Menjaga kesehatan jantung ternyata bukan hanya soal rajin berolahraga atau menghindari stres. Apa yang masuk ke dalam tubuh setiap hari juga memiliki peran besar dalam menjaga organ vital ini agar terus bekerja secara optimal. Sayangnya, beberapa makanan dan minuman yang sering dikonsumsi sehari-hari dapat mengandung gula, garam, atau lemak dalam jumlah yang perlu diwaspadai.
Ahli jantung Dr. Sanjay Bhojraj menyebut bahwa penyumbatan arteri serta gangguan metabolisme menunjukkan adanya pola menarik dari pasien-pasiennya. Sebagian orang sudah berusaha hidup sehat dengan rutin berolahraga dan mengelola stres, tetapi masih menghadapi masalah kardiovaskular. Salah satu hal yang perlu dievaluasi adalah kebiasaan makan setiap hari.
Menurutnya, tampilan kemasan atau klaim kesehatan pada produk tidak selalu mencerminkan kualitas nutrisinya secara keseluruhan. Label seperti 'heart smart', 'plant-based', atau 'rendah lemak' tetap harus dicermati karena produk tersebut bisa saja masih mengandung gula tambahan, natrium, atau lemak jenuh dalam jumlah tinggi.
Melansir CNBC Make It, ada sembilan jenis makanan dan minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi secara rutin. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Sereal sarapan dengan kandungan gula tinggi sering menjadi pilihan untuk sarapan karena praktis dan mudah disiapkan. Namun, tidak semua sereal memiliki nutrisi yang sama. Beberapa produk mengandung gula tambahan cukup tinggi sehingga perlu diperhatikan, terutama jika dikonsumsi setiap pagi.
Asupan gula berlebih dapat menyebabkan peningkatan berat badan serta gangguan metabolisme yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Sebagai alternatif, kamu bisa memilih oat utuh atau steel-cut oats. Tambahkan potongan buah dan sedikit kayu manis agar rasanya lebih enak tanpa harus bergantung pada gula tambahan.
Daging olahan yang tinggi garam seperti ham, salami, bacon, dan aneka produk serupa sering digunakan sebagai isian sandwich atau menu sarapan. Meski praktis dan mudah ditemukan, jenis makanan ini sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Beberapa produk daging olahan mengandung natrium tinggi serta bahan pengawet tertentu. Jika ingin membuat sandwich yang lebih seimbang, pilihlah daging ayam atau kalkun yang dimasak sendiri. Kamu juga bisa menambahkan sayuran untuk meningkatkan asupan serat.
Minuman bersoda dan minuman energi kerap dipilih untuk menemani aktivitas atau mengusir rasa kantuk. Meski terasa menyegarkan, beberapa produk mengandung gula tambahan dan kalori dalam jumlah besar.
Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis secara berlebihan berkaitan dengan faktor risiko seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut juga memiliki hubungan erat dengan kesehatan jantung. Untuk pilihan sehari-hari, air putih tetap menjadi pilihan utama.
Jika ingin variasi rasa, kamu bisa mencoba air soda dengan perasan lemon atau teh herbal tanpa gula. Pemilihan makanan dan minuman yang tepat dapat membantu menjaga fungsi jantung agar tetap optimal dalam jangka panjang.
Selain itu, penting untuk memperhatikan label nutrisi pada setiap produk yang dikonsumsi. Meski terlihat menarik dari segi penampilannya, tidak semua klaim kesehatan benar-benar memberikan manfaat bagi tubuh secara keseluruhan.
Dengan menghindari konsumsi berlebihan dari makanan dan minuman yang merugikan serta memilih pangan yang lebih seimbang, seseorang bisa meningkatkan peluangnya untuk menjaga kesehatan jantung secara efektif.
4. Makanan Cepat Saji yang Digoreng Kentang goreng serta makanan lainnya yang dimasak dengan metode deep-frying memang sulit untuk ditolak, terutama saat sedang berkumpul bersama teman-teman. Namun, jenis makanan ini biasanya mengandung kalori dan lemak dalam jumlah tinggi. Mengonsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan asupan kalori harian melebihi kebutuhan tubuh. Tidak berarti kamu harus sepenuhnya menghindari makanan favoritmu. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membatasi frekuensi konsumsinya serta memilih alternatif seperti makanan yang dipanggang dengan minyak secukupnya.
