Seniman tenis putri asal Indonesia, Janice Tjen, kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah olahraga internasional setelah mengalahkan petenis Rusia, Polina Kudermetova, dalam pertandingan babak 32 besar Guangzhou Open 2026 yang berlangsung pada hari Selasa.
Di tengah sorotan publik di Center Court, petenis peringkat ke-47 dunia itu tampil dengan kelincahan dan ketenangan luar biasa, mampu mengalahkan lawannya dalam waktu singkat hanya 58 menit.
Hasil pertandingan ini diraih dengan kemenangan dua set langsung dengan skor 6-2, 6-2, mencerminkan dominasi mutlak yang ditunjukkan Janice sepanjang laga.
Sebagai unggulan kedua dalam turnamen WTA 250 bergengsi ini, beban ekspektasi tinggi dari publik tenis nasional turut menempel pada pundak petenis muda asal Indonesia tersebut.
Sejak hari pertama turnamen digelar di wilayah Tiongkok, Janice menghadapi tekanan mental yang signifikan akibat harapan besar yang diletakkan oleh penggemar tenis tanah air.
Awal pertandingan berjalan ketat ketika Kudermetova mencoba menguasai ritme permainan melalui servis kuat dan pukulan keras sejak gim pertama.
Namun, Janice yang dikenal memiliki ketenangan batin di atas rata-rata mampu menahan tekanan agresif dari lawannya asal Eropa Timur tersebut tanpa terpengaruh.
Kemenangan cepat dalam waktu kurang dari satu jam ini berhasil menghentikan tudingan negatif yang sempat muncul sebelumnya tentang kemampuan Janice untuk bersaing di turnamen lapangan keras.
Dengan performa yang konsisten dan hampir tanpa cela, ia menunjukkan kelasnya sebagai salah satu ancaman terbesar di kancah tenis Asia pada musim ini.
Perjalanan pertandingan di set pertama sempat memicu kecemasan saat Janice tertinggal 0-1 pada awal gim, tetapi ia langsung merespons dengan tindakan dramatis.
Ia berhasil merebut lima gim beruntun secara berturut-turut, mengantarkan dirinya unggul 5-1 sebelum menutup set pertama dengan kemenangan telak 6-2.
Kudermetova tidak menyerah begitu saja dan mencoba mempertahankan peluang dengan melepaskan 18 pukulan winner yang berbahaya.
Tetapi, strategi disiplin Janice yang bermain dari belakang garis lapangan membuat lawannya kesulitan, hingga akhirnya melakukan 29 kali kesalahan sendiri (unforced errors).
Statistik resmi pertandingan menunjukkan dominasi luar biasa dari petenis Indonesia, dengan raihan 56 persen poin secara keseluruhan.
Janice berhasil mencatatkan empat ace tanpa pernah melakukan kesalahan servis ganda, serta hanya membuat empat kesalahan sendiri sepanjang pertandingan.
Pada set kedua, dominasi Janice semakin tak terbendung setelah berhasil mematahkan servis Kudermetova dua kali berturut-turut, membuka keunggulan 4-0.
Meskipun Kudermetova sempat merebut dua gim untuk menghibur diri, Janice tetap mampu menjaga fokus dan mempertahankan keunggulannya hingga akhir pertandingan.
Kemenangan akhir dicatatkan dengan skor 6-2, menandai kemenangan sempurna dalam dua set tanpa kebobolan gim tambahan.
Hasil ini tidak hanya membuktikan kemampuan teknis Janice, tetapi juga menepis isu-isu negatif yang menyebut kondisi fisiknya tidak siap menghadapi turnamen di Guangzhou.
Banyak pihak sebelumnya memperkirakan bahwa fokus Janice akan terpecah karena harus berlaga di dua kategori kompetisi secara bersamaan.
Di luar nomor tunggal putri, Janice justru menarik perhatian dunia melalui kolaborasi historisnya dalam nomor ganda putri bersama petenis legendaris Amerika Serikat, Venus Williams.
Kerja sama ini menjadi bukti bahwa Janice tidak hanya tangguh di tunggal, tetapi juga mampu berkontribusi signifikan dalam format ganda dengan rekan berkelas dunia.
Pasangan lintas generasi ini berhasil menunjukkan kualitas tinggi dengan melaju mulus ke babak perempat final turnamen tersebut.
Janice secara terbuka menunjukkan kedewasaan mental yang luar biasa saat harus bermain berdampingan dengan petenis legendaris yang telah meraih tujuh gelar Grand Slam.
Bukan malah merasa canggung di hadapan sang ikon tenis dunia, ia justru tampil sebagai motor serangan yang stabil dan konsisten, menjaga reputasi sang ratu tenis internasional.
Kini, euforia kemenangan atas Kudermetova harus segera ditinggalkan karena tantangan yang jauh lebih berat menanti di babak 16 besar, yang digelar pada Rabu (28/10/2026).
Janice dijadwalkan menghadapi Harriet Dart, petenis tangguh asal Inggris, yang berhasil melaju ke babak selanjutnya setelah menang dalam pertandingan panjang tiga set melawan Tatiana Prozorova.
Pertemuan melawan Dart diprediksi akan menjadi laga yang sangat intens, mengingat lawan tersebut dikenal memiliki daya tahan fisik dan mental yang luar biasa.
Janice diharapkan dapat mempertahankan konsistensi permainannya sepanjang pertandingan dan tidak memberi celah sedikit pun bagi petenis asal Britania Raya untuk mengembangkan strategi serangan.
Tantangan fisik yang harus dihadapi Janice semakin meningkat, terutama karena dalam sektor ganda ia bersama Venus Williams harus siap menghadapi pasangan unggulan dari Ukraina dan Jepang, yaitu Lyudmyla Kichenok dan Makoto Ninomiya.
Dua pertandingan berat yang harus dijalani dalam satu hari ini menjadi ujian sejati terhadap stamina serta ketahanan mental Janice sebagai salah satu bintang tenis dunia.
Laga penentu antara hidup dan mati di Guangzhou ini diperkirakan akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier internasional Janice Tjen.
Kini, publik tanah air menantikan dengan penuh harap, berharap cahaya gemilang sang srikandi tetap bersinar terang hingga akhirnya membawa pulang trofi juara ke pangkuan Ibu Pertiwi.