Ketegangan tingkat tinggi dan drama adu mental tersaji di lapangan keras Utsubo Tennis Center saat petenis kebanggaan Indonesia, Janice Tjen, berjuang mati-matian menyelamatkan martabatnya sebagai unggulan teratas di turnamen WTA 250 Japan Open 2026. Sempat berada di ujung tanduk dan dihantui bayang-bayang kegagalan ganda usai terdepak di sektor tunggal, srikandi tenis Merah Putih ini membuktikan taringnya lewat comeback dramatis yang membuat publik Osaka menahan napas.
Berduet dengan bintang spesialis ganda asal Australia, Storm Hunter, Janice dipaksa memeras keringat dan menguras emosi menghadapi perlawanan spartan duet non-unggulan asal Taiwan, Ya-Hsin Lee/Fang-Hsien Wu. Laga perempat final yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026) tersebut berubah menjadi panggum pertaruhan reputasi bagi duet gado-gado Indonesia-Australia ini.
Tekanan berat sejatinya sudah menggelayuti pundak Janice Tjen bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di lapangan untuk partai ganda. Beberapa hari sebelumnya, isu miring sempat menerpa konsentrasi petenis muda berbakat ini setelah langkahnya di sektor tunggal putri harus kandas prematur pada babak 32 besar.
Janice harus menelan pil pahit tersingkir dari petenis Amerika Serikat, Ashlyn Krueger, lewat pertarungan dua set langsung dengan skor kembar 4-6, 4-6. Kekalahan dingin di nomor tunggal tersebut sempat memicu desas-desus liar di kalangan pencinta tenis, yang mempertanyakan kesiapan mental sang bintang dalam memikul status unggulan pertama di sektor ganda.
Namun, alih-alih terpuruk dalam duka eliminasi tunggal, Janice akhirnya memilih tak tinggal diam. Bersama Storm Hunter, ia turun ke lapangan dengan satu misi mutlak: membungkam segala keraguan dan membuktikan bahwa status unggulan nomor satu bukan sekadar pemberian cuma-cuma dari daftar peringkat WTA.
Meski demikian, jalan terjal langsung menghadang mereka di set pembuka. Lee/Wu yang tampil tanpa beban bermain sangat lepas dan agresif, memanfaatkan kelengahan Janice/Hunter yang tampak terlambat panas dan kerap kehilangan momentum pada gim-gim krusial.
Sorak-sorai penonton di Osaka kian bergemuruh ketika pasangan Taiwan tersebut berhasil mencuri break servis penting. Set pertama pun lepas dari genggaman Janice/Hunter setelah Lee/Wu mengunci kemenangan dengan skor 4-6, membuat aroma kekalahan mengejutkan mulai tercium menyengat di arena pertandingan.
Kondisi ruang istirahat di pinggir lapangan sempat memanas saat jeda set pertama. Janice dan Storm Hunter terlihat berdiskusi intens, mengatur ulang ritme napas, serta membongkar taktik permainan lawan yang sempat membuat mereka kewalahan di area baseline.
Janice yang menolak menyerah pada nasib buruk langsung pasang badan di set kedua. Pemain berusia muda ini menunjukkan kedewasaan taktik yang luar biasa, membenahi konsistensi penempatan bola servis dan bermain lebih rapat di area net bersama Hunter.
Strategi tersebut terbukti ampuh meredam agresivitas lawan. Janice/Hunter mulai mendominasi reli-reli panjang dan memaksa Lee/Wu melakukan rentetan kesalahan elementer hingga berhasil merebut set kedua dengan skor meyakinkan 6-3, sekaligus memaksakan digelarnya set penentuan lewat format menegangkan: super tie-break 10 poin.
Memasuki babak penentuan, atmosfer di Utsubo Tennis Center berubah mencekam. Kedua pasangan saling jual-beli pukulan mematikan dan kejar-mengejar angka di papan skor, di mana satu kesalahan kecil saja bisa langsung memusnahkan asa melangkah ke semifinal.
Dalam situasi hidup dan mati tersebut, mental baja Janice/Hunter berbicara lantang. Dengan ketenangan luar biasa di fase akhir super tie-break, duet Indonesia-Australia ini berhasil melepaskan diri dari tekanan dan melesat menutup laga dengan skor dramatis 10-6, menuntaskan duel berdurasi satu jam 15 menit tersebut.
