Panggung Liga Champions 2026/2027 mendadak diguncang gempa bumi sepak bola setelah klub debutan asal Italia, Como, secara brutal mengalahkan tuan rumah Lens dengan skor tak masuk akal 9-1 di Stadion Bollaert-Delelis, Prancis, pada Rabu (4/11/2026) waktu setempat. Kemenangan dengan margin delapan gol ini seketika mengubah stadion yang biasanya bergemuruh menjadi kuburan massal bagi kebanggaan suporter tuan rumah.
Atmosfer pertandingan berubah menjadi teror psikologis yang sangat menyiksa bagi para pemain Lens sejak menit awal laga matchday keempat fase liga tersebut. Gemuruh sorak pendukung Prancis perlahan berganti menjadi keheningan mencekam, disusul gelombang suporter yang memilih meninggalkan tribun lebih awal karena tak sanggup menyaksikan gawang tim kesayangannya diobrak-abrik tanpa ampun.
Skuat yang dilatih Cesc Fabregas bermain dengan sangat agresif seolah sedang berlatih tanding di halaman belakang rumah mereka sendiri. Penyerang asal Yunani, Anastasios Douvikas, menjadi monster paling menakutkan malam itu dengan mencetak hat-trick, disusul pesta gol yang dibagi rata oleh Nico Paz, Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, hingga Matteo Papaccioli.
Bagi kubu tuan rumah, pembantaian 1-9 ini bukan sekadar kekalahan biasa yang bisa dilupakan begitu saja dalam semalam. Hasil tragis ini resmi tercatat sebagai aib terbesar dan kekalahan terburuk yang pernah dialami klub perwakilan Prancis sepanjang sejarah kompetisi kasta tertinggi Eropa.
Tekanan batin yang luar biasa berat terlihat jelas dari raut wajah pelatih Lens, Yannick Cahuzac, yang tampak linglung dan hancur lebur di hadapan awak media. Dengan nada suara bergetar menahan kepedihan, ia mengakui bahwa mentalitas anak asuhnya benar-benar runtuh berkeping-keping.
"Sulit menjelaskannya dalam situasi seperti ini, tetapi perasaan yang paling kuat adalah rasa dipermalukan," ujar Cahuzac.
Usai peluit panjang dibunyikan wasit, suasana di lorong ruang ganti Lens sempat memanas akibat frustrasi mendalam yang menyelimuti para pemain. Tak sedikit pemain yang hanya tertunduk membisu sambil menutupi wajah dengan jersei, meratapi kekalahan ketiga secara beruntun yang mereka telan di kancah Eropa musim ini.
Kekacauan ini langsung memicu isu liar di kalangan suporter mengenai perpecahan internal di kubu Lens yang dinilai kehilangan kehormatan saat bermain di hadapan publik sendiri. Kemarahan fans kian memuncak karena lini pertahanan mereka tampak pasrah dijadikan bulan-bulanan oleh tim tamu.
Di sudut lain, ruang ganti Como justru meledak dalam euforia histeris yang tak terbendung. Tim yang baru musim lalu finis di posisi keempat Serie A itu tak tinggal diam membungkam segala tudingan miring yang sempat menyebut kiprah mereka di kompetisi elite benua biru hanyalah kebetulan semata.
Kemenangan sensasional ini mengantarkan Como menyamai rekor kemenangan terbesar sepanjang sejarah Liga Champions era modern milik Liverpool (8-0 vs Besiktas 2007) dan Real Madrid (8-0 vs Malmo 2015). Yang bikin geleng-geleng kepala, Como menjadi satu-satunya tim dalam sejarah yang sanggup mengukir selisih delapan gol tersebut di kandang lawan.
Como mencatatkan diri sebagai klub kedua setelah Bayern Muenchen yang mampu mencetak sembilan gol dalam satu pertandingan Liga Champions. Namun, klub yang dilatih Fabregas memiliki rekor lebih mengesankan karena hanya kebobolan satu gol, berbeda dengan Bayern yang kebobolan dua gol saat mengalahkan Dinamo Zagreb 9-2 pada 2024 lalu.
Rekor Como memaksa penelusuran sejarah Eropa hingga era Piala Champions 1971 untuk menemukan kesamaan. Menurut data Opta, Como memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Feyenoord, yang mencetak sembilan gol tandang ke gawang Olympiacos setelah menunggu selama 55 tahun.
Pertandingan memecahkan rekor ini juga menyamakan laga Lens vs Como dengan laga legendaris Bayern Muenchen mengalahkan Barcelona 8-2 pada 2020. Menghadapi sorotan global, Fabregas segera menegaskan sikap agar pemainnya tidak terbuai oleh pujian berlebihan.
Mantan pemain Arsenal dan Barcelona itu berbicara dengan nada tenang namun penuh kepuasan atas disiplin tim. ""Tidak ada hal selain yang positif yang bisa kami ambil malam ini. Semuanya berjalan sesuai harapan,"" kata Fabregas, dikutip dari UEFA.
Keganasan Como musim ini bukan sekadar isapan jempol. Sebelumnya, mereka telah mengalahkan RB Leipzig dan Manchester United dengan skor identik 4-1. Kini, Como berada di peringkat keempat klasemen sementara fase grup dengan sembilan poin, menempel ketat tim besar seperti Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Arsenal.
Kemenangan 9-1 di Prancis bukan hanya pesta rekor, tetapi juga pernyataan perang terbuka kepada penguasa lama Eropa. Sinyal kuat ini menunjukkan bahwa tim debutan ini siap menghadapi siapa pun yang meremehkan mereka.
Fabregas menegaskan bahwa performa timnya adalah hasil dari kerja keras dan disiplin, bukan sekadar keberuntungan. Ia menekankan bahwa Como tidak akan terjebak dalam euforia, tetapi tetap fokus pada target jangka panjang dalam kompetisi ini.