5. Roti Putih dan Karbohidrat Olahan Roti putih, crackers, serta produk lainnya yang terbuat dari tepung olahan sering kali menjadi bagian dari menu sehari-hari. Namun, jenis roti ini umumnya memiliki kandungan serat lebih rendah dibandingkan roti yang berasal dari biji-bijian utuh. Karbohidrat olahan cenderung cepat dicerna oleh tubuh. Oleh karena itu, mengganti roti putih dengan roti berbahan 100 persen biji-bijian utuh bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan asupan serat. Pilihan tersebut dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.
6. Margarin dan Olesan Pengganti Mentega Margarin kerap digunakan sebagai pengganti mentega dalam membuat roti terasa lebih lezat. Namun, kandungan lemak pada produk ini perlu diperhatikan secara cermat. Lemak trans yang ada di beberapa margarin dapat menurunkan HDL atau kolesterol baik sekaligus meningkatkan LDL atau kolesterol jahat. Meskipun demikian, komposisi margarin bervariasi antar merek. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa label nutrisinya sebelum membeli. Minyak zaitun extra-virgin juga bisa menjadi pilihan alternatif sebagai sumber lemak dalam pola makan harian.
7. Produk Pengganti Daging yang Terlalu Banyak Diproses Makanan berbasis tumbuhan atau plant-based semakin populer sebagai pengganti daging. Namun, kata 'plant-based' pada kemasan tidak otomatis menjamin produk tersebut minim proses atau lebih sehat. Beberapa jenis produk pengganti daging mengandung natrium, minyak, dan bahan tambahan lainnya. Jika ingin mendapatkan protein nabati dari bahan yang lebih alami, kamu bisa memilih lentil, kacang-kacangan, atau tofu. Bahan-bahan ini juga mudah diolah menjadi berbagai menu rumahan.
8. Sup Kalengan dengan Kandungan Natrium Tinggi Sup kalengan sering kali dipilih sebagai solusi praktis ketika waktu untuk memasak terbatas. Namun, beberapa merek sup kalengan memiliki kadar natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium yang berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke. Sebagai alternatif, kamu bisa membuat sup sendiri menggunakan sayuran segar, kacang-kacangan, serta rempah-rempah alami. Dengan cara ini, penggunaan garam juga lebih mudah dikendalikan.
9. Krimer Kopi dengan Berbagai Rasa Bagi para pecinta kopi, krimer rasa vanila, karamel, atau hazelnut mungkin menjadi pilihan untuk menambah cita rasa minuman tersebut. Namun, beberapa produk jenis krimer ini mengandung gula tambahan, minyak, dan bahan perisa yang sebaiknya diperhatikan jika digunakan secara rutin. Jika ingin mengurangi asupan gula harian, susu almond atau oat milk tanpa pemanis bisa menjadi alternatif yang lebih sehat. Tetaplah memeriksa label nutrisinya karena komposisi setiap produk dapat berbeda satu sama lain.
10. Makanan Cepat Saji yang Digoreng Kentang goreng serta makanan lainnya yang dimasak dengan metode deep-frying memang sulit untuk ditolak, terutama saat sedang berkumpul bersama teman-teman. Namun, jenis makanan ini biasanya mengandung kalori dan lemak dalam jumlah tinggi. Mengonsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan asupan kalori harian melebihi kebutuhan tubuh. Tidak berarti kamu harus sepenuhnya menghindari makanan favoritmu. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membatasi frekuensi konsumsinya serta memilih alternatif seperti makanan yang dipanggang dengan minyak secukupnya.
11. Roti Putih dan Karbohidrat Olahan Roti putih, crackers, serta produk lainnya yang terbuat dari tepung olahan sering kali menjadi bagian dari menu sehari-hari. Namun, jenis roti ini umumnya memiliki kandungan serat lebih rendah dibandingkan roti yang berasal dari biji-bijian utuh. Karbohidrat olahan cenderung cepat dicerna oleh tubuh. Oleh karena itu, mengganti roti putih dengan roti berbahan 100 persen biji-bijian utuh bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan asupan serat. Pilihan tersebut dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.