Berdasarkan lembar statistik pertandingan resmi WTA, kemenangan ini diraih berkat kedisiplinan dan minimnya kesalahan yang dibuat Janice/Hunter. Mereka berhasil memenangi 53 persen total poin berbanding 48 persen milik pasangan Taiwan, serta hanya melakukan 28 unforced errors jauh lebih rapi dibanding Lee/Wu yang melakukan 43 kesalahan sendiri.
Selain itu, dominasi servis Janice/Hunter tercermin dari torehan dua ace bersih dan hanya mencatatkan satu kesalahan servis ganda (double fault). Sebaliknya, Lee/Wu tampak goyah di bawah tekanan dengan mencetak tiga kali double fault yang berbuah poin cuma-cuma bagi Janice dan rekannya.
Ditemui usai pertarungan berdarah-darah di mixed zone, Janice Tjen akhirnya buka suara secara blak-blakan mengenai gejolak emosi dan beban mental yang sempat menderanya sepanjang laga pada Rabu (21/10/2026).
Dengan senyum lega bercampur lelah yang masih membekas di wajahnya, Janice mengakui bahwa kekalahan di sektor tunggal beberapa hari sebelumnya sempat menyisakan luka psikologis yang cukup mengganggu fokus awalnya di lapangan.
"Sejujurnya, tidak mudah untuk langsung bangkit setelah apa yang terjadi di nomor tunggal kemarin. Ada rasa kecewa yang mendalam, dan jujur saja tekanan sebagai unggulan pertama di ganda ini sangat terasa di set pertama tadi," ungkap Janice dengan nada bicara emosional namun penuh ketegasan pada Rabu (21/10/2026).
"Janice menambahkan bahwa komunikasi intens dan saling percaya dengan Storm Hunter menjadi kunci penyelamat mereka saat berada di ambang jurang eliminasi. Baginya, Hunter bukan hanya sekadar tandem di lapangan, melainkan sosok penyuntik ketenangan saat kepanikan mulai melanda."
"Storm sangat luar biasa dalam menenangkan saya saat kami kehilangan set pertama. Kami sepakat untuk tidak panik, melupakan kesalahan sebelumnya, dan bertarung poin demi poin. Kami saling pasang badan di lapangan dan bersyukur mentalitas kami tidak goyah sampai poin terakhir di super tie-break," tegasnya dengan blak-blakan.
Kemenangan heroik ini sekaligus memperpanjang tren impresif Janice/Hunter di turnamen berhadiah menggiurkan dalam rangkaian tur Asian Swing akhir musim 2026 ini. Sebelumnya pada babak pertama, duet ini tampil trengginas tanpa ampun dengan melibas pasangan tangguh Brasil-Spanyol, Ingrid Martins/Sara Sorribes Tormo, lewat skor telak 6-2, 6-2.
Bagi publik tenis Indonesia, bertahannya Janice Tjen hingga babak empat besar di turnamen level WTA 250 ini menjadi pelipur lara sekaligus sumber kebanggaan tersendiri. Janice membuktikan bahwa petenis Merah Putih memiliki daya saing tinggi di kasta tertinggi kompetisi tenis putri dunia.
Kini, ujian sesungguhnya bagi status unggulan teratas Janice/Hunter akan segera tiba di babak semifinal. Ketegangan dipastikan belum akan berakhir karena mereka masih harus menanti calon lawan tangguh di babak empat besar nanti.
Janice dan Storm Hunter kini duduk menunggu hasil bentrokan panas perempat final lainnya antara unggulan ketiga Ingrid Neel/Giuliana Olmos melawan duet kuda hitam Isabelle Haverlag/Lilli Tagger yang baru akan bertarung pada Kamis (22/10/2026).
Siapa pun yang akan menjadi penantang mereka di babak semifinal nanti, Janice Tjen telah menegaskan sinyal perang terbuka: ia tidak akan mundur sejengkal pun demi mengamankan tiket ke partai puncak dan membawa pulang trofi juara WTA Japan Open 2026 ke tanah air.
Publik tanah air kini menanti, apakah aksi magis sang srikandi tenis Indonesia akan terus berlanjut hingga tangga podium juara.