Bara api persaingan sengit antara dua petinju kelas berat ringan asal Britania Raya, Joshua Buatsi dan Willy Hutchinson, kembali membara setelah kesepakatan untuk menggelar pertarungan ulang yang penuh dendam dijadwalkan pada 7 November mendatang di AO Arena, Manchester.
Kali ini, duel kedua bukan sekadar upaya menyelesaikan sengketa emosional dari pertemuan sebelumnya, melainkan pertarungan hidup-mati yang memperebutkan mahkota juara dunia WBC kelas 79,3 kg yang saat ini masih kosong.
Kabar ini langsung menciptakan gelombang di dunia tinju internasional, dengan seluruh mata tertuju pada pertarungan yang menjanjikan kehebohan besar tersebut.
Sabuk juara dunia WBC berwarna Hijau dan Emas yang kini tak bertuan menjadi piala paling ditunggu-tunggu oleh para petinju dunia, memaksa kedua atlet untuk mengorbankan rasa takut demi mengejar legasi abadi dalam sejarah olahraga tinju global.
Pertemuan pertama keduanya di Stadion Wembley pada bulan September 2024 lalu justru meninggalkan bekas luka emosional yang belum kunjung reda, serta menimbulkan kontroversi yang masih menghiasi perbincangan publik.
Dalam pertarungan selama 12 ronde tersebut, hasil keputusan juri berakhir terbelah: dua juri memberikan skor 117-108 dan 115-110 untuk Buatsi, sementara juri ketiga memilih Hutchinson dengan margin tipis 113-112.
Insiden paling menegangkan terjadi pada ronde keenam dan kesembilan, saat Buatsi berhasil menghantam Hutchinson hingga menjatuhkannya ke kanvas, membuat petinju asal Skotlandia itu menyentuh lantai ring secara langsung.
Namun, dengan semangat yang tak kenal menyerah, Hutchinson berhasil bangkit dari kondisi yang nyaris tak mungkin—seolah dari kematian klinis—dan terus melancarkan serangan balasan hingga bel penutup pertandingan berbunyi.
Keberanian luar biasa yang ditunjukkan Hutchinson di hadapan ratusan ribu penonton itulah yang akhirnya menjadi pemicu terwujudnya duel ulang yang telah lama dinanti oleh para penggemar tinju.
Badan tinju dunia WBC akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan bahwa persaingan sengit antara kedua petinju layak mendapatkan panggung terbesar dalam sejarah tinju profesional.
"Lebih dari dua tahun setelah pertemuan pertama mereka, kedua petarung akan memiliki kesempatan untuk menulis babak baru dalam persaingan mereka," demikian pernyataan resmi WBC yang dikutip dari laman resminya, diperoleh di Jakarta, Rabu.
Bagi Joshua Buatsi, pertarungan di Manchester merupakan kesempatan emas untuk membuktikan diri sebagai petinju paling ganas dan dominan di kelasnya. Petinju kelahiran Ghana yang mewakili Britania Raya ini memiliki rekor 20 kemenangan, termasuk 13 kemenangan melalui KO, serta hanya sekali menelan kekalahan dalam karier profesionalnya.
Buatsi bertekad untuk mengulang dominasinya dan membungkam keraguan yang sempat muncul terhadap validitas kemenangannya di Wembley. Ia siap menghadapi kritik dari para pengamat dengan menunjukkan performa lebih intensif dan tajam.
Tujuannya adalah memastikan bahwa hasil pertarungan kali ini tidak lagi bergantung pada penilaian subjektif juri, melainkan keunggulan teknis dan fisik yang tak terbantahkan.
Gelar juara dunia WBC menjadi pencapaian sempurna bagi perjalanan karier Buatsi yang penuh lika-liku. Ia secara terbuka menyadari bahwa kemenangan kedua atas Hutchinson akan mengukuhkan statusnya sebagai pemegang sah gelar kelas 79,3 kg di kancah internasional.
Kemenangan ini tidak hanya menjadi puncak karier, tetapi juga bukti bahwa Buatsi layak ditempatkan dalam jajaran teratas petinju dunia sejati.
Di sisi lawannya, Willy Hutchinson tampil dengan semangat balas dendam yang membakar seluruh pikirannya. Dengan rekor 20 kemenangan, termasuk 14 kali menundukkan lawan melalui KO, serta dua kekalahan, petinju asal Skotlandia ini tidak mau melewatkan kesempatan emas untuk merebut sabuk juara dunia yang hampir terlepas dari genggamannya.
Sebelumnya, Hutchinson bukanlah wajah asing dalam struktur hierarki tinju WBC. Ia pernah meraih gelar WBC International kelas berat ringan pada tahun 2023, dan popularitasnya meningkat pesat saat berhasil memenangkan sabuk WBC Perak di divisi tersebut setelah mengalahkan Craig Richards dalam pertandingan megah yang digelar di Arab Saudi.
Duel ulangan ini menjadi momen penting bagi Hutchinson untuk membuktikan mentalitasnya, sekaligus menepis isu-isu miring yang menyebut dirinya terganggu secara psikologis akibat dua kali terjungkal di Wembley. Keberhasilannya bertahan dari serangan mematikan Buatsi dua tahun lalu menjadi dasar keyakinan bahwa kini giliran dia untuk mengangkat tangan sebagai juara dunia baru.
Ketegangan antara kedua petinju kian memuncak menjelang malam pertarungan di Manchester, di mana perang psikologis mulai dilancarkan oleh masing-masing pihak. Sikap tegas yang ditunjukkan oleh kedua petarung menjanjikan bahwa pertandingan di AO Arena tidak akan berjalan monoton bagi para penggemar olahraga baku hantam.
Bagi Buatsi maupun Hutchinson, malam tanggal 7 November mendatang merupakan pertaruhan yang menentukan nasib—hidup atau mati—dalam upaya merebut sabuk kehormatan Hijau dan Emas yang dianggap sakral dalam dunia tinju profesional.
Ketika pintu arena tertutup dan kedua petinju saling berhadapan satu lawan satu, hanya satu pria yang memiliki keteguhan batin terkuat yang layak keluar dari Manchester sebagai raja dunia baru, dengan sabuk juara yang menjadi bukti atas perjuangan dan keberanian luar biasa.