ini karena sudah mendahului kita (meninggal)," lanjutnya lirih, mengenang kepergian sang pelatih.

Kepergian Slamet Widodo sebelum keberangkatan kontingen Indonesia membuat para atlet harus menghadapi situasi emosional di tengah persiapan kompetisi. Di satu sisi, mereka harus menjaga konsentrasi untuk menghadapi lawan dari negara lain. Di sisi lain, mereka juga harus menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini mendampingi perjalanan mereka telah berpulang.

Bagi Karisma, menghadapi pertandingan dalam keadaan berduka tentu bukan perkara sederhana. Atlet dituntut menjaga fokus, mengendalikan tekanan, serta menampilkan kemampuan terbaik ketika memasuki arena pertandingan. Dalam situasi tersebut, dukungan mental dan kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dari persiapan seorang atlet.

Karisma akhirnya mampu menunjukkan penampilan terbaiknya di nomor 100 meter T63 putri. Ia melesat menuju garis finis dan mengungguli dua pelari Jepang yang tampil di hadapan pendukung mereka sendiri. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi salah satu pencapaian penting Indonesia dalam perburuan medali Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026.

Dalam perlombaan tersebut, Karisma mencatat waktu 14,59 detik. Catatan itu membawanya finis di posisi pertama, mengungguli Tomomi Tozawa yang menempati posisi kedua dengan waktu 16,08 detik dan Kaeda Maegawa di peringkat ketiga dengan catatan 16,67 detik.

Hasil tersebut menunjukkan keberhasilan Karisma mengatasi persaingan di nomor yang diikutinya. Ia mampu menyelesaikan perlombaan dengan catatan waktu terbaik di antara para finalis, sekaligus memastikan tambahan medali emas bagi kontingen Merah Putih.

Medali emas itu juga melengkapi pencapaiannya setelah sebelumnya meraih perunggu pada nomor lompat jauh putri klasifikasi T42/T44/T61/T62/T63/T64. Dua medali tersebut menjadi hasil penting bagi Karisma selama mengikuti kompetisi di Jepang.

Pencapaian Karisma turut memberikan kontribusi bagi perolehan medali Indonesia di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Medali emas dari nomor 100 meter T63 putri tersebut tercatat sebagai emas kelima bagi kontingen Indonesia, sekaligus melampaui target awal federasi yang hanya mematok satu medali darinya.

Keberhasilan itu menjadi semakin berarti karena Karisma mampu menyelesaikan dua nomor pertandingan dengan hasil yang membanggakan. Perolehan medali tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perjuangannya di Jepang tidak hanya berakhir dengan satu pencapaian, melainkan dua hasil yang dapat dipersembahkan kepada orang-orang yang mendukung perjalanan kariernya.

Meski berhasil meraih emas, perhatian terhadap Karisma tidak berhenti pada hasil perlombaan. Seusai pertandingan, muncul persoalan lain yang berkaitan dengan informasi rekor dunia pada nomor 100 meter T63 putri.

Layar monitor resmi dan laman utama Asian Para Games 2026 disebut mencantumkan status World Record (WR) atau rekor dunia baru atas nama Karisma dengan catatan waktu 14,59 detik. Informasi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai status rekor yang tercatat dalam hasil pertandingan.

Klaim rekor dunia yang dibuat oleh Karisma saat berkompetisi di Nagoya memicu perhatian karena catatan waktu yang diraihnya berbeda dengan rekor dunia sebelumnya yang juga atas namanya. Situasi ini mendorong Karisma untuk memberikan penjelasan agar pencapaian dan informasi mengenainya tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Alih-alih membiarkan hal tersebut terlewat, Karisma memilih menyampaikan klarifikasi secara langsung kepada awak media. Ia menjelaskan bahwa rekor dunia atas nama miliknya memang pernah tercatat, tetapi dibuat ketika ia tampil di Paralimpiade Paris 2024.

""Nah, sebenarnya aku mau klarifikasi ini. Di situ tadi tulisannya kan world record. Sebenarnya world record-nya itu aku juga, tapi di Paris (pada Paralimpiade 2024),"" tegas Karisma tanpa ragu.

Dengan penjelasannya itu, Karisma ingin meluruskan perbedaan antara catatan waktu yang diraihnya saat Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dan rekor dunia sebelumnya yang telah ia buat. Waktu 14,59 detik di Jepang mengantarkan Karisma meraih medali emas, namun angka tersebut tidak menjadi rekor dunia terbaik miliknya.

Rekor dunia yang masih berlaku atas nama Karisma adalah 14,26 detik, yang dicatat ketika ia tampil dalam Paralimpiade Paris 2024. Dengan demikian, catatan waktu 14,59 detik di Nagoya tetap lebih lambat dibandingkan dengan rekor pribadinya sebelumnya.

Perbedaan antara kedua catatan waktu itu menjadi inti dari penjelasan yang ingin disampaikan oleh Karisma. Baginya, pencapaian medali emas tetap penting, namun informasi mengenai status rekor dunia juga perlu diberitahukan secara tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam dokumentasi prestasi atlet.

Karisma kemudian menyatakan bahwa dirinya sendiri belum memahami alasan panitia mencantumkan keterangan pemecahan rekor dunia di layar pertandingan. Ia merasa bingung dan mempertanyakan hal tersebut karena catatan waktu 14,59 detik yang ia raih di Nagoya masih lebih lambat dari rekor pribadinya sebelumnya.

