Simposium Of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) secara resmi memberikan gelar kehormatan Fellow of Indonesia Health Resilience Association (FIHRA) kepada sebanyak 56 orang yang telah terpilih. Penganugerahan ini merupakan langkah nyata dalam upaya membangun serta memperkuat sistem ketahanan kesehatan di Indonesia.

Ketua Umum SIERA, Mayjen TNI (Purn) Dr. Dr. Dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi menjelaskan bahwa pemberian gelar FIHRA dibagi menjadi dua jalur utama. Pertama adalah bentuk penghargaan khusus (honoris causa), diberikan langsung kepada tokoh-tokoh yang telah berdedikasi sepanjang hidupnya demi meningkatkan ketahanan kesehatan nasional.

Kedua, jalur ini juga mencakup proses pengabdian dan pelatihan bagi para profesional yang ingin aktif memberikan kontribusi di bidang tersebut. Jalur ini bertujuan untuk memperluas partisipasi dari berbagai kalangan dalam upaya peningkatan sistem ketahanan kesehatan Indonesia.

""Teman-teman yang saat ini mendapatkan gelar itu sudah melalui pendidikan dan pelatihan yang kita lakukan berhari-hari sejak bulan Juni. Ada pre-test, post-test, hingga workshop offline. Setelah itu dilakukan ujian yang harus memenuhi kriteria kelulusan. Jadi gelar ini bukan sekadar pemberian, tetapi atas usaha dari para penerima,"" ujar Mayjen dr. Dian saat ditemui di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).

Proses seleksi serta pelatihan ketat dengan durasi sekitar 3 hingga 4 bulan ini diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari beragam latar belakang profesional. Mulai dari dokter spesialis, doktor, hingga profesor turut ambil bagian dalam proses tersebut.

Para penerima gelar FIHRA juga hadir dalam acara Climate Resilience and Adaptation (CRA-3) sebagai bentuk dukungan untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi dan praktisi kesehatan. Kehadiran mereka bertujuan agar para peserta dapat melihat langsung perkembangan inovasi terkini.

""Negara itu akan kuat kalau kesehatannya kuat. Kita berupaya bagaimana masyarakat menjadi sehat mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Kami berharap setelah mendapatkan gelar ini, mereka benar-benar mengabdikan diri melalui berbagai inovasi dan kreasi,"" tegas Dian.

"Dalam kesempatan yang sama, salah satu penerima gelar sekaligus mahasiswa bimbingannya di Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM), Syamsul Jahidin, mengungkapkan apresiasinya atas inisiasi gagasan tersebut. Menurutnya, langkah ini menjadi tindakan konkret anak muda dan kalangan akademisi dalam menyelamatkan bangsa dari ancaman krisis kesehatan." ""Beliau ini dosen kami yang menggagas program-program ini, termasuk bagaimana menjaga stabilitas resiliensi ketahanan kesehatan masyarakat yang terdampak karhutla. Ini salah satu bentuk pengabdian nyata untuk Republik Indonesia,"" pungkas Syamsul.