Video yang dibagikan oleh Benny Simanjuntak, kerabat dekat artis Jonathan Frizzy, kini menjadi sorotan publik dan memicu perbincangan luas di berbagai media sosial. Dalam video tersebut, emosinya meledak terhadap sekelompok individu yang ia sebut sebagai buzzer, diduga bertanggung jawab atas aksi report massal yang menimpa Sarwendah, mantan istri Ruben Onsu, saat sedang melakukan siaran langsung untuk berjualan secara daring.

Langsung pada kalimat pertama, Benny menyampaikan nada yang tegas dan tajam. Ia tidak hanya menyoroti pelaku di lapangan, tetapi juga pihak-pihak yang diduga mengoordinasikan aksi tersebut dari balik layar.

Benny menegaskan bahwa tindakan report massal terhadap seseorang yang sedang berusaha mencari nafkah melalui siaran langsung bukan sekadar bentuk perundungan digital biasa. Ia menyamakan tindakan ini dengan kejahatan yang secara langsung menyerang sumber penghidupan seseorang.

Menurutnya, menghancurkan akses seseorang untuk bekerja melalui media digital merupakan bentuk penindasan yang serius dan tidak dapat dibenarkan. Ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus dijaga, tetapi tidak boleh digunakan sebagai alat untuk merusak kehidupan orang lain.

Meski marah, Benny tetap menyampaikan batasan yang ia pegang terkait kritik. Ia tidak melarang masyarakat untuk mengkritik atau bahkan memaki, namun menegaskan bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui dalam bentuk ekspresi tersebut.

"Maki-maki apa segala boleh, tapi jangan direport-report, matikan rezeki orang, kalian! Kurang ajar kalian, ya!" katanya, menekankan pentingnya membedakan antara kebebasan berekspresi yang sehat dengan tindakan sistemik yang bertujuan melumpuhkan akses seseorang untuk bekerja secara adil dan layak.

Benny juga menyentil dampak personal dari tindakan tersebut, mengingat di balik akun yang dilaporkan secara massal, terdapat manusia nyata dengan tanggungan keluarga dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

"Kan kasihan orang cari makan, punya anak dua itu," ujarnya, menekankan bahwa setiap akun digital mewakili seseorang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup, bukan sekadar entitas abstrak di dunia maya.

Penutup dari video tersebut disampaikan dengan nada yang lebih spiritual. Benny memberikan peringatan kepada para pelaku, mengingatkan bahwa konsekuensi dari tindakan mereka akan kembali kepada diri mereka dan keluarganya sendiri.

"Lihat deh, ya, ke depannya ya, lihat keluarga kalian nanti, kurang ajar kalian," katanya, menekankan aspek moral dan keadilan yang berlaku secara universal, sekalipun dalam dunia digital yang sering kali terasa anonim.

Di luar emosinya, Benny turut mengkritik budaya digital di Indonesia secara lebih luas. Ia menyebut fenomena report massal terorganisir sebagai salah satu faktor penghambat kemajuan bangsa dalam era digital.

"Itulah makanya Indonesia ini nggak pernah bisa maju, karena masyarakatnya kayak kalian, sampah semua, tahu nggak? Banyak yang kayak kalian, semua bayar-bayaran, bangsa, tahu nggak sih?" ucapnya, menyinggung kekhawatiran adanya pihak yang membayar untuk menggerakkan aksi semacam ini, yang menunjukkan adanya ekonomi gelap di balik perundungan daring.

Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Sarwendah maupun platform digital yang digunakan terkait kejadian report massal tersebut. Oleh karena itu, identitas pelaku dan motif di balik aksi tersebut masih sebatas informasi yang disampaikan Benny dalam video tersebut.

Namun, kemarahan terbuka yang dilontarkan Benny telah membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai dampak nyata dari report massal terorganisir—yang tidak hanya merusak reputasi, tetapi juga berdampak langsung pada mata pencaharian seseorang, jauh melampaui sekadar perdebatan di kolom komentar.

Untuk kalian buzzer-buzzer anjing! Siapapun kalian, siapapun pimpinan kalian, kalian itu sampah bangsa, tahu nggak?

Orang live cari makan, kalian report-report, itu kan kelakuan kan lebih dari dajjal, lebih dari iblis, tahu nggak?