Suhu panas yang melibatkan Sirkuit Sepang menjadi saksi dari kekecewaan yang dialami pembalap Leopard Racing, Adrian Fernandez, setelah fisiknya menyerah di tengah persaingan sengit Moto3 Malaysia 2026. Adik dari bintang MotoGP Raul Fernandez ini harus menerima hasil finis di posisi ketujuh setelah tidak mampu menghalangi laju Veda Ega Pratama, pembalap muda Indonesia yang sukses meraih podium.

Kekecewaan Adrian Fernandez terlihat jelas dari ekspresi wajahnya setelah melewati garis finis pada putaran ke-19 musim 2026. Dengan harapan besar untuk meraih podium, Fernandez justru menghadapi kenyataan pahit bahwa kondisi tubuhnya tidak mampu menopangnya di momen krusial.

Fernandez memulai balapan dari grid kesembilan, tepat di belakang Veda Ega Pratama. Meski sempat membangkitkan harapan dengan berada di barisan depan, kondisi aspal Sepang yang terkenal berat dengan kelembapan ekstrem mulai menggerogoti daya tahan fisiknya dari lap ke lap.

Alih-alih mempercepat, Fernandez menjadi pembalap pertama yang kehilangan ritme balap saat pertarungan memasuki paruh kedua. Tekanan batin semakin bertambah ketika motor yang dikendarainya tidak memberikan respons optimal untuk menghadapi manuver para rival.

Pertarungan 15 lap di Sepang menampilkan aksi saling menekan antara lima pembalap yang bersaing memperebutkan posisi kedua dan ketiga di belakang Maximo Quiles, sang pemenang. Fernandez sempat berada dalam rombongan tersebut bersama Veda Ega Pratama, Alvaro Carpe (KTM Ajo), Hakim Danish (MSI Racing), dan David Almansa (Intact GP).

Namun, penurunan performa fisik yang signifikan membuat Fernandez perlahan terlempar dari persaingan. Di dalam garasi tim, ia akhirnya mengakui bahwa tubuhnya telah mencapai batas ambang toleransi.

"Ini balapan yang sulit," kata Fernandez, dilansir dari laman resmi Leopard Racing.

"Kombinasi antara kondisi fisik yang tidak bugar dan setelan motor yang kurang menggigit di tikungan tajam Sepang menjadi mimpi buruk ganda yang melumpuhkan ambisinya."

"Kondisi fisik saya kurang baik, dan perasaan saya terhadap motor juga tidak begitu bagus," tuturnya menambahkan.

Ketidakberdayaan Fernandez memaksa dia hanya bisa menyaksikan Veda Ega Pratama dan Alvaro Carpe meraih podium kedua dan ketiga. Sementara rekan setimnya, Guido Pini, terdampar di posisi ketujuh dengan sisa tenaga yang nyaris habis.

Hasil ini memicu berbagai tudingan dari pengamat balap yang mempertanyakan daya juang Fernandez di fase akhir musim. Beberapa isu liar juga muncul, mengaitkan kehilangan fokus mentalnya dengan bayang-bayang nama besar kakaknya di kelas premier.

Kubu Leopard Racing segera merespons dengan membela pembalapnya, menyatakan bahwa kondisi cuaca tropis Malaysia sering kali menjadi tantangan berat bagi pembalap yang tidak dalam kondisi fisik optimal.

Fernandez mengakui rasa kecewa yang menghiasi hatinya karena merasa gagal memenuhi usaha para mekanik tim. Ia secara terbuka mengungkapkan bahwa tingkat persaingan di lintasan Sepang jauh melebihi perkiraan awalnya.

"Kami harus berjuang lebih keras dari yang saya perkirakan, meskipun saya pikir kami masih bisa memberikan lebih banyak lagi," ucap Fernandez.

Para kru mekanik Leopard Racing tidak tinggal diam setelah hasil tersebut. Mereka langsung melakukan evaluasi teknis intensif untuk menganalisis kelemahan motor sebelum berangkat ke seri berikutnya. Fokus kini beralih demi memperbaiki kesalahan di Qatar.

Kompetisi di papan atas Moto3 semakin sengit mengingat kejuaraan dunia memasuki seri-seri penting yang menentukan. Fernandez menyadari bahwa terus-menerus meratapi nasib buruk di Malaysia hanya akan memperparah kondisi psikologisnya menjelang seri berikutnya.

Ia memutuskan untuk tidak terjebak dalam penyesalan. Pembalap asal Spanyol ini bersikap jujur dan ingin menutup lembaran kelam di Sepang. Baginya, meraih poin di posisi ketujuh tetap menjadi pencapaian yang realistis meski kondisi fisiknya tidak optimal.

"Begitulah jalannya hari ini, kami berhasil mengamankan posisi ketujuh, dan sekarang fokus kami sudah tertuju pada Qatar," ucap Fernandez, tegasnya.

Seri Moto3 Qatar 2026 yang berlangsung akhir pekan ini menjadi momen krusial bagi reputasi Adrian Fernandez. Apakah ia mampu bangkit dan membalas dendam di Sirkuit Lusail, atau kegagalan di Sepang akan kembali menghantui? Waktu akan menguji keberanian pembalap tersebut.