""Saya tidak tahu kenapa di situ ditulisnya pecah world record, padahal sebenarnya belum. World record-nya itu di 14,26 detik. Nah, ini tadi kan 14,59 detik,"" tegasnya lugas.

Penjelasan Karisma ini menjelaskan mengapa ia memberikan klarifikasi setelah perlombaan berlangsung. Tujuannya adalah untuk memastikan keberhasilannya dalam meraih medali emas tidak disertai informasi yang salah tentang status rekor dunia yang tercatat atas namanya.

Persoalan ini juga menunjukkan pentingnya ketepatan data dalam penyelenggaraan kompetisi olahraga internasional. Catatan waktu, hasil pertandingan, dan status rekor menjadi bagian penting dari dokumentasi prestasi atlet. Oleh karena itu, informasi yang ditampilkan kepada penonton maupun dipublikasikan melalui laman resmi harus sesuai dengan catatan yang berlaku.

Dalam kasus Karisma, pencantuman keterangan bahwa 14,59 detik adalah pemecahan rekor dunia memunculkan beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh pihak penyelenggara. Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti mengapa informasi tersebut muncul berdasarkan penjelasannya sendiri.

Karisma menduga kemungkinan adanya kesalahpahaman dalam komunikasi atau pendataan yang menyebabkan informasi tentang rekor dunia tidak ditampilkan dengan tepat. Namun, ia tidak memberikan kepastian terkait penyebab kesalahan itu dan memilih menunggu perkembangan informasi lebih lanjut.

""Kita lihat saja mungkin nanti ada update informasi terkait ini,"" tambahnya santai menanggapi persoalan tersebut.

Sikap Karisma dalam memberikan klarifikasi menjadi bagian penting dari kisahnya di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Setelah meraih medali emas, ia tetap berkomitmen untuk menjaga ketepatan informasi yang berkaitan dengan prestasinya sendiri.

Karisma tidak menampik pencapaiannya di Jepang. Ia berhasil finis pertama dengan waktu 14,59 detik dan mengalahkan dua atlet tuan rumah. Namun, ia juga menegaskan bahwa catatan tersebut tidak dapat disamakan dengan rekor dunia 14,26 detik yang sebelumnya ia bukukan di Paris.

Kejelasan mengenai catatan waktu tersebut penting agar publik dapat membedakan antara hasil pertandingan dan rekor dunia. Medali emas merupakan penghargaan atas keberhasilan Karisma menempati posisi pertama di nomor 100 meter T63 putri, sedangkan rekor dunia merujuk pada catatan waktu terbaik yang diakui dalam nomor tersebut.

Di tengah pembicaraan mengenai hasil perlombaan dan persoalan rekor dunia, Karisma tetap membawa rasa syukur atas dua medali yang berhasil ia raih. Ia tidak melupakan dukungan keluarga, orang-orang yang membantunya selama menjalani latihan, serta masyarakat Indonesia yang terus memberikan doa dan dukungan kepada kontingen Merah Putih.

Selain mempersembahkan medali untuk mendiang Slamet Widodo, Karisma juga mendedikasikan pencapaiannya bagi orang tua tercinta di kampung halaman. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang atlet, terutama ketika harus menjalani latihan intensif dan mengikuti kompetisi di luar negeri.

Dua medali dari Aichi-Nagoya 2026 pun memiliki makna tersendiri bagi Karisma. Medali perunggu dari nomor lompat jauh dan medali emas dari nomor lari 100 meter T63 putri menjadi hasil perjuangannya selama mengikuti kompetisi. Ia juga membawa kenangan terhadap mendiang pelatih yang tidak sempat menyaksikan langsung pencapaian tersebut.

Kisah Karisma di Jepang memperlihatkan dua sisi perjuangan seorang atlet. Di satu sisi, ia berhasil menaklukkan persaingan dan membawa pulang medali emas bagi Indonesia. Di sisi lain, ia harus menghadapi kesedihan akibat kehilangan sosok pelatih yang memiliki peran penting dalam kariernya.

Keberhasilannya meraih emas sekaligus meluruskan informasi mengenai rekor dunia menambah perhatian terhadap kiprahnya di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Karisma tidak hanya menyelesaikan pertandingan dengan hasil membanggakan, tetapi juga menyampaikan penjelasan mengenai catatan waktu yang menjadi bagian dari prestasinya.

Kini, dua medali tersebut menjadi persembahan Karisma bagi mendiang Slamet Widodo, keluarga, dan masyarakat Indonesia. Di balik kemenangan yang diraihnya di Jepang, tersimpan kisah kehilangan, perjuangan menjaga konsentrasi, dan upaya memastikan informasi mengenai prestasi atlet tetap disampaikan secara tepat.

Kemenangan emosional Karisma Evi Tiarani turut memperkuat kontribusi kontingen Indonesia dalam perburuan medali Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Dengan tambahan emas dari nomor 100 meter T63 putri dan perunggu dari nomor lompat jauh, perjuangannya menjadi salah satu kisah yang mewarnai perjalanan Merah Putih dalam ajang olahraga disabilitas tingkat Asia tersebut.