12. Margarin dan Olesan Pengganti Mentega Margarin kerap digunakan sebagai pengganti mentega dalam membuat roti terasa lebih lezat. Namun, kandungan lemak pada produk ini perlu diperhatikan secara cermat. Lemak trans yang ada di beberapa margarin dapat menurunkan HDL atau kolesterol baik sekaligus meningkatkan LDL atau kolesterol jahat. Meskipun demikian, komposisi margarin bervariasi antar merek. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa label nutrisinya sebelum membeli. Minyak zaitun extra-virgin juga bisa menjadi pilihan alternatif sebagai sumber lemak dalam pola makan harian.
13. Produk Pengganti Daging yang Terlalu Banyak Diproses Makanan berbasis tumbuhan atau plant-based semakin populer sebagai pengganti daging. Namun, kata 'plant-based' pada kemasan tidak otomatis menjamin produk tersebut minim proses atau lebih sehat. Beberapa jenis produk pengganti daging mengandung natrium, minyak, dan bahan tambahan lainnya. Jika ingin mendapatkan protein nabati dari bahan yang lebih alami, kamu bisa memilih lentil, kacang-kacangan, atau tofu. Bahan-bahan ini juga mudah diolah menjadi berbagai menu rumahan.
14. Sup Kalengan dengan Kandungan Natrium Tinggi Sup kalengan sering kali dipilih sebagai solusi praktis ketika waktu untuk memasak terbatas. Namun, beberapa merek sup kalengan memiliki kadar natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium yang berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke. Sebagai alternatif, kamu bisa membuat sup sendiri menggunakan sayuran segar, kacang-kacangan, serta rempah-rempah alami. Dengan cara ini, penggunaan garam juga lebih mudah dikendalikan.
15. Krimer Kopi dengan Berbagai Rasa Bagi para pecinta kopi, krimer rasa vanila, karamel, atau hazelnut mungkin menjadi pilihan untuk menambah cita rasa minuman tersebut. Namun, beberapa produk jenis krimer ini mengandung gula tambahan, minyak, dan bahan perisa yang sebaiknya diperhatikan jika digunakan secara rutin. Jika ingin mengurangi asupan gula harian, susu almond atau oat milk tanpa pemanis bisa menjadi alternatif yang lebih sehat. Tetaplah memeriksa label nutrisinya karena komposisi setiap produk dapat berbeda satu sama lain.
16. Makanan Cepat Saji yang Digoreng Kentang goreng serta makanan lainnya yang dimasak dengan metode deep-frying memang sulit untuk ditolak, terutama saat sedang berkumpul bersama teman-teman. Namun, jenis makanan ini biasanya mengandung kalori dan lemak dalam jumlah tinggi. Mengonsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan asupan kalori harian melebihi kebutuhan tubuh. Tidak berarti kamu harus sepenuhnya menghindari makanan favoritmu. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membatasi frekuensi konsumsinya serta memilih alternatif seperti makanan yang dipanggang dengan minyak secukupnya.
17. Roti Putih dan Karbohidrat Olahan Roti putih, crackers, serta produk lainnya yang terbuat dari tepung olahan sering kali menjadi bagian dari menu sehari-hari. Namun, jenis roti ini umumnya memiliki kandungan serat lebih rendah dibandingkan roti yang berasal dari biji-bijian utuh. Karbohidrat olahan cenderung cepat dicerna oleh tubuh. Oleh karena itu, mengganti roti putih dengan roti berbahan 100 persen biji-bijian utuh bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan asupan serat. Pilihan tersebut dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.
18. Margarin dan Olesan Pengganti Mentega Margarin kerap digunakan sebagai pengganti mentega dalam membuat roti terasa lebih lezat. Namun, kandungan lemak pada produk ini perlu diperhatikan secara cermat. Lemak trans yang ada di beberapa margarin dapat menurunkan HDL atau kolesterol baik sekaligus meningkatkan LDL atau kolesterol jahat. Meskipun demikian, komposisi margarin bervariasi antar merek. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa label nutrisinya sebelum membeli. Minyak zaitun extra-virgin juga bisa menjadi pilihan alternatif sebagai sumber lemak dalam pola makan harian.