Kelompok Houthi menolak tudingan yang dilontarkan Arab Saudi mengenai peluncuran drone ke wilayah Makkah. Kelompok yang didukung Iran ini menyatakan klaim Riyadh tentang pencegatan pesawat nirawak di atas kota suci umat Islam sebagai "kebohongan besar".

Penolakan tersebut muncul setelah koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengumumkan berhasil menangkal dan menghancurkan sebuah drone yang terdeteksi berada di wilayah Makkah pada hari Jumat, 30 Oktober 2026. Riyadh menyatakan bahwa drone tersebut berasal dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa kelompoknya tidak melakukan operasi militer yang menargetkan wilayah Arab Saudi pada hari itu. Pernyataan ini disampaikan melalui saluran Telegram pada Jumat, 30 Oktober 2026, seperti dilaporkan oleh AFP dan Anadolu Agency.

"Klaim musuh, Arab Saudi, mengenai pencegatan sebuah drone di wilayah udara di atas Makkah adalah kebohongan besar dan keterlaluan," kata Saree.

"Ia juga menegaskan bahwa kelompoknya tidak melancarkan serangan terhadap wilayah Saudi pada Jumat tersebut."

"Kelompok kami tidak melancarkan operasi apa pun hari ini (Jumat, 30/10) yang menargetkan wilayah Saudi," ujarnya.

Sebelumnya, koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan sistem pertahanan udaranya dalam menangkal sebuah drone di wilayah Makkah. Pihak koalisi menyatakan bahwa pesawat nirawak tersebut berasal dari kelompok Houthi.

Informasi ini disampaikan melalui akun media sosial X pada Jumat, 30 Oktober 2026.

"Sebuah drone yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi telah dicegat dan dihancurkan di wilayah Makkah," demikian pernyataan koalisi Saudi.

Namun, pihak koalisi tidak memberikan penjelasan rinci mengenai lokasi pasti pencegatan drone tersebut. Mereka juga tidak menyebutkan apakah insiden ini menyebabkan kerusakan pada bangunan atau menimbulkan korban luka.

Hingga laporan ini dibuat, belum ada informasi lebih lanjut mengenai bukti konkret yang mendukung klaim peluncuran drone oleh Houthi. Sementara itu, kelompok Houthi secara tegas membantah tuduhan yang ditujukan kepada mereka.

Perbedaan pernyataan antara kedua pihak membuat insiden ini menjadi sorotan khusus, terutama karena Makkah merupakan salah satu kota paling suci bagi umat Islam di seluruh dunia.

Tuduhan serangan drone dan rudal ke wilayah Makkah bukan kali pertama dilontarkan Arab Saudi. Riyadh sebelumnya juga beberapa kali melaporkan adanya senjata yang diklaim diluncurkan oleh kelompok Houthi menuju kota suci tersebut.

Kelompok Houthi secara berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak pernah menargetkan Makkah maupun Madinah. Kedua kota ini memiliki posisi penting sebagai tempat paling suci dalam agama Islam dan menjadi pusat keimanan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Bantahan terbaru dari Yahya Saree menunjukkan kembali ketegangan dalam klaim antara Arab Saudi dan kelompok Houthi mengenai serangan lintas perbatasan.

Di tengah situasi ini, ketegangan militer antara Arab Saudi dan Houthi dilaporkan meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Serangan yang melibatkan rudal dan drone dikabarkan menyasar berbagai fasilitas, mulai dari instalasi militer, infrastruktur energi, hingga bandara sipil.

Kenaikan ketegangan tersebut tidak lepas dari keterlibatan Arab Saudi dalam konflik Yaman. Riyadh memimpin koalisi militer yang bertujuan melawan kelompok Houthi serta mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Konflik di Yaman telah menjadi sumber utama ketegangan regional, dengan berbagai serangan dan respons militer yang terus memperkeruh situasi di kawasan.

Baru-baru ini, koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi melakukan serangkaian operasi udara terhadap berbagai sasaran militer kelompok Houthi. Langkah tersebut diambil sebagai dukungan langsung terhadap upaya pasukan pemerintah Yaman dalam merebut kembali wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh kelompok bersenjata tersebut.

Di sisi lain, wilayah Arab Saudi sendiri menjadi sasaran serangan balasan yang dikaitkan dengan aktivitas kelompok Houthi. Serangan ini menunjukkan eskalasi yang terus berlanjut dalam konflik regional yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Pada hari Kamis, 29 Oktober 2026, juru bicara koalisi Saudi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara negaranya berhasil mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang dilaporkan ditembakkan oleh kelompok Houthi.

Kedua rudal tersebut terdeteksi bergerak menuju Riyadh, ibu kota Arab Saudi, yang merupakan pusat pemerintahan dan keamanan nasional negara tersebut. Keberhasilan pertahanan udara ini menjadi bukti kapasitas defensif yang diperkuat oleh Saudi dalam menghadapi ancaman serangan balistik.

Insiden-insiden ini menegaskan bahwa situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih sangat rentan terhadap ketegangan dan konflik bersenjata. Kekhawatiran terus muncul mengenai potensi dampak serangan terhadap infrastruktur strategis dan keselamatan warga sipil.

Terkait dengan laporan adanya drone yang terdeteksi di wilayah Makkah, otoritas Saudi menyatakan telah melakukan pencegatan terhadap pesawat tak berawak tersebut. Namun, kelompok Houthi secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam insiden tersebut.

Hingga saat ini, kedua belah pihak tetap bersikeras pada pernyataan masing-masing tanpa adanya kesepakatan atau pengakuan atas kebenaran klaim yang diajukan. Ketegangan semakin memperkuat narasi bahwa konflik masih berlangsung dalam bentuk provokasi dan respons balasan.

Meskipun konflik di wilayah Timur Tengah tetap berlanjut, Arab Saudi menegaskan bahwa ibadah di Tanah Suci tetap aman dan dapat dilaksanakan tanpa gangguan. Keamanan jamaah haji dan umrah menjadi prioritas utama pemerintah Saudi.

Hal ini ditegaskan oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, yang menyatakan bahwa meskipun terjadi eskalasi di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Arab Saudi dan kelompok Houthi, hingga saat ini pihak Saudi menyatakan kondisi tetap aman untuk penerbangan umrah. 'Pertama, kita kan ini eskalasi terkait dengan Timur Tengah terutama antara Saudi Arabia dengan Houthi kan terus jadi ancaman serius. Sampai dengan detik ini, pihak Saudi Arabia menyatakan masih aman untuk penerbangan umrah,' ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).