Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi demonstrasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada hari Rabu, 28 Oktober 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal tersebut.
Kegiatan demonstrasi sempat memanas ketika massa merobohkan barikade besi yang menjadi pembatas area gedung dewan dan menerobos masuk ke dalam kompleks gedung. Tindakan ini menimbulkan ketegangan di lokasi kejadian.
Setelah berhasil melewati pagar pembatas, para mahasiswa memadati pelataran gedung dan bergerak menuju tangga utama yang mengarah ke ruang rapat paripurna. Di titik tersebut, puluhan personel kepolisian membentuk barisan untuk mencegah demonstran memasuki ruang sidang.
Ketegangan semakin memuncak ketika mahasiswa berusaha mendorong petugas kepolisian yang menutup akses menuju ruang rapat paripurna. Salah seorang peserta aksi menyampaikan keberatan terhadap tindakan yang dianggap menghalangi hak mereka untuk masuk ke gedung yang menjadi tempat kerja para wakil rakyat.
"Ini rumah rakyat Pak Polisi, ini rumah wakil kami gedung dewan ini, kenapa kami dihalangi masuk ke rumah kami sendiri yang dibangun dari hasil pajak rakyat," ujar salah seorang peserta aksi.
Sebagian dari mahasiswa tampak menaiki pagar besi sambil mengibarkan bendera bajak laut dari serial One Piece. Bendera tersebut dibawa sebagai simbol perlawanan dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan para pemangku kebijakan.
Polisi berupaya meredakan ketegangan dengan mengimbau mahasiswa untuk menjaga keamanan selama demonstrasi berlangsung. Seorang anggota kepolisian menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan imbauan agar massa tidak terpancing emosi.
"Tetap jaga keamanan dan ketertiban ya adik-adik," ujar anggota kepolisian tersebut.
Petugas kemudian membuka ruang dialog dengan perwakilan mahasiswa guna meredakan situasi. Setelah proses komunikasi berlangsung, massa setuju untuk mundur secara bertahap menuju halaman gedung dewan.
Aksi demonstrasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar serentak oleh mahasiswa di berbagai daerah pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026. Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga persoalan keamanan di Kota Tasikmalaya.
Salah seorang peserta aksi menegaskan bahwa tujuan demonstrasi adalah menyampaikan aspirasi masyarakat terkait berbagai isu yang dinilai belum terselesaikan. Ia juga menyebut bahwa aksi serupa dilakukan secara bersamaan di sejumlah wilayah lain.
"Kami di sini menyampaikan aspirasi seluruh permasalahan ketidakmampuan pejabat pemerintah yang menyebabkan masyarakat sengsara. Kami demo di sini serentak secara nasional," kata Rendi.
Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah. Mereka juga mengkritik dugaan penyelewengan dana lingkungan hidup yang menurut mereka perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Selain menyampaikan tuntutan melalui orasi, mahasiswa membentangkan sejumlah spanduk di pagar gedung DPRD. Spanduk-spanduk tersebut berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah, penanganan isu lingkungan, serta kondisi sosial masyarakat.
Mahasiswa juga menyoroti persoalan keamanan di Kota Tasikmalaya, khususnya aksi geng motor yang dinilai meresahkan warga. Mereka meminta pemerintah daerah dan kepolisian mengambil langkah tegas untuk mencegah tindak kekerasan di jalanan.
Rendi menyatakan bahwa mahasiswa menginginkan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman tanpa harus khawatir menjadi korban aksi kriminalitas. Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk menindak kelompok yang terbukti melakukan kekerasan.
"Kita juga semua mahasiswa Tasikmalaya minta polisi dan pemerintah memberantas geng motor. Jangan sampai kita rakyat diteror sama berandalan motor seperti itu," kata Rendi.
Kedatangan rombongan mahasiswa dari berbagai kampus turut memadati kawasan sekitar gedung DPRD. Iring-iringan sepeda motor yang membawa bendera almamater masing-masing menambah kepadatan di area lokasi demonstrasi.
Kepadatan massa turut memengaruhi arus lalu lintas di jalan yang berada di depan gedung dewan. Petugas kepolisian lalu lintas dikerahkan untuk mengatur kendaraan dan memberikan arahan kepada pengguna jalan agar menggunakan jalur alternatif guna mengurangi kemacetan yang terjadi di lokasi tersebut.
Setelah menyampaikan tuntutan mereka, para mahasiswa tetap berada di halaman gedung DPRD sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Mereka menegaskan akan mempertimbangkan melakukan aksi lanjutan jika tuntutan yang telah disampaikan tidak mendapatkan respons dari pemerintah maupun pihak legislatif.
Di sisi lain, dalam aksi yang berlangsung di Jakarta, sejumlah mahasiswa dan aktivis berhasil menerobos masuk ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk menyuarakan pendapat mereka. Kelompok tersebut membentangkan sejumlah poster yang mencerminkan kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.
Berdasarkan pengamatan, kelompok mahasiswa dan aktivis berhasil menembus Bundaran HI dengan menaiki puluhan angkutan umum (angkot) melalui Jalan Imam Bonjol. Massa yang sebagian besar mengenakan pakaian berwarna hitam langsung menduduki Bundaran HI untuk menyampaikan lima tuntutan utama mereka.